[Fanfiction] Sincerity

sincerity

Title : Sincerity

Cast : Luhan (EXO-M)│Sehun (EXO-K)

Genre : Friendship ‘till the end!

Length : Ficlet (>1000w)

Rate : Teenage

©Jung. Sangneul. Present©

###

Sincerity

 

Jalanan tengah kota terasa becek ketika terinjak oleh kaki. Hujan semalam mengguyur tiada henti, sisakan embun pagi yang dingin terasa di kulit. Masih sekitar pukul enam pagi ketika lelaki itu menjejakkan langkahnya ke sebuah kedai yang terletak tak jauh dari tempatnya keluar tadi—lobby sebuah gedung bertingkat. Ia memeluk tubuhnya yang mendingin tersergap udara pagi. Sejurus kemudian mulutnya bekerja memesan satu menu favorit yang menjadi andalan kedai itu.

“Bubble tea satu cup, ahjussi,” Paman yang melayani di sana tersenyum sumringah melihat kedatangannya.

“Halo, Sehun-ah. Sepagi ini sudah minum bubble tea, hm?” tanyanya sambil melirik jam di dinding kedainya yang masih sepi. Mungkin orang lain masih melanjutkan tidurnya yang tenang, mengubur diri di balik selimut.

Sehun balas tersenyum ramah.

“Iya, aku sedang bosan. Ah, gomapta ahjussi. Aku duluan ya.” Sehun menerima se-cup bubble teanya dan masih mengucap salam ketika sudah menyedotnya seseruput.

“Ne, Sehun. Semoga harimu menyenangkan!” seru si paman dari balik konternya, melanjutkan membereskan beberapa peralatan.

Sehun berjalan berbalik, menatap jajaran pertokoan yang berderet di sekitar kedai kecil yang hangat itu. Masih menyedot bubble tea dan mengunyah butiran pearl-nya ketika ia teringat satu fakta yang terasa hampa di dadanya.

Semoga harimu menyenangkan.

Ia tidak yakin dengan kata-kata penuh asumsi itu. Kehampaan yang tiba-tiba terasa di dadanya akhir-akhir ini cukup membuatnya ragu. Mengapa hari itu ia sempat berkejaran dengan ahjumma dan akhirnya menerima kartu member untuk menjadi seorang, trainee.

Umurnya hari itu masih sangat belia, dengan rambut hitam berponi menutup dahi, dan ia mungkin tidak tahu apa itu trainee sebelum Ibunya yang bersenyum menghangatkan menerangkan semuanya. Dengan menjadi trainee, kau akan bisa menjadi bintang di televisi.

Hari itu mata Sehun berbinar mendengarnya. Bintang di televisi? Itu terdengar sangat menarik di telinganya dan dengan izin sang Ibu ia akhirnya datang ke alamat yang tertera di kartu itu.

Sehun harus bisa jadi yang terbaik, ya.

Dulu Sehun mengangguk kuat-kuat untuk kata-kata itu, namun mengapa sekarang relung hatinya merasa ada yang kosong? Seperti ada yang merayap masuk dan membekukan hatinya di dalam sana. Hingga ia berpikiran mungkin keputusannya menjadi trainee itu salah.

Menjadi trainee di salah satu perusahaan agency besar, itu bukanlah hal yang mudah semudah kau tersenyum di pagi hari, semudah kau menangkap bayang senja di perbukitan, seperti membalikkan dua sisi koin. Tidak semudah yang ia pikirkan dulu. Rutinitasnya terlalu sibuk, dan terlalu banyak larangan. Ia tidak boleh ini-tidak boleh itu.

Kadang Sehun rindu dengan hangatnya rumahnya, masakan Ibunya, atau sekedar pelukan khas dari Ayahnya. Ia rindu bagaimana tertawa bersama dengan orangtuanya dan itu tidak didapatkannya selama menjadi trainee.

 

Sehun menghembuskan nafasnya kuat, mengundang segumpal kabut di udara. Tapi mana bisa ia menyesali semuanya. Semua terlanjur berjalan ketika hari itu ia bertemu seorang senior bernama Junmyeon dan bagaimana mereka latihan vokal bersama. Itu menyenangkan saat pertama kali. Bagaimana ia bertemu dengan seorang dancer bernama Jongin dan mereka bertukar nomor handphone—mereka sebaya. Dan mereka pun berlatih dance hingga rasanya semua bagian tubuhnya kelu. Itu juga terasa menyenangkan saat pertama kali.

Seharusnya Sehun tetap bisa menikmatinya dengan baik, namun rasa jenuh menekan jauh di ujung hatinya. Sampai kapan ia akan terus disibukkan dengan aktivitas ini dan itu. Apa sampai ia tua nanti?

Tanpa sadar ia mengacuhkan bubble teanya ketika terhenti di depan sebuah banner raksasa di jajaran pertokoan ellite di pusat kota Seoul itu.

 

Itu gambar sunbaenya, Super Junior. Ia perlahan menelan ludah. Mungkin ketika kau selalu mendongak ke atas melihat bintang yang sudah bersinar amat terang, kau akan lupa siapa dirimu di bawah sini yang hanya segenggam batu kerikil, tak lebih. Tak akan ada orang yang mau memandang ke arahmu.

Begitu pula dengan Sehun. Sehun hanyalah seorang trainee, dan ia tidak tahu sampai kapan akan jadi trainee. Mungkin SM akan mendebutkannya sepuluh tahun kemudian, atau ia akan dibuang dan mereka menganggap hari itu, penawaran itu, hanya salah pilih talenta. Ia membuang nafas lagi dan menatap awan biru di atas sana.

Ia tidak akan bisa mengubah takdir, ia tahu betul itu. Tapi mengapa ada rasa tak ingin menggelegak di dasar jiwanya. Ia… ingin bebas, mungkin.

 

Sehun tidak tahu ini jam berapa ketika tiba lagi di depan lift kantornya yang hangat dan menekan angka dua di mana kamarnya berada. Ini bukan kantor pusat, namun juga terletak di kawasan Seoul.

Matanya sedikit menyipit, kemudian berjalan berbelok arah dan menuju kamarnya. Ia hendak memasukkan sandi ketika mendapati kamarnya terbuka lebar.

Siapa yang masuk?

Ia masuk sedepa dan mendengar lantunan musik klasik dari sini. Terdengar lembut dan menenangkan, sentuhan yang belum Sehun rasakan selama menjadi trainee.

“Ehm.” Ia berdeham pelan dan orang yang duduk di kursi belajarnya sontak menoleh, mematikan musiknya.

“Ah, annyeong. Maaf aku lancang.” kata lelaki itu, tersenyum ramah dan terlihat menyenangkan dari lengkung bibirnya dan matanya yang ikut menyipit.

“Kau… siapa?” tanya Sehun, masih menggenggam cup bubble teanya.

“Eung, aku…” Ucapannya menggantung.

“Ah! Ini bubble tea, kan? Ah, aku sudah mencari-carinya tapi tidak ketemu juga.” Matanya berbinar senang dan Sehun hanya bisa mematung ketika lelaki itu menarik cup minumannya dan menyedotnya hingga… habis, terdengar dari suaranya.

“Kau—”

“Ah. Sehun-ssi, maaf. Maafkan aku. Aku benar-benar menyukai minuman ini dan… ah maafkan aku.” Lelaki itu merutuki kebodohannya dan menepuk kepalanya.

Namun entah bagaimana ceritanya, Sehun tidak marah, justru ia tertawa melihat wajah lelaki itu yang tampak amat menyesal.

Lelaki di hadapannya berhenti minta maaf dan mengerutkan keningnya.

“Haha, kau lucu sekali. Tidak apa-apa, aku juga sudah bosan minum itu. Oh ya, namamu?” tanya Sehun. Ia merasakan segurat kenyamanan ketika menatap mata lelaki di hadapannya, dengan spontan menyodorkan tangan dan melupakan kejemuannya akan trainee.

“Aku, Luhan. Aku trainee baru dari Beijing, mohon bantuannya.”

Sehun semakin menahan geli ketika lelaki di hadapannya membungkuk beberapa derajat.

“Eumm, umurmu berapa?” tanyanya kemudian. Dilihat dari tingkat kedewasaannya, Luhan sudah pasti berada di atasnya, mungkin beberapa bulan—seperti Jongin. Karena ia melihat wajah remaja di sana dan… sedikit mirip dengan miliknya—meski tatapan mata itu berbeda. Dia jauh lebih lembut dan tampak sabar.

“Sembilan belas. Kau?”

Mata Sehun terbelalak lebar.

Sembilan belas?

“Hey, kau tidak apa-apa, kan?” Luhan sedikit mengguncang bahunya.

Sehun mengangguk kecil. “Kenapa kau terlihat muda sekali? Aku, lima belas.”

Luhan tertawa, matanya menyipit kembali.

“Mungkin kau perlu memanggilku hyung, Sehun-ah.” katanya kemudian.

 

Sehun perlu sedikit waktu, sedikit saja yang bermakna beberapa hari bersama Luhan, dan ia tahu Luhan menyenangkan, dan ia belajar banyak dari dirinya. Luhan mengenal banyak sunbae dalam waktu relatif cepat, ia juga bisa mengatakan banyak hal untuk menyemangati Sehun.

Sehun, terkadang Tuhan selalu memberikan cobaan sebelum keberhasilan. Tapi percayalah, kalau Dia selalu tahu apa yang kau butuhkan, bukan sekedar yang kau inginkan. Jadi kau hanya perlu rela menjalani semua ini, maka semua akan terasa mudah dan menyenangkan. Ingat kalau ini impianmu.

 

Dan satu hal yang Sehun ingat setelah itu. Luhan adalah alasannya untuk membuang kejenuhan jauh-jauh dan mulai merajut mimpi kembali. Mungkin dulu ia hanya butuh seorang kakak. Kakak yang bisa memahaminya dan begitupun sebaliknya.

Hingga Sehun menemukan dirinya sudah berdiri di panggung megah, menerima berjuta tepukan tangan dahsyat, bersama sebelas kakak, teman seperjuangannya. Dengan sejuta fans dan Sehun bisa mendengar suara itu. Teriakan menyebut nama Luhan. Iya, dengan semua semangat dan keloyalannya, Luhan berhak mendapatkan itu.

Terima kasih, hyung. Berkat kau, aku bisa terus melangkah sejauh ini.

            Haha, sama-sama Sehunie.

 

THE END

Huaaaaaaa ToT

Nangisssssss kenapa bisa aku ngeship banget pertemanannya hunhan gini?!!!!!

Sumpah ya awalnya itu aku nggak suka apapun dari HunHan, aku nganggep mereka ya sekedar sesama member EXO yang deket. Tapi demi apa gara-gara sebuah ff dan aku feel banget pertemanan mereka. Hahahah

Okelah enjoy it dan jangan lupa tinggalkan komentar/bow/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s