[Fanfiction] Mianhae… (Part 4-End)

Mianhae

Mianhae… (Part 4–End)

Cast: Kim Jonghyun (SHINee) and You (Reader)

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: Siapa saja boleh ^^

Length: Part

NB: All You (Reader) P.O.V

Author: Jung Sang Ri

 

…FLASHBACK PART 3…

“Tidak ada apa-apa. Biasa saja, akhir-akhir ini bukankah banyak tugas? Ingat, ini semester terakhir. Sebentar lagi akan wisuda.” jawabnya.

“Baiklah. Aku pergi dulu.” jawabku lalu pergi.

“Chakkaman!” cegatnya.

“Wae?” tanyaku.

“Apakah kau sudah siap untuk menjawab pertanyaanku empat tahun yang lalu?”

…PART 4 BEGINS…

Aku hanya bisa diam, aku tak tau apakah aku siap untuk menjawabnya. Walau mulut ini bisa, tapi hati ini belum siap. Sepertinya, aku belum siap untuk melihat wajah kecewanya.

“Kau tunggu saja. Aku akan selalu siap untuk menjawabnya.” jawabku lalu pergi.

“Kau tak akan menolaknya, kan?” tanyanya kemudian. Langkah ini kembali terhenti, aku tak tau mau menjawab apa sekarang. Dan kurasa pertanyaan itu tak perlu kujawab.

“Sabarlah, Kim Jonghyun.” jawabku lalu pergi.

“Katakan saja jika kau ingin menolaknya.” Aku terdiam kembali, rasanya mulut ini ingin mengatakannya. Tetapi kenapa hati ini selalu menahannya? seolah-olah hati ini berkata kepadaku “Sebentar lagi.”

“Jangan pikirkan itu, pikirkan dulu tugasmu.” jawabku.

“Jika kau benar mau menolakku katakan saja.” katanya dengan nada pelan.

“Bisakah kau tak memaksaku?”

Aku berjalan pelan menuju mading sekolah. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Aku harap, aku bisa lulus dan bisa segera wisuda. Aku ingin segera meninggalkan sekolah ini. Agar aku bisa hidup tenang tanpa ada  setetes air mata yang jatuh dari mataku.

“Hai..” sapa Jonghyun tersenyum kepadaku.

“Wae?” tanyaku bingung.

“Aku lulus!” jawabnya senang lalu memelukku. Aku hanya diam, membalas pelukannya. Mungkin ini adalah pelukan terakhirku bersama Jonghyun, dan mungkin ini adalah kebahagiaan terakhirku bersama Jonghyun.

“Selamat..” itu yang bisa kukatakan kepadanya. Air mata itu turun kembali, walau hanya setetes saja. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menunggu waktu itu akan tiba.

“Tuhan, apakah ini ujian terakhir yang kau berikan?”

“Selamat sayang.. akhirnya kau bisa lulus juga.” kata Eomma kepadaku. Aku yang melihatnya hanya tersenyum.

“Terima kasih..” jawabku.

Aku melihat sekeliling taman sekolah, seharusnya aku sudah melihat Jonghyun daritadi. Tetapi kenapa sampai wisuda selesai, ia tak kelihatan?

“Hai..” sapa seseorang menepuk pundakku.

“Hai Soora, ada apa?” tanyaku kepadanya.

“Ada surat dari Jonghyun.” jawabnya.

“Terima kasih.” jawabku lalu menerima surat itu dari tangan Soora.

Aku sedikit menyingkir dari kerubungan keluargaku. Kubuka amplop putih itu, lalu kubuka lipatan kertas itu.

Untuk seseorang yang kucintai…

Mungkin, saat kau membaca surat ini. Aku sudah berada di bandara incheon. Atau mungkin aku sudah pergi meninggalkan korea selatan..

Aku tau kau telah membohongiku, aku tau kalau kau tak mau menyakiti hatiku. Tapi haruskah kau berbohong selama ini? Aku tau kau pasti tertekan dengan kemunculanku yang tiba-tiba.  Tapi inilah diriku, diriku memang menyusahakan.

Selamat ya.. kau berhasil untuk wisuda. Maaf aku tak bisa untuk wisuda bersamamu. Dan untuk jawabannya, aku sudah tau. Kau pasti menolakku bukan? Karena kau sudah mempunyai seseorang yang lebih baik dariku. Aku ucapkan selamat untuk hubungan kalian.

Maafkan aku, aku tak bisa bertemu denganmu disekolah. Aku sudah dulu mengambil sertifikat kelulusan, dan aku berjanji untuk meninggalkanmu sekarang juga.

Hanya itu saja yang bisa kukatakan, mungkin surat ini adalah surat terakhirku. Aku harap, kau bisa memaafkanku dan tidak melupakanku.

Dari temanmu,

Kim Jonghyun.

Kututup kertas itu pelan, air mata membasahi pipiku sejak aku membaca surat ini. Kejadian ini pasti terjadi, aku yakin. Karena semua ini adalah salahku.

“Jonghyun pergi ke Amerika, disana ia akan bersama saudaranya. Kau sangat keterlaluan terhadapnya, selama ia tinggal denganku. Aku tak pernah melihat saudaraku seperti itu, apakah kau sudah gila?” tanya Soora kepadaku.

“Mianhae, bukan maksudku untuk menyakitinya. Tapi semua ini karena—” aku berhenti berbicara, mulut ini tak bisa untuk berbicara lagi. Sakit ini sudah membukit, dan rasanya perih sekali untuk ditampung.

“Temui dia di bandara. Ia kini sedang berada disana.” jelas Soora.

Aku langsung melihat kearahnya, ia melihatku dengan tatapan yakin. Aku langsung berlari keluar dan segera menemui Jonghyun di bandara. Aku tak peduli dengan diriku sekarang, yang kupedulikan adalah Jonghyun.

“Jonghyun, jangan pergi..”

“Kau mau kemana?” tiba-tiba seseorang memegang tanganku. Aku yang merasakannya langsung menoleh kebelakang.

“Jinki-Oppa? kau ada disini? Aku mau—” kataku lalu melepaskan genggamannya.

“Kau mau kemana? Ini hari wisudamu.” tanya Jinki-Oppa.

“Aku mau—” kataku terputus.

“Katakan, aku tidak akan memarahimu.” kata Jinki-Oppa tersenyum kepadaku.

“Kumohon, ijinkan aku untuk menemui seseorang untuk terakhir kalinya. Setelah itu, kita akan bertunangan. Aku berjanji, aku tidak akan menemui ia lagi. Terakhir kalinya.. kumohon..” kataku memohon.

“Baiklah, kau mau kuantar?” tanya Jinki-Oppa.

“Tidak usah.” Aku langsung berlari menuju bandara, aku tak peduli seberapa jauhkah tempat itu. Aku hanya ingin satu, aku ingin Jonghyun tidak pergi. Hanya itu saja.

“Jangan pergi.. kumohon.. jangan pergi..”

Aku melihat keseliling bandara, mataku terus saja mencari Jonghyun. Banyak orang yang kini berada di bandara, aku menjadi sulit untuk mencari Jonghyun.

“Kau dimana Jonghyun?”

“Penerbangan ke Amerika akan segera berangkat..”

Aku terus saja menangis, air mata ini terus saja mengalir tiada henti. Sampai mataku tertuju pada seorang namja yang baru bangkit dari duduknya.

“Jonghyun!” teriakku lalu berlari menghampirinya. Namja itu sudah berjalan cepat, dan kini ia sedang mengantri ditempat pengecekan tiket. Aku yang melihatnya langsung mempercepat lariku.

“Kau mau kemana?” tanyaku lalu menariknya jauh dari tempat pengecekan tiket.

“Kau kenapa disini?” tanyanya kepadaku.

“Kenapa kau pergi?” tanyaku terisak.

“Bukankah ini yang kau mau dari dulu?” tanyanya.

“Apakah kau tak menyayangiku lagi, Kim Jonghyun? Apakah kau sudah menghapus semua rasa sayang ini kepadaku?” tanyaku.

“Kau sudah disayangi oleh orang lain, untuk apa aku menyayangimu? Lagi pula aku sudah menghapus semuanya. Dimataku, kau hanya teman biasa. Tidak lebih.” jawabnya dingin. Aku yang mendengar jawabannya langsung tak percaya.

“Lalu cintamu yang dulu itu apa? pembuktian cintamu yang kau bilang itu apa?” tanyaku terisak.

“Aku tak bisa lama-lama, aku pergi.” Ia langsung pergi begitu saja, dengan cepat aku memegang tangannya. Ia menoleh kearahku dan melepas tanganku.

“Kim Jonghyun! Jangan pergi..” kataku terisak. Namja itu berhenti, aku tak tau apa yang mau ia lakukan. Aku terus saja menangis, tubuhku sudah lemas untuk menahan semua rasa sakit ini. Dan aku hanya bisa menangis saat ini.

Tiba-tiba saja seorang namja menghampiriku, lalu mengangkat wajahku dan menghapus air mataku pelan. Aku yang melihatnya langsung memeluk namja itu.

“Jangan pergi.. aku mencintaimu..” bisikku lirih kepada namja itu. Namja itu melepaskan pelukanku. Lalu menatapku dalam, aku menatap matanya. Ada setetes air mata yang turun dari matanya.

“Apakah perasaan Jonghyun sama dengan perasaanku sekarang?”

“Mianhae, aku harus pergi.” namja itu menghapus air mataku kembali, lalu bangkit dan pergi meninggalkanku.

“Kumohon, jangan pergi..” kataku memegang tangannya.

Keheningan itu kembali terjadi lagi, tanganku tetap saja memegang tangan namja itu. Tak ada sedikit kerenggangan, tetap erat dari awal sampai sekarang.

“Jangan pergi Kim Jonghyun..” kataku pelan.

Namja itu tiba-tiba melepas tanganku, aku yang melihatnya hanya diam dalam tangisanku.

“Kim Jonghyun, apakah kau harus pergi? apakah itu karena aku?” tanyaku lirih.

“Hanya satu kata yang bisa kukatakan. Maaf, itu yang mungkin bisa kukatakan kepada seorang namja yang telah mencintaiku. Maafkan aku Kim Jonghyun, bukannya aku tak mencintaimu. Tapi kulakukan semua ini karena aku lebih memilih kesetiaan. Maafkan aku karena memilih setia. Mianhae Kim Jonghyun.. jeongmal mianhae..”

END

  Huft… akhirnya END!!!!! HORE!!!! Jadi… sebenarnya aku membuat FF ini karena aku terinspirasi dari lagu-nya pemenang X-Factor. Yaitu Fatin dengan lagunya –Maaf aku memilih setia- *betul nggak tuh?*. Aaaaa!! Pentingnya aku senang, kelar semuanya. Komentar ya!!! Please!! *kasian nggak dikomen nanti ngambek orangnya* hahahaha.!! Bye.. bye.. bye.. bye.. ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s