[Fanfiction] 21 Stars and 21.00

// 21 Stars and 21.00 //

Starring : Suzy (Miss A) and Sulli(f(x))

Horror, Slight!Angst, Sister-ship││Ficlet││General and Teenager

*Presented by Jung Sangneul*

©Adapted from My Real Dream©2013©

———-

 

Malam.

Gadis itu kembali menghitung bintang rekayasa yang tertempel di langit-langit kamarnya, kendati ia sudah menghafal jumlahnya sejak lama. Lama sekali. Kamarnya terasa berkilap, itu juga sudah lama, lama sekali. Sampai ia lupa kapan pertama kali ia melihat semua pemandangan ini. Tubuhnya berguling ke samping setelah selesai mengerjap dan menghitung bintang-bintang itu.

Ada 21. Dengan bintang paling besar di tengah. Mungkin itu yang namanya bintang kejora, pikirnya. Ia masih tersenyum di detik ini, namun detik berikutnya ia merengut. Sebal. Malam sebelumnya tidak ia pungkiri juga terlewati dengan cara ini. Tapi ia tidak sendiri. Ia bersama seorang teman, sahabat, juga saudara. Satu orang yang merangkap banyak status baginya.

Namanya Sulli hari ini. Tapi teman, sahabat, dan saudaranya itu memanggilnya Li-ah, dan ia selalu tersenyum setiap panggilan itu hampiri telinganya. Itu terdengar manis, baginya.

Seharusnya juga malam ini teman, sahabat, dan saudaranya itu ada di sebelahnya dan mereka bisa menghitung bintang bersama. Bahwa bintangnya masih sama seperti pertama kali mereka menghitungnya bersama. Jika ada tambahan, itu aneh, karena mereka susah untuk memasang bintang tambahan. Dulu bintang-bintang itu dipasang oleh orangtua mereka—tepatnya Ayah mereka. Dan kini, Ayah mereka telah berpulang, sementara Ibu mereka menetap di luar negeri sementara waktu, bergelut dengan pekerjaannya sendiri.

Meninggalkan keduanya di Korea sendiri.

“Suzy-ah, datanglah. Aku kesepian.” rintih Sulli pada akhirnya, ia memainkan selimut di sebelahnya. Ia tidak bisa tidur sendiri, sejujurnya. Dan teman-saudara-sahabatnya, Suzy, harus cepat mengisi kekosongan ini.

 

Cklek.

Sulli menguap sedikit ketika dilihatnya pintu kamarnya terbuka separuh, menampakkan senyuman usil dari wajah cantik di sana. Meski gelap ia tahu itu siapa.

“Hey, Li-ah. Belum tidur?” Gadis tadi, yang Sulli kenal betul merupakan Suzy datang mendekat dan duduk di dekat kasurnya. Sulli segera bangkit dan tersenyum memeluk Suzy.

“Belum! Aku menunggumu. Kau ke mana saja, eoh? Lupa jalan pulang? Sudah tiga hari tidak pulang, sepi sekali.” Sulli merengek kecil.

“Aww.” Suzy malah merintih kesakitan ketika Sulli mengeratkan pelukannya.

Seketika Sulli melepaskan rengkuhannya, dahinya mengernyit tak paham.

“Ada apa?” tanyanya kemudian. Ia bangkit dan menyalakan lampu. Ia lihat, Suzy memakai dress putih selutut dan rambutnya tergerai. Wajahnya sedikit terluka memar, membuat Sulli melonjak kaget dan segera kembali duduk.

“Wajahmu kenapa? Hey, kau terjatuh ketika pergi ke hutan kemarin? Siapa yang mendorongmu di perjalanan? Kau meluncur di tebing?” tanya Sulli, nada khawatir tampak kentara. Namun kontras, Suzy justru hanya tertawa renyah mendengarnya.

“Kau masih bisa tertawa? Hey ini luka, Suzy! Pasti sakit kan?” Sulli mencoba menyentuh luka itu, dan tepat, gadis di depannya merintih kesakitan. Oh, mungkin itu alasan Suzy mengaduh ketika dipeluk. Mungkin bahu Sulli menyentuh luka ini.

“Tunggu sebentar,” Sulli beranjak hendak mengambil obat merah, tapi tangan Suzy menahannya.

“Tidak usah, Li-ah. Aku tidak apa, ayo kita tidur.” Suzy menarik tangannya dan Sulli hanya merengut. Ia kan mau mengobati luka itu, agar wajah Suzy terlihat cantik kembali. Ya, meski dengan keadaan begini pun Suzy tetap cantik.

“Kau tidak mau ganti baju dulu?” tanya Sulli setelah kembali mematikan lampu. Bintang itu kembali memberikan kemilaunya.

“Aku lelah, besok pagi saja.” Suzy langsung merebahkan tubuhnya dan mengerjap menatap bintang di atas.

“Jumlahnya masih sama?” tanyanya pada Sulli yang baru beringsut naik.

“Yap. Masih dua puluh satu.” Sulli tersenyum. Suzy hanya berdengung lirih sebelum kembali bicara,

“Kemarin, di hutan, aku bertemu Appa.” ujarnya. Sulli sedikit rancu sebelum menoleh menatap manik Suzy.

“Oh, maksudnya orangnya mirip dengan Appa?” tanya Sulli. “Appa sudah meninggal, kau tahu itu Suzy.”

Suzy menggeleng sekaligus mengangguk, membuat kebingungan semakin menguar di benak Sulli.

“Ya, kalau memang itu bukan Appa, berarti dia amat-sangat mirip dengan Appa.” Suzy terdengar menghela nafasnya.

“Mungkin,” jawab Sulli sambil menguap. “Bagaimana perjalananmu tiga hari kemarin? Seru?”

Suzy hanya tertawa. “Kau mengantuk. Lebih baik tidur.” Suzy menaikkan selimut dan mengusap kepala Sulli. “Selamat tidur, Li-ah. Aku menyayangimu.” Sulli tersenyum mendengarnya.

***

            Barangkali karena Suzy terlalu cantik, atau terlalu perhatian padanya layaknya seorang kakak, padahal nyatanya umur mereka hanya terpaut beberapa bulan saja. Ya, Suzy bukan anak kandung di keluarga ini, tapi Sulli menyayanginya. Karena mereka terbiasa mengerjakan PR bersama-sama. Karena mereka membuat prakarya berdua, Bu Guru bilang hasilnya mirip. Karena mereka tertidur bersama. Berperang bantal ketika memperdebatkan sesuatu yang berujung pada pelotot-pelototan.

Karena mereka seperti saudara kandung.

Maka sebab itu, Sulli tidak curiga apapun ketika Suzy pulang kemarin malam. Pun dengan bajunya yang tidak tampak seperti baru pulang dari penjelajahan alam tiga hari lamanya. Tidak ada barang-barang yang dibawa gadis itu. Ia juga tidak curiga bagaimana Suzy bisa masuk dengan gampangnya padahal kunci rumahnya ada pada Sulli(oh, Suzy punya kunci cadangan, itu mungkin). Sulli juga tidak bertanya lebih lanjut bagaimana wajah Suzy bisa seperti itu. Ia hanya merindukan Suzy dan ingin memeluknya saat itu.

Ia sedikit linglung ketika pagi ini bangun dengan kepala berat, dan dilihatnya kamarnya jauh lebih rapi. Oh, pasti pekerjaan Suzy. Ia lebih rajin membereskan perkakas dibanding dirinya.

“Suzy-ah!” teriak Sulli, suaranya sedikit parau ketika ia menuruni tangga rumahnya dan semua tampak lengang. Di bawah terdapat dapur dan kamar mandi. Ruang tamu ada di depan sendiri. Hanya ada gemerutuk suara akuarium dan suara kelambu yang tertiup angin. Jendelanya sudah terbuka.

“Suzy-ah!” teriak Sulli lagi. Ia melihat makanan telah tersedia di meja makan. Kesukaan Sulli, ddokbokki. Ia tersenyum sekilas melihatnya, bangga pada Suzy.

“Suzy-ah!!!” teriaknya sekali lagi, sebal karena tidak ada jawaban apapun.

“Ish, ke mana sih dia…” desah Sulli kemudian mengeluarkan ponsel. Namun ponsel Suzy di seberang sana tidak aktif.

 

 

Satu jam.

Makanan itu dingin tanpa Sulli sentuh. Ia tidak mau makan sendiri, segala sesuatu terbiasa ia lakukan dengan Suzy. Berulang kali ia mendesah kasar ketika hanya suara operator yang menyahuti ponselnya.

“Ah, nanti juga pulang sendiri!” Sulli tersenyum, berpikir Suzy berjalan-jalan dengan dress itu. Mungkin lucu juga, karena penduduk akan mengiranya hantu di siang bolong. Ah, tapi ia sudah mengganti bajunya, itu mutlak.

Merasa bosan, Sulli mengambil remote TV dan menyalakannya. Mengganti-ganti channel, hingga berhenti di channel kesukaannya, biasanya menayangkan variety show selebriti di jam seperti ini. Tapi sedang ada berita terkini, tidak ada salahnya menunggu.

Sulli menyimak biasa, sebelum….

“Dikabarkan kemarin, tepatnya 21 Januari pukul 21.00 telah terjadi kecelakaan kereta di mana rel amblas dan menyebabkan kereta anjlok. Kerugian bernilai trilyunan rupiah, sementara korban luka belasan orang, dan korban tewas hanya ada satu orang. Gadis malang tersebut bernama Choi Suzy, ia putri angkat dari Choi Seunghyun yang telah meninggal beberapa tahun lalu dan mewariskan perusahaannya pada Nyonya  Park Hyebin.”

 

Seakan dibanting ke tanah setelah terbang berputar-putar di udara, Sulli tanpa sadar meneteskan airmatanya. Pukul sepuluh, ia rasa itu saat Suzy baru saja tiba dan ia memeluknya. Itu nyata, kan?

“Tidak, itu tidak mungkin…” rintihnya. Ia masih ingat jelas bagaimana Suzy datang tadi malam dan tidur di sebelahnya. Masih sempat menghitung bintang di langit-langit kamar mereka, bahkan membicarakan Ayah mereka.

 

“Kemarin aku bertemu dengan Ayah.”

 

Sulli merasakan dadanya remuk.

“Tidak! Dia masih hidup!” Sulli berteriak sejadi-jadinya, airmata luruh lagi ketika ia membanting remote TV pada layar. Namun berita itu tidak berhenti.

 

“Nona Choi Suzy meninggal dengan mengenaskan, wajahnya terluka parah dan dress putihnya sudah berlumur darah. Pihak kereta api berjanji akan segera memperbaiki rel tersebut. Sementara, kereta juusan itu dialihkan ke kereta lain. Sekian berita terkini kali ini.”

Lalu siapa yang merapikan kamar Sulli? Siapa yang menyiapkan makanan itu? Dan siapa yang membuka jendela?

 

 

THE END

Sujud syukur, akhirnya ff ini jadi juga. Mungkin ngarangnya cuma sekitar sejam jadi maaf kalau horrornya nggak berasa ya. FF ini terinspirasi dan mengadaptasi dari mimpi sejatiku. Aku lagi sebel banget karena proyek writing prompts, dan yasudah. Mending ngarang ini aja. Selamat menikmati dan ditunggu komentarnya. Love you all ><

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s