[Fanfiction] Love and Height

love and height

Title : Love and Height

Cast : Luhan (EXO-M)│You (Reader)

Genre : Romance│Fluff │Comedy │AU

Length : Oneshot

Rating : PG

©Jung. Sangneul. Present©

::::::

Love and Height

                Aku lupa berapa kali menghembuskan nafas beratku pagi ini.  Aku benci kenyataan yang seolah menggigitku ini. Kutendang pelan kerikil-kerikil di halaman sekolah tempat aku berpijak sekarang, menggerutu dalam hati. Aku tidak tahu harus memikirkan apa saat ini, bahkan jika ada ulangan Matematika atau tugas Bahasa yang kulupakan.

Yang berusaha kuputar dalam otak hanya satu: kenapa aku tidak setinggi dia? Atau dia? Atau dia? Sederet nama menyembul di kepalaku. Nama gadis pemandu sorak atau mayoret drum band SMAku. Mereka semua seakan terlahir sempurna. Cantik, mata bulat yang hampir menyamai ulzzang(well, aku tidak peduli dengan yang ini, karena kurasa bola mata mereka seolah hampir lepas), dan yang paling membuatku iri: mereka tumbuh tinggi.

Mereka tumbuh dalam kisaran 165 hingga 173 sentimeter. Hampir menyamai tinggi lelaki. Tapi, lelaki cenderung tumbuh pada kisaran 175 sampai 185 sentimeter. Dan masalah utamanya adalah, entah karena faktor gen, keturunan, atau memang nasib, pertumbuhanku berjalan lebih lambat daripada temanku yang lain. Aku hanya bertumbuh pada kisaran 155 sentimeter. Dan ini terbilang pendek(meski pembantuku jauh lebih pendek). Jangankan menjadi mayoret drum band, namaku bahkan tidak diterima sebagai peniup terompet.

Dan jujur, aku tidak suka fakta itu. Memang sih, sejak SMP aku tidak terlalu banyak menambah tinggi. Cenderung bertahan di angka yang itu-itu saja. Namun meski begitu, aku tidak kelebihan berat badan atau obesitas istilahnya. Aku masih terlihat ideal, namun tinggi badanku… aku bahkan sering dikatai mirip anak SMP, bukan SMA. Dan aku tidak suka!

Satu lagi masalahnya….

“Omo! Kalian sudah jadi sepasang kekasih?”, atau

            “Kekasihnya pendek sekali, jadi seperti adiknya…”, atau

            “Mereka tampak tidak serasi.”

Sering sekali aku mendengar hal itu terlontar dari mulut kebanyakan orang ketika aku sedang jalan berdua dengan kekasihku. Namanya Luhan, tingginya 178 sentimeter. Bandingkan denganku, 155 sentimeter. Aku bahkan hampir-hamoir menengadah ketika menatapnya. Atau dia akan berjongkok ketika hendak memelukku? Ah, tidak, itu sesuatu yang tidak dapat kubayangkan. Konyol sekali.

Aku tidak terlihat sepadan ketika bersama Luhan. Aku terlalu pendek, bahkan Luhan belum mencapai angka 180. Setidaknya tak seperti kapten basket Kris yang tingginya mencapai 2 meter, atau Chanyeol—murid teladan tahun lalu yang tingginya mencapai 185 sentimeter, atau mungkin Sehun—bintang sekolah di mata pelajaran Biologi yang tingginya 181 sentimeter.

Aku bisa semakin terlihat pendek jika bersama mereka. Aku lupa kapan terakhir kali mengukur tinggi badanku, karena bahkan aku takut mengetahui hasilnya. Bagaimana kalau aku masih juga menetap di titik yang sama? Kuacak pelan rambutku sebelum melangkah masuk ke dalam kelas.

.

            Aku sedang meminum susuku ketika telepon rumahku berdering. Kata Na Eun, temanku, dia bisa tumbuh tinggi hingga hampir menyetarai Xiumin—si ketua kelas kaena dia rajin minum susu penumbuh tinggi.

“Halo.” Sapaku ketika baru menempelkan gagangnya di telingaku.

“Hai, chagi. Besok kita ke toko buku, ya?” Suara lembut yang agak tergesa itu menyapa daun telingaku. Memberi ajakan to the point.

“Kau bahkan belum mengambil nafas. Sudah mengajak. Besok? Baiklah.” Sahutku.

“Ah, biarkan saja. Itu sudah ciri khasku. Oke, ketemu besok jam 3 sore, ya.”

“Sore? Kenapa tidak sekalian sepulang sekolah saja?”

“Aku ada urusan sebentar. Sudah ya, sampai jumpa. Love you!”

“Love—”

Tut… tut… tut…

Kuhela nafas. Hobinya itu masih sama. Menelepon ke rumahku(agar lebih murah katanya), terburu-buru mengatakan tujuannya, dan menutup telepon sebelum aku membalas salamnya. Namun sekalipun Luhan suka memutus telepon secara tiba-tiba dan tidak bisa santai dalam menelepon, aku tidak mau ambil pusing. Aku tidak pernah menyesal telah mnerima Luhan, seoang lelaki berambut hitam yang matanya bisa bersinar—membentuk bulan sabit ketika tersenyum maupun tertawa.

Luhan tampan, dan… argh, pokoknya aku tidak pernah mempermasalahkan hal sepele selama berpacaran dengannya. Karena bahkan Luhan tidak mempermasalahkan hal besar yang ada pada diriku. Kalian tahu sendiri apa itu.

.

            “Chagi, sebaiknya aku beli yang ini atau yang ini?” tanya Luhan, sesaat setelah ia mengitari rak demi rak—jajaran komik. Entah bagaimana ceritanya, di usianya yang sudah memasuki 17 tahun, ia masih suka sekali membaca yang namanya komik.

“Terserah kau saja. Aku bahkan tidak tahu ceritanya, ya kan?” sahutku sambil tersenyum.

“Makanya, lain kali kau perlu membaca komik. Jangan hanya mengisi rak bukumu dengan buku diktat sekolah,” ocehnya. Aku hanya tersenyum menatapnya yang tidak juga beralih pandang dari komik-komik itu.

Kini pandanganku teralihkan pada sebuah buku yang kutemukan ketika berpindah rak. Buku tentang…. CARA MENAMBAH TINGGI BADAN. Kuambil buku itu, dan diam-diam aku membayarnya dan memasukkannya ke dalam tas.

“Sayang, kau kemana saja? Aku sudah dapat komiknya.” Kata Luhan sambil memamerkan dua komik yang sudah diambilnya.

“Tadi aku hanya melihat-lihat ke rak lain. Ayo bayar!” ajakku sambil tersenyum. Secercah harapan untuk menjadi tinggi membuatku agak bersemangat hari ini.

“Kau mau kemana dulu setelah ini?” tanya Luhan setelah kami keluar dari toko buku itu. Aku mnegernyit.

“Memang kita ada acara lain selain ke toko buku?” tanyaku. Luhan mengedakan pandangannya, lalu merangkulku.

“Tentu saja ada. Bagaimana dengan… menikmati mie ramen dan segelas bubble tea?” tawarnya. Aku menyipitkan mataku, ah, ternyata disana ada kedai ramen? Aku terkikik geli, kemudian mengangguk setuju.

“Terserah kau saja, lah.”

.

            Aku mendudukkan diri di sofa. Menarik nafas, kemudian membuangnya. Kembali terngiang nyanyian orang-orang yang suka seklai berdesas-desis membicarakan ketinggianku. Kalau seperti ini, aku harus cepat-cepat menjadi tinggi, lebih tinggi daripada yang lain. Kubuka buku yang tadi kubeli.

Pertama, sering-seringlah berolahraga yang dapat meninggikan badan. Misalnya, berenang.

Aku manggut-manggut. Berenang.

.

            “Kau yakin?” tanya Luhan, sesaat setelah aku keluar dari ruang pendaftaran ekstrakurikuler.

“Iya. Kenapa, sih?” tanyaku, merasa tatapan cemasnya itu agak berlebihan.

“Bukannya kau pernah bilang tidak bisa berenang?” tanyanya kemudian. Ya, memanga ku tadi memilih mengikuti ekstarkurikuler berenang. Tentu saja ini untuk menambah tinggi badanku, sesuai petunjuk buku itu.

“Nanti juga bisa. Justru dengan ikut ekstra ini, aku akan bisa. Sudahlah, tidak perlu mencemaskanku begitu.” Sahutku.

“Tapi kan—”

“Ah, aku lapar. Bagaimana kalau kita ke kantin sekarang?” Aku tersenyum lebar kemudian mengaitkan jariku ke tangannya. Berusaha membuatnya tenang. Tapi… tangannya dingin. Apa ia begitu khawatir padaku? Aku akan baik-baik saja, Luhan. Ini semua juga demi dirimu. Aku pasti bisa menambah tinggi badanku. Pasti.

.

            Hari pertama ekstra berenang.

Sebetulnya, aku takut. Tapi tinggiku melebihi kolam satu meter, jadi tidak apa-apa kan? Aku baru bersiap akan turun ketika dorongan dari belakang menghentikanku. Dlam hitungan sepersekian detik, tubuhku menampar permukaan air. Sumpah aku tidak bisa berenang.

“Hey, anak baru! Seru, kan?”

Kudengar sayup-sayup suara ceria temanku. Mungkin maksud mereka hanya bercanda, tapi aku benar-benar tidak bisa. Aku berusaha menahan nafas dan terus mengibaskan tanganku keluar permukaan air demi memberi isyarat bahwa aku tidak tahu sama sekali teknik berenang.

Tapi kan, tinggiku 155, kenapa aku hampir tenggelam? Apa tadi aku berdiri di hadapan kolam setinggi dua meter? Ya Tuhan, bagaimana ini?

Perlahan, aku tidak kuat lagi menahan nafas. Dan, aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya, gelap.

.

            Aku tidak mengetahui waktu ketika membuka mataku. Yang aku tahu hanya cahaya lampu terang dan bau obat anti septik yang menyengat hidungku. Aku melihat sekeliling dan menemukan jam telah menunjukkan waktu pukul 8. Suara kicau burung meyakinkanku bahwa ini sudah pagi.

Sudah pagi? Apa aku pingsan? Se-lama itu?

Kulihat, di sebelahku, ada seseorang yang tertidur. Dan sepertinya aku tahu dia siapa. Tapi, bukankah ini sudah pukul 8? Apa dia tidak sekolah?

“Luhan-ah! Luhan, ireona!” seruku sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

“Ngh…” Dia mulai bergerak, mengucek-ngcek matanya.

Beberapa saat kemudian, ia tampak terkejut.

“K-kau… sudah sadar?” tanyanya.

“Aish, jangan bertanya tentang hal yang tidak penting! Ini sudah jam delapan tahu, kau bisa terlambat! Kau bodoh atau apa? Cepat berangkat sekolah!” seruku. Bahkan aku lupa kalau posisiku sekarang adalah di… rumah sakit?

“Hey, harusnya aku yang memarahimu! Kenapa kau nekat sekali berenang, eoh? Sudah kubilang jangan, tapi kau tetap berangkat. Lihat sekarng, aku hampir tidak dapat bernafas melihatmu sempat kehilangan detak jantungmu! Ish, aku heran, apa yang ada di pikiranmu, sih? Dan kau tahu, sekarang hari Minggu! Sekolah libur!” omelnya panjang-lebar. Aku bahkan merasa dia lupa mengambil nafas di sela-sela omongannya itu.

Tapi pada akhirnya, aku merasa bersalah juga. Ia terlihat hampir menangis. Dan aku berani sumpah, dia tidak pernah mengeluarkan ekspresi ini selama berpacaran denganku.

“Kenapa? Siapa yang menyuruhmu ikut ekstra itu?Kau kan tahu dirimu tidak bisa berenang. Kau sendiri yang cerita padaku, kan?” tanyanya. Aku menghela nafas.

“Maaf… Aku bukan bermaksud membuatmu cemas. Aku hanya—”

“Sudahlah, aku tidak butuh alasan. Pokoknya, jangan ikut ekstra itu lagi, atau kita putus.” Potongnya cepat.

.

            Baiklah, aku keluar dari ekstra berenang. Aku takut juga kalau nanti sampai tenggelam lagi. Aku belum siap mati. Lebih baik menggunakan cara lain.

“Mungkin anda bisa juga mencoba olahraga lain. Basket bisa jadi pilihan.”

Aku membaca tips lanjutan pada buku itu. Baiklah, olahraga air sudah menolakku. Jadi, tidak ada salahnya olahraga yang satu ini. Basket(aku seketika lupa kenyataan kalau aku juga tidak mahir basket).

Oh ya, perlu diketahui, aku juga sudah mengusahakan pertumbuhanku lewat jalur lain. Meminum sebotol susu setiap pagi dan siang serta malam(bukan susu biasa, susu rendah lemak tinggi kalsium). Aku juga rajin melakukan lompat tali, malam hari pun.

.

            “Chagi, besok kita ke taman kota, ya? Kudengar akan ada bazaar. Aku penasaran,” ajak Luhan ketika kami memakan menu lunch di kantin.

“Besok?” Aku berpikir ulang.

Oh iya, aku punya janji dengan Kris. Aku bahkan sudah memohon-mohon untuk diajari main basket. Dan alhasil, dia mau mengajariku, besok sepulang sekolah.

“Aku tidak bisa, Luhan. Maaf ya,” kataku.

“Tidak bisa? Tumben. Ada acara apa?” tanyanya.

“Eum, hanya acara makan keluarga besar. Aku harus pergi sepulang sekolah. Maaf,” ujarku.

Aku terpaksa bohong. Kalau aku jujur, mana mungkin dia memperbolehkanku berlatih basket? Dia pasti takut kejadiannya sama seperti saat berenang, karena aku juga tidak punya keahlian di bidang basket. Sudah pernah kukatakan, bukan?

“Iya, tidak apa-apa. Kan bisa lain kali.” Kataku. Aku membuka tutup botol susuku dan meminumnya.

“Chagi?” Aku menghentikan minumku dan menoleh padanya.

“Sejak kapan kau minum susu putih? Itu susu full cream, kan? Yang katamu memuakkan?” tanyanya. Aku menggigit bibirku. Aku memang pernah cerita kalau kau tidak suka susu vanilla full-cream. Tapi kupikir dia tidak se-ingat itu dengan pernyataanku.

“Se-sejak… Ibuku mengkhawatirkan gizi kalsiumku. Jadi aku selalu membawa susu sekarang. Iya, begitu.” Jelasku, agak terbata dengan alibi penuh kebohongan. Luhan hanya manggut-manggut saja.

.

Keesokan harinya.

Pukul 2 sore.

Satu jam usai pulang sekolah.

 

“Ya Tuhan, sudah jam dua! Satu jam aku mengajarimu, dan bahkan kau tidak bisa juga men-dribble bola. Keahlian dasar saja kau tidak bisa, bagaimana mau belajar yang lain? Aku juga punya kegiatan lain, tahu!” Kris nampak mendesah dangkal. Raut wajahnya bercampur antara lelah dan bosan.

Sementara aku hanya bisa meminta maaf.

“Yasudah lah, kita lanjutkan besok saja!” Kris mengambil tasnya, bersiap pergi. “Aku pulang. Kalau kau mau lanjutkan latihannya, silakan. Aku duluan Annyeong!” serunya sebelum berjalan menjauh. Aku diam saja.

Masih berkutat dengan bola, berusaha men-dribble di tempat, namun tetap saja bola itu semakin lama semakin kehilangan daya pantul, dan ujungnya menggelinding menjauhiku.

Tidak. Aku harus jadi tinggi. Harus.

Aku mencoba men-shooting bola itu. Aku tidak tahu kalau bola itu akan menabrak pinggiran ring, dan ujungnya bola tersebut terpental ke arahku. Seakan adegan yang berefek slow-motion, aku tidak sempat menjauh ketika bola berat itu mengahntam kepalaku, mengaburkan pandanganku.

“Hey! Neo gwenchana?”

Aku sempat melihat Kris menghampiriku, sebelum semuanya terasa gelap, dan sunyi.

.

            Ketika aku bangun, tidak seperti saat aku tenggelam di kolam renang, aku malah ada di kamarku sendiri. Apa Kris membawaku kemari? Aku masih memegangi pelipisku yang terasa agak nyeri ketika orang yang sangat kukenal muncul dari balik pintu.

“Kau sudah sadar?” tanyanya. Nada bicaranya beku.

Aku mengangguk ragu.

“Sejak kapan kau melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan?” sahutnya kemudian. Dia, Luhan, tidak pernah sedingin ini padaku sebelumnya. Tatapan tajamnya menyorotku.

“Kau mau membuatku hampir jantungan setiap hari, eoh? Kalau aku tidak bertemu Kris yang sedang memapahmu, kau mau dibawa dia ke rumahnya? Dia tidak tahu rumahmu!’ serunya.

“Lagipula kenapa kau mau membohongiku kemarin hanya demi latihan basket?”

“Aku hanya ingin bisa main basket, Luhan.” Jawabku dengan kepala tertunduk.

“Kau pikir aku tidak bisa mengajarimu? Lagipula tidak perlu berbohong, kan? Kris bahkan hampir tidak tahu kalau bola itu mengenai kepalamu kalau saja dia tidak meninggalkan dompetnya! Dia cerita sendiri padaku.”

Luhan terlihat sangat marah dan kalau sudah begini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sudahlah, pokoknya tidak ada acara latihan basket lagi. Kau tidak bisa pun tidak akan ada yang menghukummu, chagi.” Aku mengangguk lemah. Lalu bagaimana agar aku bisa tumbuh tinggi? Luhan melarangku berenang ataupun main basket. Sekotak susu yang kuminum tiga kali sehari tidak terlalu memberikan efek besar. Lalu aku harus bagaimana? Bertahan pada nasib? Tidak! Pasti ada cara lain, batinku.

.

            Sooyoung meletakkan majalahnya ketika aku selesai menceritakan masalah tinggi badanku. Dia satu-satunya teman baikku, jadi hanya dia yang bisa kumintai bantuan.

“Aduh, tidak perlu susah-susah mencapai tinggi badan dengan banyak cara. Biar kau terlihat tinggi saat bersama Luhan, gampang. Jangan pakai lagi flat shoes bututmu itu,” katanya. Aku mengernyit.

“Lalu pakai apa?” tanyaku polos.

“Kau bodoh atau norak? Tentu saja high heels! Mau berburu bersamaku?” tawar Sooyoung sembari membuka laptopnya, mencari jangkauan wi-fi.

High heels? Seumur hidup, aku tidak pernah memakai high heels. Bagaimana mungkin? Lagipula Sooyoung tinggi: 170 sentimeter. Apa masih perlu memakai sepatu hak tinggi itu?

.

Seminggu kemudian.

“Chagi, besok aku ada pesta di rumah temanku. Kau ikut, ya?” Luhan berbicaa sembari menyumpit mie yang tadi dipesannya. Aku tersenyum kecil kemudian mengangguk. Ini bisa jadi pengalaman pertamaku bersanding dengan Luhan tanpa ada yang merendahkan. Karena… tentu saja aku sudah punya high heels.

“Kujemput jam 7 malam, besok. Berdandan yang cantik.” ucapnya lalu tersenyum.

“Iya.” Jawabku lalu tersenyum.

Aku kurang bisa menjawab panjang-lebar karena imajinasiku sudah bermain-main sendiri, membayangkan bagaimana serasinya kami berjalan di atas karpet merah. Ah, aku tidak sabar untuk itu.

.

            Aku kembali mencocokkan dress yang kupakai dengan satu-satunya heels yang kupunya. Cukup pas. Biru dengan hitam, tidak terlalu buruk kan? Tinggal menyapukan bedak dan mengoleskan lip gloss, aku sudah siap pergi. Rambut, biarkan saja tergerai.

“Sudah, cepat pakai heelsmu. Kita latihan sebelum kau pergi. Lagipula Luhan sudah datang,” Sooyoung tiba-tiba muncul dai balik pintu kamarku, menyilangkan tangan di depan dada.

“Iya, iya, sabar sedikit dong. Aku ingin tampil cantik.” Kataku sambil mengenakan arloji.

“Tapi membuat pacar sendiri menunggu terlalu lama juga tidak baik.” Komentar Sooyoung.

Aku mengambil high heelsku kemudian segera memakainya, supaya mulut besar gadis itu cepat menutup. Mencoba melangkah se-seimbang mungkin. Aku sudah banyak belajar, jadi tidak sesulit permulaannya.

“Yasudah, cukup. Sudah berangkat sana. Aku juga mau makan malam dengan temanku.” Kata Sooyoung, meraih tasnya.

“Yang mana lagi itu? Siwon? Kyuhyun? Changmin? Atau ada lagi ya?” celetukku, menghentikan aktivitasnya. Dia memang dekat dengan banyak lelaki tampan, dan aku yakin lebih dari sekedar teman. Tapi mana pernah ia mengaku?

“Itu kencan namanya,  Soo.” Lanjutku.

“Hey! Mereka semua temanku, enak saja kau!” Sooyoung bersiap menimpukku dengan sesuatu. Daripada maut datang sebelum aku sampai di pesta itu, aku segera lari ke luar, tersenyum pada Luhan yang sudah menunggu. Dan menarik pintu mobilnya. Kulihat Sooyoung mendengus di ambang pagar ketika mobil Luhan—pinjam Ayahnya—menderum meninggalkannya. Dasar shikshin menyebalkan!

.

            Ini pesta besar, aku yakin. Dilihat dari rumahnya yang mentereng dan banyaknya mobil yang terparkir di halamannya yang seluas lapangan bola. Aku belum sempat berdecak kagum ketika Luhan menatapku agak ganjil.

“Ada apa, sih?” tanyaku.

“Tidak. Sejak kapan kau punya high heels? Setinggi itu?” tanyanya sambil menunjuk heelsku.

“Ini punya Sooyoung. Aku pinjam. Sudahlah, katanya mau cepat bertemu teman lamamu? Ayo.” ajakku, menggamit lengannya. Aku agak merasa bangga, karena sekarang tentu saja tinggiku tidak terlihat berbeda jauh dengan Luhan.

Aku tidak perlu merasa risih karena tatapan menghina dan pandangan sebelah mata serta cibiran kecil dari orang-orang di sekitarku. Setidaknya itulah perasaanku malam ini. Ditemani senyum dan dekapan hangat Luhan, terasa semakin lebgkap.

Sebelum… aku tidak sengaja tersandung kaki gadis yang melintang di depan jalanku, dan kemungkinan terburuk pun terjadi. Aku jatuh bersama high heels setinggi 10 sentimeter. Dan, apa ini? Kenapa terasa sakit di pergelangan kakiku?

Setidaknya sakit ini tidak lebih mengerikan dibanding tatapan puluhan orang di sekelilingku. Merubungku seakan aku kotoran yang terselip dalam sebuah pesta mewah. Aku rasanya ingin mati. Tidak peduli itu tatapan mengasihani, prihatin, empati, atau yang menyindir sinisme dan jijik sekalipun, itu tetaplah tatapan maut. Dan aku tidak suka.

“Neo gwenchana?” Luhan segera mendekat, menyentuh kakiku dan aku meringis.

“Kita pulang saja, ya.” Katanya, menyelamatkanku dari puluhan tatapan mengerikan itu.

.

            Tak ada yang lebih sakit dari ini. Ketika Dokter memeriksa kondisi kakiku dan sempat menekan-nekannya, membuatku hampir menangis. Apa tulangnya tidak retak? Tapi mendengar penjelasan dokter, aku agak lega. Katanya uratku hanya terkilir. Ia memberikan resep salep kemudian pamit.

“Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Ibuku, terlihat cemas.

“Tentu saja, Bu. Ini kan hanya terkilir saja. Aku pasti bisa cepat pulih.” Kataku.

Setelah mendengar perkataanku, Ibu tersenyum dan meninggalkanku. Tapi aku belum sendiri, karena masih ada Luhan yang kini mulai mendekat padaku.

“Aku mau bertanya sesuatu padamu,”  katanya, mengawali pembicaraan.

“Bicara apa?”

“Aku merasa, ada yang aneh denganmu belakangan ini.  Pertama, dulu kau jarang minum susu. Tapi sekarang, kau membawa sekotak susu kalsium tinggi ke sekolah—yang katamu membuat mual. Aku lihat kulkasmu juga terisi susu itu. Kedua, tempo hari kau tiba-tiba ikut ekstra renang. Aku tahu kau tidak bisa berenang sama sekali.” Ia mengambil nafas sejenak. Tatapannya tidak lepas menyorotku.

“Aku—”

“Diam, jangan menyahutiku dulu. Yang ketiga, kau juga tiba-tiba mau berlatih basket. Kau tahu? Aku hampir memukuli Kris waktu itu kalau saja dia tidak buru-buru menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling aneh, kau berani membohongiku hanya untuk itu. Aku tidak habis pikir denganmu.

Keempat, hari ini. Kenapa kau bisa-bisanya menggunakan high heels? Apa Sooyoung yang mengajarimu? Biasanya juga kau hanya mengenakan flat shoes ketika menghadiri pesta sekalipun.  Dan anehnya, aku juga sering memergokimu skipping di malam hari. Kutelepon, kau tidak mengangkat hanya karena sibuk skipping. Olahraga harusnya dilakukan pagi hari, kan?” Luhan bertubi-tubi menyerangku hingga aku ingin meledak. Dia mengetahui segalanya tentang diriku, bagaimana bisa aku mengelak?

“Aku seperti mengenal dirimu yang berbeda. Aku tidak tahu siapa yang ada di hadapanku sekarang belakangan ini. Kau berubah, chagi. Ada apa?” tanyanya kemudian.

Dia tidak marah. Tidak membentakku. Tidak memukul. Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Dia menanyakannya baik-baik, dan tatapan mata lembutnya memaksaku untuk membeberkan segalanya. Segala planning aneh yang memenuhi kepalaku hanya demi satu tujuan: menjadi tinggi.

“A-aku… melakukan semua itu, supaya…” Aku menggigit bibir bawahku. Susah sekali mengatakannya. Tapi aku harus katakan, seberat apapun resikonya. Meski nantinya Luhan akan menertawaiku dan penyakit tawa-lamanya muncul lagi, aku tetap harus jujur.

“Supaya, aku bisa.. menjadi lebih tinggi.” Jawabku akhirnya.

Hening. Luhan tetap diam, tidak tertawa lebar seperti pradugaku. Maka kulanjutkan, “Aku sudah lelah, Luhan. Kau tahu, semua orang berdesas-desis membicarakan tinggi badanku ketika aku bersamamu. Yang tidak cocok lah, malah seperti adikmu lah. Aku kurang suka. Jadi, aku ingin tumbuh lebih tinggi.”

Luhan tersenyum sesaat kemudian. Senyum yang membuatku lega, sebelum pelukannya membenamkanku dalam dadanya (aku terlalu pendek bahkan untuk mencapai bahunya).

“Dengarkan aku. Aku tidak pernah mempermasalahkan soal tinggi badanmu. Jangan dengarkan orang-orang kurang kerjaan itu. Memangnya mereka setinggi apa? Menara Eiffel saja tidak sampai puncaknya. Lagipula, apa peduliku dengan tinggi badan? Tuhan tidak menentukan jodoh melalui itu. Kau tinggi, kau pendek, aku akan tetap mencintaimu, chagi,” Luhan mengusap-usap rambutku. Aku pikir ini adalah jawaban paling menghanyutkan, dan ini milik Luhan, garis bawahi, Luhan: kekasihku!

“Jangan pernah berbuat konyol seperti itu lagi. Au sangat cemas dengan perubahanmu. Kupikir ada apa-apa.” lanjutnya.

Aku mengangguk dalam pelukannya. Bintang berkedip di langit-langit malam, dan itu menyenangkan. Meski tidak tinggi, tapi hidupku masih terus berlanjut, dan Luhan menerimaku apa adanya: itu jauh lebih menyenangkan dibanding dengan ada yang menawariku tiket pergi keliling dunia.

.

            Selanjutnya, hari-hari tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada lagi mau ikut ekstra berenang, mau latihan basket dengan Kris, atau membanding-bandingkan tinggiku dengan tinggi gadis-gadis pemandu sorak yang cantiknya melebihi ulzzang itu. Tidak ada buku tips menyebalkan, yang ada duduk di bangku sebelah Luhan dan mengintip komiknya, tertawa bersama saat ada adegan kocak. Ikut mengerutkan kening ketika ada pertanyaan yang sulit terpecahkan. Dan itu menyenangkan.

Tidak ada lagi sekotak susu vanila full-cream, yang ada hanya sebotol soft drink atau segelas milk tea yang menyegarkan, tidak membuat mual. Tidak perlu skipping. Dan itu lebih dari menyenangkan.

Sampai suatu hari, aku terkejut karena temanku mengatakan aku agak berubah.

“Berubah apanya?” Aku tidak lagi mempraktekkan sesuatu yang aneh untuk menambah tinggi badan.

“Kau… jadi lebih tinggi.”

Mataku seketika melotot, hampir keluar dari tempatnya ketika aku berlari mendahului yang lain saat pulang sekolah. Acuh akan panggilan Luhan. Aku harus segera mengukur tinggi badanku. Harus! Apa bertambah dua senti? Itu bagus. Tiga senti? Lumayan. Atau lima senti? Oh, itu menakjubkan!

Dan ternyata……………………

“Hng? Satu sentimeter?” Aku menganga di hadapan meteran. Hah, hanya satu senti dibilang bertambah tinggi. Dia mau memberi harapan palsu atau apa? Aku meletakkan meteran lagi ketika pintu rumahku diketuk.

“Luhan?”

“Kau tadi kenapa, sih? Lari secepat itu, seperti orang kesurupan.”

“Aku mau mengukur tinggi badan.” jawabku sambil mempersilakannya masuk.

“Lalu, berapa tinggimu?” tanyanya.

“Bertambah, satu senti.” Mataku berbinar sendiri. Biarlah, yang penting ada perubahan.

Luhan tertawa, lebar sekali sampai kurasa aku mau menimpuknya dengan high heelsku dulu itu. Apa ada yang salah?

Tapi kemudian ia berhenti, dan mengulurkan tangannya, menyalamiku.

“Selamat, mungkin Anda akan bertambah tinggi setengah senti tahun depan.” katanya, bak presenter menyebalkan yang memimpin acara teve murahan.

“Ya!”

Kami pun tertawa bersama. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Karena Luhan tetap akan seperti ini. Denganku, tinggi atupun pendek. Semua tetap akan berjalan normal, dan binar matanya seakan mengiyakan segala pertanyaan menggantung di hatiku.

“Apa yang akan kita lakukan? Main game? Baca komik? Atau, jalan-jalan?”

“Main game! Aku akan membalas kekalahanku minggu kemarin!”

Cinta kami begini adanya.

Dan tidak akan luntur hanya karena tinggi badan.

 

THE END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s