[Fanfiction] Big Eyes

big eyes

Title : Big Eyes

Cast : Chen (EXO-M)│OC (Hwang Sena)│Kyuhyun (Super Junior)—just mention.

Genre : Romance│Sad│Fluff│AU

Length : Ficlet

Rating : PG-13

Summary : Sena tidak bisa lupakan dukanya yang tampak dalam sorot matanya, hingga dia datang, sembuhkan lara, hilangkan bekas luka.

©Jung.Sangneul.Present©

***

Big Eyes

            Malam yang panjang, ketika gadis bernama Sena itu harus mempercayai nalurinya, dan ujung yang ia dapatkan berakhir amat-tragis. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan feeling pada manusia, dan mengakhirkan takdirnya dengan keji. Ia tidak ingin menangis, tapi Tuhan buat perasaannya hancur berkeping-keping, terasa nyeri di ulu hati dan dadanya berdebum seakan terbanting keras setelah terbang berputar-putar di udara. Sehingga tak ada pilihan lain, karena airmata hanyutkan ia dalam tangisan.

Sena tahu, bahwa laki-laki itu tidak untuk ditangisi, ketika ia mengenang masa-masa bersamanya. Mungkin saja segalanya memang hanya kebohongan. Mungkin saja lelaki itu berbuat hal yang sama pada gadisnya yang baru. Ia ingat sekali, bagaimana ketika ia memberikan sepatu itu pada lelaki itu. Dan ia tersenyum, mengacak rambutnya, biarkan ia terbuai dan lupa kalau nantinya sepatu itu akan ia pakai berjalan dengan gadis lain. Aroma parfum itu menguar ketika ia lihat lelaki itu dengan gampangnya memeluk gadis tersebut.

Sama. Sama dengan saat ia dulu memeluknya. Dan itu parfum yang dibelikannya, khusus untuk lelaki brengsek itu. Dengan mudahnya dia pakai untuk menjerat gadis lain, memberinya kehangatan sama dengan yang diberikannya dulu padanya. Tak ada yang berbeda, karena mungkin rayuannya juga sama. Rasa kecupan di keningnya mungkin sama. Dan Sena tersentak. Lelaki itu…. player.

Sungguh malam yang panjang, ketika bahkan Sena sampai di apartemennya, dan ia dapati sms di inboxnya.

Sena-ya, mungkin kita tidak bisa bersama lagi. Maaf.

Gadis itu menggigit bibirnya. Membanting handphone sekenanya. Airmata terus membasahi pipinya. Ini menyakitkan sekaligus memuakkan. Tiba-tiba ia merasa muak pernah menjadi mainan lelaki kurang ajar yang bahkan tak tahu apa makna cinta yang sesungguhnya. Mereka hanya mengatakannya di mulut, sedang hatinya bermain dengan wanita-wanita lain. Tapi mengapa?

Mengapa Tuhan buat sebuah benda atau apapun itu bernama ‘perasaan’. Dan karena perasaan itu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bagaikan seonggok sampah yang dibuang dan tak bisa melawan. Hanya tangisan yang keluar beserta bisikan setan yang menamparnya, “Kau bodoh, Sena. Kau memang bodoh, percaya dengan laki-laki. Mereka tak ada bedanya dengan binatang. Dengan kodok yang melompat ke sana-kemari tanpa merasa berdosa. Buang kau, campakkan kekasih kedua, dan bermalam di rumah kekasih ke tiga. Tak ada bedanya. Semuanya sama.”

Atau, “Mereka hanyalah menganggapmu mainan. Ambil dan buang sesuka hati. Manis di lidah, tapi kebohongan terukir jelas, sejelas peluru yang melesat di udara.”

Sena merasa dongkol dan amat sangat terlambat untuk menyadari semuanya kini. Ruangan yang hangat terasa membunuhnya karena ia menggigil, dan terasa tak ada sinar di sana meski lampu belasan watt menyala terang. Ia tidak bisa mengikis rasa ini dengan mudah, dan sempat-sempatnya ia berpikir akan memaafkan dan tetap mencintainya? Terkadang benar kata orang kalau cinta itu buta. Cinta itu gila, dan tak memiliki batasan logika.

Ia terduduk di kasur. Malam yang panjang, berderai tangis dan sesal. Dan sungguh malam yang sangat panjang, ketika ia merasa diterkam dalam mimpi buruknya, tersengal-sengal, dan batinnya akhirnya menyerah. Tidak dapat mempercayai laki-laki lagi.

———————

Matahari yang menyilaukan sekaligus memberi kehangatan pada dunia telah muncul, mungkin sebagian orang mengira sinarnya dapat melenyapkan bekas masalah kemarin dan kembali memulai hari ini dengan penuh gairah. Namun sebagiannya lagi menganggap, sinar itu hanyalah fatamorgana, masalah tetap masalah dan tidak bisa dengan mudahnya dilupakan sebelum benar-benar ada cara yang adil untuk mengusaikannya.

Tapi matahari tidak pernah peduli dengan otak manusia yang kadang terlalu picik untuk mensyukuri kehadirannya yang mampu menerangi dunia ini. Ia tetap bersinar, menerobos jendela kamar seorang gadis dan ia perlahan menggeliat.

Matanya tidak bersahabat ketika terbuka, tampak memerah dan sedikit berembun, mencetak segaris hitam di bawah bola matanya, mengantung. Seakan kurang tidur padahal ia tertidur lebih cepat kemarin.

Dialah Hwang Se Na.

Terlahir dengan latar belakang keluarga yang kurang baik. Ayahnya bercerai dengan Ibunya lantaran mengincar wanita lain. Dengan usia masih delapan tahun, ia telah mengenal apa makna perselingkuhan dan perceraian yang berderai tangis. Ketika temannya masih sibuk menghisap gulali berbagai macam warna, ia malah harus menutup telinga—takut mendengar suara lengkingan tajam Ayah dan Ibunya ketika bertengkar.

Pada usia ke delapan itu pula, ia tidak tahu lagi makna keluarga yang utuh. Ayahnya pergi, dan tetangganya selalu bilang ia bergonta-ganti wanita. Ia tidak paham apa maksud tetangganya bilang begitu dulu. Ibunya sakit-sakitan hingga ia umur dua belas, dan akhirnya meninggalkannya dalam naungan sang nenek.

Namun tidak sedikit pun Sena masih merekam kejadian itu. Ia tidak operasi untuk menggugurkan kenangan masa kecil yang pahit, tapi ia merasa itu dulu. Dulu dengan sekarang berbeda, dan Ayahnya dengan laki-laki lain juga berbeda. Maka ia tak pernah menjauh dari lelaki. Teman laki-lakinya banyak. Dan ia tidak peduli bagaimana sifat-sifat murahan mereka. Sampai akhirnya seorang Cho Kyuhyun menyatakan cinta padanya.

Cinta? Ia baru mengenal apa itu cinta. Dan… semalam ia tahu, itu jauh lebih menyakitkan daripada menyayat nadi dengan pisau bermata tumpul.

Dan untuk pertama kalinya ia tahu, mungkin semua laki-laki sama seperti Ayahnya.

Kecuali ketika ia menyadari pagi ini, bahwa matanya bengkak. Kelopak matanya nampak terbagi menjadi beberapa kerutan, dan saat dibuka rasanya aneh. Seperti ada yang mengganjal. Bagian sudut matanya juga memerah, perih hanya untuk dikedipkan. Apa ia juga mesti menerima beban fisik seperti ini hanya untuk pencurahan segala emosi yang meluap-luap dalam hatinya kemarin? Ia salah apa pada dunia, kenapa dunia ini memperlakukannya dengan keji?

Dan saat ia bercermin, mendesah berulang kali, saat itu pula, hendphonenya berdering.

Ditunggu di kelas Sejarah. Ada tugas yang perlu kutanyakan.

Sena memandang lama layar ponselnya, menyadari bahwa itu sms dari salah satu teman laki-lakinya juga. Mungkin ia salah. Karena setelah melihat nama yang tertera di layar bening itu berulang kali, ia baru saja menyadari satu fakta. Bahwa tidak semua laki-laki…. player.

Mungkin ia kurang beruntung karena wajah tampan seorang Cho Kyuhyun bisa membius hati gadis manapun, dan tatapan mata lelaki itu. Ia tahu ada yang tersembunyi di dalamnya.

Dan yang mengiriminya pesan pagi ini. Dia, tentu tidak seperti itu. Sena tidak tahu mengapa, tapi ia merasa ada magnet yang menggerakkan hatinya untuk melihat bahwa dia bukan tipikal yang seperti Cho Kyuhyun. Dia.

Kim Jongdae.

——————-

Sena menghitung setiap langkahnya, berderap di tangga kampusnya. Memang ia mengejar waktu. Ia terlambat lima belas menit sesudah sms tadi. Dan ia rasa terlalu berlebihan untuk mencemaskan kemarahan seorang Jongdae.

Ia mengenal Jongdae sejak awal kuliahnya, sekitar dua tahun yang lalu. Sosok itu berbeda. Jongdae berbeda dengan teman-teman lelakinya yang lain. Jika yang lain berani bertaruh demi memenangkan hati seorang wanita, Jongdae akan berdalih bahwa memainkan hati wanita itu tidak baik. Jongdae begitu konyol ketika mempertahankan pendapatnya, tapi karena itulah Sena lebih senang menjadi sahabat lelaki itu dibanding teman-teman lelakinya yang lain.

Dan Sena masih sangat ingat, bahwa Jongdae terlalu polos ketika menjawab, “Aku tidak tahu pasti apa itu cinta.” pada lontaran pertanyaan yang Sena berikan. Jongdae orang yang hangat, tidak pernah membuatnya kesal bahkan mendengus sedikit saja tidak. Yang ada, Sena menahan geli di perutnya, mencoba untuk tidak tertawa demi kata-kata Jongdae.

Seorang Kim Jongdae. Dan sudah jelas ia tidak akan marah bahkan jika Sena melupakan janjinya.

“Jongdae-ya!” teriak Sena, tangannya melambai bebas di udara. Lelaki yang masih sibuk dengan laptopnya itu menoleh.

“Uh, Sena.” Sena berjalan mendekat seiring senyumannya terbit. Secara tidak langsung menyuruhnya ke sana.

“Maaf aku terlambat.” kata Sena sembari melepas selempang tasnya, beralih ke laptop Jongdae.

“Hm, aku tahu kau akan terlambat. Oh ya, ajari aku bagan yang ini. Konservasi lingkungan biologis, ah, entahlah. Aku benci sejarah,” katanya mengeklik kolom yang tidak mampu ia isi diantara beberapa kolom yang ada.

Sena menjitak dahinya.

“Mana mungkin mahasiswa jurusan Sejarah mengatakan itu? Untuk apa kau masuk kalau tidak suka, bodoh?” Sena berdecak meski dalam hati ia tertawa melihat ekspresi bodoh Jongdae. Melupakan rasa sakit hatinya pada Kyuhyun kemarin malam.

“Dipaksa Ayah, Ibu, dan high schoolku dulu. Mereka memang diskriminatif,” katanya pelan. “Aku tidak berminat di bidang ini. Aku ingin menjadi arkeolog, meneliti berbagai hal, tapi tidak usah berurusan dengan teori-teori menyebalkan ini. Apa pula hubungan tugas ini dengan fosil-fosil?” Jongdae memutar bola mata.

Lihat, Sena baru saja tertawa terbahak-bahak. Ucapan konyol yang sedikit menguak aib. Sungguh polos.

“Kenapa tertawa?” Sena menahan-nahan tawanya, tidak menjawab tanya Jongdae. Ia kembali menatap layar laptop, tapi sesuatu mengganjal di matanya. Bukan, bukan karena mengingat perkataan lelaki itu yang sudah jelas-jelas bodoh. Arkeolog itu termasuk sejarawan. Mana ada sejarawan tidak suka kuliah tentang Sejarah?

“Eh, tapi Sena,” Sena menoleh.

Jongdae mendekat sejengkal, melihat wajahnya intens. Raut wajahnya tidak terbaca oleh Sena, hanya saja itu terlihat seperti wajah para detektif yang mencurigai sesuatu. Sena mengernyit. Ada apa?

Jongdae semakin mendekat, Sena berpikiran yang tidak-tidak(sambil menolak pemikirannya sendiri), hampir mendorong jauh lelaki itu sebelum Jongdae menjauh sendiri dan bertanya, “Ada apa dengan mata indahmu?”

Sena menaikkan alis. Hanya itu? Dan apa katanya? Mata… indah?

“Ada apa dengan matamu, heh? Lihat, merah begitu. Kelopak matanya membesar, berarti matamu iritasi. Tidak diobati?” omel Jongdae hingga Sena pikir itu mirip dengan ibu-ibu yang menggosip di teras rumah di kompleksnya.

“Tidak. Paling nanti sembuh sendiri.” sahut Sena.

“Kau seperti orang yang baru menangis lama,” Jongdae berkata santai sambil memainkan ujung kaki.

Deg! Sena merasa, ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan lelaki di sebelahnya ini. Hingga tanpa cerita pun lelaki itu bisa tahu? Sena hanya menyengir pelan.

“Tidak juga. Oh ya, ini sudah. Aku lapar, mau mentraktirku?” Sena mengerling.

“Iya, kutraktir. Mau makan apa, Nona Hwang Sena?”

Sena memukul pelan lengannya sambil tertawa. Seakan magic, tawa itu bahkan bisa menyembul dari bibir Sena begitu saja setelah ratapan tangisnya bahkan masih meninggalkan jejak.

——————

“Masih sakit,” gumam Sena, mengamati matanya yang tampak membesar dan berkedut tak tenang dari balik cermin meja riasnya.

Gadis itu memandangi kalender dan kotak obat mata kecil. Isi botolnya hampir habis. Sudah digunakan lebih dari seminggu (sedikit melanggar peraturan Dokter). Ya, akhirnya Jongdae memaksa-maksanya ke Dokter, melakukan check up. Dan sudah lebih dari seminggu, Jongdae khawatir setiap hari karena Sena tak juga sembuh. Penyakit mata macam apa itu?

“Mungkin kutukan.” Itu celetukan Jongdae, tapi ia hanya bercanda. Karena Jongdae tertawa hambar setelahnya. “Tapi kenapa tidak juga sembuh kalau bukan kutukan?” Karena itu lontaran katanya selanjutnya. Sementara Sena hanya diam.

Ia juga bingung mengapa susah sekali menghapus jejak Kyuhyun dalam fisiknya. Ia sepenuhnya lupa kejadian yang ia alami malam itu, tapi mengapa Tuhan membekaskannya pada matanya? Mengapa?

Ponselnya berdering beberapa menit sesudah ia memutuskan membuang kotak obatnya, sudah susah diteteskan.

Sena-ya, aku tahu bagaimana menyembuhkannya.

Sena berbinar, mengukir seulas senyum. Bagaimana? Sekonyol apapun tak apa, ia hanya mengharapkan kesembuhan. Bahkan jika jalannya agak tidak sah sekalipun.

Bagaimana? ^^

Jongdae agak lama membalasnya.

Datanglah ke taman kota, sekarang. Terlambat lima belas menit tidak ada lagi persediaan obat.

Meski tidak paham obat mata apa yang ada di taman kota, tapi Sena tetap bersiap-siap. Mungkin saja ada stan yang mempromosikan obat mata di sana. Tak pernah ada kata tidak mungkin. Jadi ia tetap bersiap-siap dan pergi.

——————-

Tapi tidak ada stan. Taman itu sangat sepi, jauh lebih lengang dari yang biasa. Padahal Sena mati-matian menyetop bus dan berlari-larian agar tiba di sini. Tapi… lengang? Hanya ada suara siulan laki-laki berambut hitam terhalang bias mentari di sini?

“Jongdae-ah,” panggil Sena. Lelaki itu menoleh. Tersenyum, dan Sena curiga karena senyum itu bukanlah senyumnya yang biasa.

“Mana obatnya?” tanya Sena bahkan tanpa basa-basi.

“Duduklah dulu,” Sena menurut.

“Hm, aku baru saja tahu kalau kau putus dengan Kyuhyun. Pantas kau tidak membicarakannya lagi dan aku melihatmu sinis dengannya akhir-akhir ini.”

“Jangan sebut namanya lagi.” tahan Sena.

“Iya, aku tahu. Tapi,” Jongdae menoleh, “Jangan buat matamu terluka hanya demi dia.” Sumpah Sena baru melihat tatapan Jongdae yang seperti ini, dan ini… magic. Lagi-lagi seolah ada sihir, Sena membeku. Sama ketika ia bisa kembali tertawa hanya dengan menatap Jongdae.

“Dan, caranya agar kau bisa sembuh dari penyakitmu adalah…”

Deg! Sena bisa mendengar degup jantungnya berpacu entah karena apa. Ini sama ketika Jongdae mendekat di kampus waktu itu, dan apa yang memenuhi pikirannya? Jongdae tidak mau menciumnya bukan? Oh tentu tidak, pikiran Sena berkelebat tak pasti.

Waktu itu, tidak. Tapi sekarang…..

Sena merasakan matanya tertutup spontan, dan sesaat setelahnya…

Sena tahu, Jongdae mengecup matanya.

“Itu obatnya. Kuharap kau cepat sembuh. Lupakan Cho Kyuhyun bodoh itu, karena……” Sena membuka mata dan tersenyum.

“Karena? Kau mau menggantikannya, begitu?”

Jongdae diam, dan Sena tertawa. Baginya diam adalah jawaban paling tulus dari lelaki polos yang tiba-tiba merenggut hatinya itu.

“Terima kasih. Aku pasti sembuh, karena ada kau.”

Sore yang indah, mereka berdua tersenyum. Dan perlahan, kelopak mata Sena mengecil. Bintik merahnya juga memudar dan perlahan menghilang. Hati dan fisiknya sudah sempurna terobati.

 

THE END

Kyaaaaa~~~

Kembali dengan ff baru yang terinspirasi lagunya 2ne1 yang It Hurts, terus juga gara-gara aku sakit mata nggak sembuh-sembuh, kali aja dicium EXO jadi sembuh (nggak mikir gitu juga sih pas itu hehe aku kan masih kecil). Terus unniku lagi suka sama Chen Chen! Kali aja dia bisa seromantis ini di balik muka trollnya hahaha 😀

Yaudah daripada banyak bacot, mending kalian cepetan komen. Yang komen aku kasih hadiah poppo dari uri Chen Chen! 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s