[Fanfiction] Best Attention

Title : Best Attention

Cast : Baekhyun (EXO-K) │ Krystal (f(x))

Genre : Romance │ Fluff

Length : Ficlet

Rate : PG-13

©sweetynis99(JungSangNeul)©

***

Best Attention

            Gadis itu masih mengayun langkahnya gontai. Bibirnya ia kerucutkan sambil menendang-nendang kerikil yang ada dihadapannya. Ia menggigit bibirnya ketika kembali mengingat kejadian itu. Ia ingin berteriak saja dan kabur dari indahnya dunia—indah? Tidak baginya. Ia ingin melarikan diri saja dari situasi yang menjepitnya sekarang. Dengan airmata yang hampir meluber, ia berlari memasuki sekolahnya.

Sejujurnya jika ditanya, ia juga tidak mau masuk sekolah ditengah suasana sekacau ini. Dengan perasaan yang ingin marah, tapi entah mau diluapkan kepada siapa. Ia memasuki kelasnya, menatap sekeliling. Masih sepi. Ia memilih berangkat lebih pagi, memang. Sengaja memilih waktu saat orang-orang di rumahnya belum bangun.

“Krystal,” Seseorang memanggilnya, tapi ia enggan untuk menoleh sekalipun.

“Krys,” Sapaan lembut itu terulang oleh orang yang sama. Tapi Krystal tetap diam, tidak merubah posisinya sedikitpun.

Kini terasa ada yang menduduki bangku disebelahnya.

“Neo gwenchana?” tanya namja itu, sambil memegang tangan Krystal. Tapi Krystal segera membuang muka dan melepaskan tangan namja itu dari tangannya. Dia sedang ingin sendiri saat ini.

“Ah, kau pasti bercanda, kan? Ya, kan? Aish, tapi hari ini aku tidak ulang tahun, Krys. Jadi, jangan membuat kejutan..” ujar namja itu sambil tersenyum menatap Krystal. Tapi Krystal masih betah dalam geming seribu bahasanya.

“Ayolah, Krys. Aku sedang tidak punya coklat untuk menghiburmu. Ah, setauku kemarin aku masih dapat keberuntungan dari horoskopku, kenapa kau jadi mendiamkanku begini? Pasti horoskop itu bohong, ah, akan kulabrak mereka nanti! Awas saja!” omel namja itu sendiri. Ini caranya menghibur Krystal sebenarnya, tapi respon yang ia dapatkan lain.

“Tidak bisakah kau diam, oppa? Aku pusing!” teriak Krystal tepat dihadapan lelaki bernama Baekhyun itu.

“Ya! Siapa yang mengajarimu membentak namjachingu sendiri?” seru Baekhyun. Krystal memicingkan matanya sejenak, kemudian bangkit. Ia benar-benar ingin sendiri sekarang. Jadi lebih baik ia tidak disini. Tapi langkahnya sudah lebih dulu diinterupsi oleh genggaman tangan Baekhyun pada lengannya.

“Kau kenapa, sih? Siapa yang mengajarimu tidak menjawab pertanyaan orang lain?” ujar Baekhyun, lirih tapi tegas. Itupun terpaksa, sebenarnya dia tidak bisa mengatakan itu pada kekasihnya, tapi dia tidak akan tau apa masalahnya kalau tidak begini caranya.

“Tidak ada. Lepaskan.” Krystal mencoba menarik tangannya dari genggaman Baekhyun, ia benar-benar tidak mau airmatanya tumpah disini.

“Lepaskan, oppa!” teriak Krystal. Untung saja di kelas hanya ada mereka berdua, jadi tidak ada yang memperhatikan mereka berdua.

“Lepaskan, oppa! Lepas…” Volume suara Krystal melirih seiring jatuhnya butiran airmata dari pelupuk matanya. Baekhyun terkesiap, ia tidak tau perlakuannya ini akan membuat Krystal menangis. Apa ia keterlaluan? Ia bangkit kemudian memeluk Krystal.

“Maafkan aku. Aku punya salah, ya? Jangan menangis,” Baekhyun bahkan terlalu panik sehingga bingung harus bagaimana untuk meredakan tangisan gadis itu. Krystal terisak dalam pelukan Baekhyun. Ia sebetulnya juga tidak ingin membingungkan namjachingunya ini, hanya saja ia tidak mau masalah keluarganya diketahui orang lain, bahkan meski itu kekasihnya sendiri.

“Salahku apa? Ceritakan, ya.” pinta Baekhyun, namun Krystal menggeleng. Ia melepaskan pelukan Baekhyun lalu menghapus airmatanya.

“Kau tidak punya salah apa-apa, oppa. Maaf, aku membuatmu bingung.” ucap Krystal, sambil mencoba tersenyum.

“Lalu, kenapa kau menangis?” tanya Baekhyun. Krystal menggeleng lagi, “Tidak ada apa-apa. Semuanya baik-baik saja.”

“Bohong. Ayolah, Krys. Kalau aku ada salah, biar aku perbaiki. Jika kau ada masalah, ceritalah. Aku mungkin memang tidak yakin bisa memecahkannya, tapi minimal bebanmu akan terkurangi setelah menceritakannya. Ne?”  pinta Baekhyun lagi.

“Aish, sok dewasa! Biasanya juga kau yang suka merengek-rengek padaku. Jadi mana mungkin keadaan berbalik jadi aku yang lebih manja?” sahut Krystal. Baekhyun mengacak rambutnya.

“Tentu saja mungkin. Aku kan juga bisa menanggapi keluhan orang. Ayolah, cerita. Ya?” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, bertingkah semanis mungkin.

“Geurae, geurae. Jangan mengeluarkan jurus aegyomu yang menjijikkan itu lagi. Aku bisa muntah.” jawab Krystal.

“Tapi kau itu harus bersyukur mempunyai namjachingu babyface sepertiku. Kan kau jadi tidak dikira pacaran dengan om-om..”

“Yah, terserahmu saja, lah. Jadi cerita tidak?” Baekhyun mengangguk mantap.

“Aku mau kabur saja. Kalau perlu melenyapkan diri dari dunia.” Krystal mengawali. Mata Baekhyun melebar. “Tidak boleh! Nanti aku tidak punya yeojachingu lagi..” rengeknya kemudian.

“Tapi mana mungkin aku melarikan diri? Bunuh diri saja tidak berani. Tapi bagaimana? Aku sudah bosan hidup dirumah itu.” lirih Krystal.

“Hm? Bosan? Kau pikir Eomma dan Appamu tidak akan sedih jika mendengar ucapanmu tadi? Mereka akan membutuhkanmu saat umurnya sudah tidak muda lagi, chagi.” kata Baekhyun.

“Tapi memang begitu kenyataannya, oppa. Salah sendiri mereka membuatku bosan. Mana bisa mereka seenaknya saja bertengkar dihadapanku? Bagaimanapun aku tidak ingin mereka berpisah, dan aku selalu ingin menangis kalau mereka bertengkar. Mereka sama sekali tidak peka akan perasaanku! Mereka tidak peduli padaku!” cerita Krystal. Airmatanya hampir menitik lagi.

Baekhyun mengusap lembut rambut Krystal. “Ada masalah itu wajar. Mungkin saat itu mereka kurang bisa mengontrol emosi, jadi lupa kalau disitu ada dirimu. Tapi orangtua tidak pernah menyepelekan anaknya, chagi.”

“Kalau mereka tidak mau menyepelekan aku, kenapa masih diam-diaman begitu? Mana mungkin aku tahan oppa? Rumah sudah seperti neraka bagiku. Aku tidak suka..” Baekhyun tersenyum mendengarnya. Kekasihnya yang biasanya lebih dewasa darinya ini punya sisi childish juga ketika menghadapi persoalan.

“Mereka ngambek seperti anak kecil?” Krystal mengangguk. “Padahal kan mereka sudah tua.” gumamnya. Baekhyun mati-matian menahan tawa ketika mendengarnya.

“Aku punya ide untuk menyatukan mereka lagi!” Baekhyun menjentikkan jarinya setelah terdiam cukup lama. “Nde? Apa, oppa?” tanya Krystal bertepatan dengan bunyi bel pelajaran pertama.

“Kuceritakan waktu istirahat. Belajar dengan baik, Krystal-ah. Awas kalau konsentrasimu buyar hanya karena masalah itu!” Baekhyun mengusap kepala Krystal, kemudian kembali ke tempat duduknya. Krystal mengerucutkan bibirnya. Dia kan ingin mendengar rencananya sekarang…

***

            Keesokan harinya.

Hari Minggu pagi.

Krystal menyisir rambut panjangnya. Bersiap dengan baju pink berlengan sesiku dan celana jeans hitamnya. Ia tersenyum cerah, tidak seperti hari kemarinnya. Sambil merapikan bajunya, ia menuju meja makan dengan bersenandung kecil. Dilihatnya, Eomma dan Appanya masih makan dalam diam. Apa enaknya makan nggak pakai ngobrol, sih?, pikir Krystal. Bunyi deru mesin mobil membuat Krystal membinarkan matanya.

Orang yang ditunggunya pagi ini sepertinya sudah datang. Saat ia membuka pintu rumahnya, benar saja. Baekhyun, orang yang ia tunggu sudah berdiri tegap di depan pintu.

“Hai, chagi. Sudah siap?” tanya Baekhyun sambil memamerkan senyumnya.

“Ne, sudah. Ayo masuk!” Krystal menarik tangan Baekhyun untuk memasuki rumahnya lebih dalam.

“Eomma, appa,” panggil Krystal, berhasil memecahkan dinding kebekuan yang tercipta sedari tadi.

“Nde?” jawab mereka bersamaan. Kemudian mereka saling bertatapan, dan kembali membuang muka. Baekhyun yang melihatnya menelan ludah, agak terkejut rupanya.

“Ini siapa, sayang?” tanya Nyonya Jung mendahului pembicaraan. Baekhyun segera membungkukkan badannya. “Choneun Byun Baekhyun imnida, eommonim, abeoji.” ucap Baekhyun kemudian.

Tuan dan Nyonya Jung agak terkejut dengan panggilan yang disebutkan Baekhyun. Eommonim? Abeoji? Baekhyun yang sepertinya mengerti arti tatapan dua orangtua Krystal itu tersenyum. “Tidak apa-apa kan, kalau saya memanggil seperti itu? Hanya untuk mengakrabkan saja,” kata Baekhyun, yang menuai senyum dari Nyonya Jung.

“Ne, gwenchana. Tapi, kau ini temannya Krystal atau—“

“Kebetulan saya dan Krystal sudah berpacaran, eommonim. Maaf saya baru datang sekarang.” ujar Baekhyun, memutus ucapan Nyonya Jung.

“Wah, jadi kau, pacarnya Krystal itu? Pantas saja, kau benar-benar mirip aktor kesukaanku, Song Joong Ki. Duduklah. Pasti kau belum makan, kan?” Tuan Jung yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara.

Baekhyun tersenyum, mengedipkan sebelah matanya pada Krystal, kemudian menduduki kursi yang kosong. Krystal hanya mengedikkan bahunya melihat tingkah konyol kekasihnya, kemudian ia menduduki kursi disebelah Baekhyun—setelah sebelumnya meminta Eommanya pindah duduk disebelah sang Appa. Kalau begini kan, pintu perdamaian diantara mereka semakin terbuka lebar.

“Ah, jadi abeoji menyukai aktor Song Joong Ki? Apakah saya begitu mirip dengannya?” tanya Baekhyun. Tuan Jung mengangguk.

“Kurasa kau kembar dengannya. Haha.. Oh ya, jangan terlalu berbicara formal. Anggap saja sudah lama kenal dengan kami,” ujar Tuan Jung. Baekhyun hanya mengangguk sekilas.

“Makanlah. Masakan buatan eomma Krystal itu dijamin lezat,” lanjut Tuan Jung kemudian. Nyonya Jung hanya tersenyum, “Appa bisa saja. Biasa saja, Baekhyun-ya.”

Krystal hampir saja tertawa kalau saja ia tak mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Ia masih ingat kalau kemarin perang dunia ketiga hampir saja pecah antara orangtuanya. Bahkan tadi pagi mereka masih saling bermusuhan. Bagaimana mungkin sekarang sudah menyatu lagi?

“Tidak, ini enak sekali. Benar kata abeoji. Ah ya, eommonim, abeoji, karena hari ini Minggu dan cuaca sedang cerah, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kebetulan aku membawa mobil,” kata Baekhyun menawari. Sebenarnya ini memang rencana intinya dengan Krystal hari ini.

“Boleh, boleh.” Tuan Jung mengangguk menyetujui.

“Eomma tidak usah ikut, ya.” kata Nyonya Jung. Krystal menggeleng. “Tidak bisa! Eomma harus ikut, kalau tidak nanti tidak seru. Ya kan, oppa?” sahut Krystal, disusul anggukan Baekhyun.

“Geurae, eomma akan ikut. Tapi sekarang dimakan dulu ya, sarapannya.”

***

            “Eomma, appa, aku dan Baekhyun-oppa jalan kesana dulu, ya. Eomma dan appa boleh kemana saja, nanti kita kembali lagi kesini. Ne?” pinta Krystal ketika mereka sudah tiba di tempat tujuan. Tuan dan Nyonya Jung hanya mengangguk mengiyakan.

“Jaga Krystal baik-baik, ya, Baekhyun-ah,” kata Tuan Jung. “Siap, abeoji!” Baekhyun hormat seperti tentara, kemudian menarik tangan Krystal untuk segera meninggalkan orangtuanya. Dilihatnya dari kejauhan, eomma dan appa Krystal sedang menuju kedai mie jjangmyeon. Ia tadi memilih tempat ini—taman pusat kota—karena ia tau, disini akan lebih segar dan mereka tidak perlu berformal-formal untuk mengakrabkan orangtua Krystal kembali.

“Oppa, terima kasih, ya,” ujar Krystal ketika mereka menduduki ayunan taman berdua.

“Ah, ini urusan gampang. Makanya, kenapa kau harus menceritakan masalahmu padaku. Karena mungkin saja aku bisa membantu menyelesaikannya. Coba saja kalau kau tidak cerita kemarin, pasti rumahmu itu masih penuh dengan amarah. Hahaha…” Tawa Baekhyun menggema diakhir kalimat.

“Ne, arayo.”

“Dan kau juga harus berterima kasih pada Tuhan, karena memberikan kekasih seperti aku. Kalau tidak ada aku, kau pasti masih menangis sesenggukan tanpa ada yang mau mendengarkan…” Baekhyun masih berceloteh panjang lebar ketika Krystal beranjak untuk membeli ice cream.

“Sudah selesai, ngocehnya? Nih, ice cream. Kau pasti lelah kan, ngomong segitu panjangnya?” Krystal menyerahkan salah satu ice cream yang dibelinya.

“Ya! Jadi kau tadi meninggalkanku, begitu?” Krystal mengangguk.

“Kau mirip kakek-kakek sih, ngomel terus..” Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Tetapi, sesaat kemudian, ia mencium pipi Krystal cepat.

“Ya!” seru Krystal. “Salah sendiri meninggalkanku sendirian, mengataiku kakek-kakek pula. Aku kan masih muda,” sahut Baekhyun. Krystal menahan tawanya, kemudian mencolekkan ice creamnya ke muka Baekhyun.

“Hey!” Mereka pun jadi perang ice cream.

“Eomma, appa, sudah puas, kan? Pulang, yuk.” ajak Krystal ketika ia dan Baekhyun sudah kembali ke tempat mereka semua berpencar tadi—setelah mencuci muka yang belepotan ice cream tentunya.

“Sudah. Ayo!” Nyonya Jung tersenyum, sementara Tuan Jung merangkul bahunya.

“Eh, abeoji, eommonim. Jangan dulu! Kita foto bersama dulu sebelum pulang.” ajak Baekhyun. Krystal mengerutkan dahinya, ada-ada saja tingkah namjachingunya ini.

Mereka pun berfoto bersama.

***

            Krystal mengayun langkahnya dalam kebimbangan. Memikirkan perkataan Appa dan Eommanya kemarin malam justru membuatnya tambah pusing dan malas bersekolah. Tapi, hari ini ada ulangan Biologi, tidak mungkin ia membolos. Ulangan menyusul itu tidak enak, ia tidak mau merasakannya untuk kedua kalinya. Ia menghela nafas, kemudian memasuki kelasnya. Diedarkannya pandangan, disini hanya ada Baekhyun. Memang namja itu selalu datang pagi.

“Oppa!” seru Krystal kemudian menduduki tempat disebelah Baekhyun. Baekhyun mengalihkan pandangannya yang fokus pada diktat Biologinya.

“Nde? Wae geurae?” tanya Baekhyun setelah meletakkan bukunya.

“Ada masalah!” seru Krystal. Mata Baekhyun mendelik. Baru saja masalah yang kemarin selesai. Bagaimana mungkin kekasihnya ini bisa mempunyai banyak masalah setiap harinya?

“Lagi? Apa?” tanya Baekhyun.

“Appa dan eomma terlanjur menyukaimu. Mereka bilang, aku tidak boleh berhubungan dengan siapapun lagi kecuali denganmu. Menikah pun katanya harus denganmu. Uh, mereka seenaknya sendiri. Aku kan masih SMA, masa sudah membicarakan pernikahan? Denganmu pula. Aku kan bisa saja mencari pria lain, bisa saja putus denganmu.” dengus Krystal. Sementara Baekhyun yang mendengarnya tersenyum, namun kemudian menyentil dahi Krystal.

“Aw! Appo!” seru Krystal sambil mengusap-usap dahinya.

“Aku mencari solusi, bukan sentilan, oppa.” Krystal cemberut.

“Lagipula salahmu sendiri. Kau mendoakan kita cepat putus, begitu?”

“Ya kita kan masih kelas 12, oppa. Belum kuliah. Kemungkinan kita putus masih sangat besar.” sahut Krystal.

“Sebentar lagi kita lulus, chagi. Menikah sambil kuliah boleh juga,” gumam Baekhyun, sambil menerawang sekitar. Krystal membelalakkan matanya.

“Hah, aku bisa gila!” serunya.

“Kalau begitu, pertemukan saja orangtua kita berdua. Mempersiapkan dari sekarang kan tidak ada salahnya. Lagipula orangtuamu sepertinya sudah fixed denganku. Hahaha.. Ya, chagi?” Baekhyun merangkul Krystal, mengedipkan sebelah matanya.

“Menikah? Tidaaaak!!!!!” Krystal berteriak dalam hati.

Fict End.

Oke, buat para BaekStal Shipper semoga terhibur. Dan aku harap banget komentarnya ya. Your comment is my breath XD

Lebay ya? Okelah, happy reading chingudeul…. ^^

Iklan

6 pemikiran pada “[Fanfiction] Best Attention

  1. Aww Baekstal, kkk

    Ah sebenernya aku udah baca ff ini dari beberapa minggu yang lalu, tapi aku baca lewat hp dan baru punya kesempatan komen sekarang, gapapa kan? kk~

    Ah orangtua kle lucu banget disini -,- dan Baekhyun, aww Baekhyun<3 karakter dia di sini menjurus banget sama mukanya/? /apaini

    Ah aku meleleh bacanyaaa, aku suka scene Kle ngehindarin Baek diawal, aww itu dapet banget feelnya, aku selau suka scene greget kek gitu hahaha

    Okay, this is so nice! /lokatasosis?–

    Keep going:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s