[Fanfiction] Sweet and Sour

sweet-and-sour

Title : Sweet and Sour

Cast : Do Kyungsoo (EXO-K)│Woo Jihae (Girls Day)

Genre : Romance│Musical Life│Alternate Universe│Fluff

Length : Ficlet

Rating : PG-13

Summary :          Tidak ada yang bisa memisahkan menyanyi dari kehidupan Do Kyungsoo. Memang selama ini tidak ada yang mendukungnya, namun semuanya berubah ketika dia datang.

©Jung.Sang.Neul.Present©

^^^

Sweet and Sour

Tidak ada yang bisa memisahkan menyanyi dari kehidupan seorang Do Kyungsoo. Dan tidak akan pernah bisa, karena menyanyi adalah jiwanya. Raganya. Hatinya. Separuh hidupnya. Menyanyi adalah minatnya, dan tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa membuatnya menghentikan itu, kecuali orang itu menusuknya dari belakang atau menyayat nadinya saat ia tertidur.

Sangat mengkhawatirkan ketika Kyungsoo mesti melupakan sebagian waktunya demi menyanyi, mencari tempat audisi menyanyi hanya untuk mengejar mimpinya. Sementara teman-temannya yang lain hanya punya target untuk menyelesaikan masa kuliahnya dan bersenang-senang dengan pacar masing-masing.

“Apa enaknya jadi penyanyi? Suara serak dikit aja udah nggak laku.” Itu komentar dari Chanyeol.

Baekhyun angkat bahu.

“Aku sih kurang ngurus yang seperti itu. Suaraku juga lumayan, tapi mending urus yang lain dulu.” Dan ketika itu juga pacarnya datang dan dengan manjanya minta ditemani ke mall. Baekhyun seakan lupa kehadiran Kyungsoo di sana, segera menggandeng tangan gadis itu dan pergi.

“Itu urusan lainnya?” cibir Kyungsoo dalam hati.

^^^

            Ya, seorang Do Kyungsoo tidak pernah memiliki orang yang dapat memotivasinya untuk bertahan mengejar mimpinya. Tidak ada yang respek pada harapannya, bahkan keluarganya sekalipun. Namun tidak lagi seperti itu kenyataan menukiknya ketika suara lembut yang memanggilnya, “Kyungsoo-ya!” itu datang dan mengubah segalanya.

“Sudah tahu lagu ini belum? Nadanya bagus, bisa kau latih,” Gadis bersenyum manis itu menunjukkan kertas liriknya, kemudian memainkan lagu di ponselnya—menunjukkan suara asli penyanyinya.

Kyungsoo berbinar senang. Ini suara K. Will, salah satu penyanyi ballad yang sudah tersohor itu. Meski pamornya belum mengalahkan Prince of Ballad Sung Si Kyung, ia tetap menyukainya.

“Aku akan melatihnya nanti. Terima kasih.” kata Kyungsoo, menepuk kecil kepala gadis itu.

Gadis yang tak sengaja ia temui di ruang musik kampusnya. Sedang duduk di hadapan piano, dan ternyata ia masih duduk di bangku High School, adik dari Park Chanyeol. Berbeda dengan kakaknya, gadis itu malah langsung bangkit bertepuk tangan ketika Kyungsoo memperdengarkan suaranya melalui sebait lagu.

“Ini karakter suara yang kucari-cari, oppa. Bagus sekali, beda jauh dengan Chanyeol-oppa.” cibir gadis itu, membuat Kyungsoo tertawa lebar.

Pujian pertama, dan ini menyenangkan sebagai awal pertemanan mereka.

“Jangan panggil aku oppa. Aku tidak suka.” tekan Kyungsoo.

Maka sekarang, ketika gadis itu menarik tangannya, ia merengek dengan sebutan, “Kyungsoo-ya, aku mau es krim itu.”

Kyungsoo tersenyum, mengangguk. Bagaimanpun gadis bermarga Woo(marganya beda dengan kakaknya karena ia anak angkat) itu masih duduk di bangku High School, jadi sifat kekanakannya tidak bisa ditutupi.

“Tapi Kyungsoo nggak boleh ikut makan! Nanti nyanyinya jadi nggak enak lagi.” Gadis itu memerintah.

Namun Kyungsoo tetap suka bagaimana gadis itu memberinya semangat dalam matanya yang berbinar. Jadi ia mengangguk juga.

Woo Jihae memang berbeda, dan tak akan pernah sama dengan teman-teman tengiknya itu.

^^^

            Menemani Jihae makan es krim merupakan rutinitas mingguan Kyungsoo. Sambil merapal lirik lagu, ia memperhatikan Jihae yang masih belepotan es krim. Karena tak ada yang mampu melarang Kyungsoo menyanyi, maka tidak pernah ada yang mampu melarangnya untuk menempelkan jarinya di bibir gadis itu, membersihkan noda di sana.

Tidak pernah ada yang tahu mengapa Jihae mendukung Kyungsoo di setiap mimpinya meski Chanyeol—kakaknya mengomel tiap detik. Tidak pernah ada juga yang tahu juga seberapa besar keinginan Kyungsoo  menjadi penyanyi. Maka tidak akan ada yang tahu mengapa jantung Jihae dan Kyungsoo terasa berdebar bersahutan saat momen itu terjadi.

Dan juga tidak ada yang tahu mengapa Jihae measa wajahnya seakan terbakar namun ia menyukai itu.

^^^

            “Halo, Kyungsoo-ya, aku ada berita.”

Kyungsoo masih beradu dengan nada-nada di kamarnya ketika ponselnya berdering dan suara berbisik itu terdengar ketika ia tempelkan benda itu ke telinganya.

“Kenapa berbisik begitu? Aku tidak dengar,” protesnya.

“Ssshhhtttt…. Pelan-pelan. Chanyeol-oppa menyuruhku tidur, tapi aku perlu mengabarkan ini, Kyungsoo.”

Kyungsoo diam.

“Begini, dengarkan saja, ya,” Jihae di sana celingukan takut ketahuan. “Tadi aku cek website sebuah agency, dan ada audisi, Kyungsoo-ya,

Kyungsoo menahan nafas. Sepelan apapun itu, ia tetap dapat mendengar suara Jihae.

Jadi, kau harus datang. Besok, pukul 3 sore di gedung pusat kota. Jangan lupa, ya. Semangat, oppa—eh, Kyungsoo-ya!”

Kyungsoo tertawa, “Iya, aku pasti datang. Terima kasih infonya, cantik. Sudah tidur sana.”

Muka Jihae memerah di sana mendengar sebutan ‘cantik’ itu, sebelum teriakan Chanyeol terdengar dan segera diputusnya telepon itu.

^^^

            Memang ini agak mendadak bagi Kyungsoo, tapi ia baru saja menghafal sebuah lagu berikut mengubah beberapa nadanya, mengaransemennya ulang. Dan ia cukup yakin ketika pagi ini merapikan kemeja dan mengingat semangat yang diberikan Jihae. Gadis itu pasti akan bangga kalau dia bisa lolos.

Kyungsoo memiliki semangat menggebu dalam setiap derap langkahnya. Mengantarkannya ke lobi sebuah gedung tanpa mengetahui bahwa Jihae sejak tadi menguntitnya demi memastikan ia datang dengan selamat.

“Hah… Kyungsoo pasti lolos, dia kan punya bakat yang besar. Chanyeol-oppa saja yang norak, tidak bisa menilai.” omel gadis itu dalam hati, dan gara-gara itu ia tidak sadar bahwa sebuah mobil mendekat, siap menyentuh tubuhnya.

BRAKK!!!

^^^

            BRAK!

Semua terasa begitu cepat ketika Kyungsoo datang beberapa menit setelah Chanyeol terburu-buru mendatangi ruang rawat itu. Dan Chanyeol pun baru datang beberapa jam setelah kecelakaan itu terjadi, ketika Jihae sudah siuman. Perawat susah menghubungi ponselnya yang mati saat ia ke bioskop dengan teman wanitanya.

Gadis itu terlihat tergeletak, mengerjap pelan di ranjang biru khas rumah sakit itu. Tanpa peduli tulang belakangnya masih nyeri, ia bangkit bersandar pada bantal.

Tidak ada yang dapat melarang Kyungsoo menghapus noda krim di bibir Jihae, maka tak ada juga yang bisa melarang ketika ia acuh dengan Chanyeol yang terus saja mengomel layaknya nenek-nenek. Hingga laki-laki itu berhenti ketika Kyungsoo melah mendekati adik(angkat)nya.

“Kyungsoo-ya, aku…”

“Hng?” Kyungsoo duduk di sebelah gadis itu, dan matanya menangkap ada sebulir airmata yang bertahan di pelupuk matanya.

“Aku…” Gadis itu tak mampu melanjutkan ucapannya, menangis pelan. Namun semakin lama airmata itu memenuhi pipinya, menganak-sungai.     “Ssshttt…” Kyungsoo bingung, dan pada akhirnya ia hanya mampu memeluk gadis itu. Dan Jihae semakin terisak di sana.

Kyungsoo tidak mengerti apa masalahnya, jadi ia hanya mampu mengusap rambut gadis itu. Gadis yang kini malah semakin membenamkan kepalanya ke dada Kyungsoo. Dan ia bisa rasakan sekencang apa cengkeraman gadis itu.

“Sshhht… Sudah jangan menangis,”

Kyungsoo masih heran ketika gadis itu malah semakin terisak, tergugu-gugu dalam tangisannya, dan jujur itu merobek hatinya. Chanyeol yang tidak tahan melihatnya memilih keluar.

Dan Kyungsoo menghela nafas sebelum melepas pelukannya dan melihat pipi gadis itu basah, hidungnya merah.

“Hey, ada apa?” tanyanya kemudian, sambil mengusap airmata gadis itu dengan kedua ibu jarinya. Apakah ada yang salah?

“Ak-aku, minta maaf,” kata gadis itu, tangisnya keluar lagi.

“Untuk?” Kyungsoo kembali menghapus kristal yang menyakitkan untuk ia lihat itu.

“Kau, gagal au-disi, k-karena ak-aku, k-kan?” tanya gadis itu terbata-bata.

“Huh? Kata siapa?” Kyungsoo balik bertanya.

“K-kata oppa begitu. Kau buru-buru menjengukku ketika dia meneleponmu, padahal kau belum di-dipanggil ke ruang au-disi,” Jihae masih berurai airmata.

Kyungsoo tertawa pelan, kembaii menghapus airmata gadis itu.

“Kenapa kau percaya, hah? Aku akan belikan kau es krim yang banyak, karena……. aku……. lolos, Jihae!” seru Kyungsoo, dan Jihae terbelalak tak percaya.

“Jinjja?”

“Iya! Dan, satu lagi yang ingin kukatakan.” Wajah Kyungsoo mendadak serius.

“Apa?” tanya Jihae, masih sesenggukan.

Kyungsoo kembali memeluknya, menyalurkan semua kehangatannya.

“Bagaimana kalau aku bilang, aku… mencintaimu?” bisik Kyungsoo lirih, dan Jihae geli dengan desah nafasnya yang terasa di bahunya. Tapi itu cukup membahagiakan dan sekali lagi, Jihae menyukainya.

“Aku akan bilang iya, tapi kau harus jadi penyanyi terkenal, dan..” Jihae menggantung kalimatnya.

“Dan?” Kyungsoo menaikkan alis.

Jihae menghembuskan nafasnya, “Jangan lupakan aku nantinya.”

Kyungsoo tertawa untuk kedua kalinya, mencubit hidung gadis itu. “Siapa pula yang mau melupakan gadis manja sepertimu?”

The End

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s