[Fanfiction] Crying

[request poster] crying

Crying….

Cast : Kim Dasom (Sistar) and Kim Myungsoo (Infinate)

Genre: Romance, Sad

Length: One Shoot

Rating: Siapa saja boleh ^^

Author: Jung Sang Ri

Annyeong!!!!

Aku kembali lagi dengan FF One Shoot……

Kangen juga dengan FF One Shoot, dan kali ini sepertinya aku akan membuat FF dari lagu Sistar – Crying. Lagunya sedih (Walau nadanya tidak terlalu sedih juga) tetapi aku suka. Entah kenapa? Aku juga tidak tau. Yasudah deh, kalau begitu langsung baca aja ya ^^ DON’T BASH AND PLAGIAT!

HAPPY READING

 ***

“Air mata ini tak bisa berhenti, ketika aku selalu mengingat kalimat itu. Tak ada satupun yang bisa kuingat selain kalimat itu. Kalimat itu adalah kalimat yang terindah ketika kau ucapkan, tetapi begitu menyakitkan ketika kuingat kembali.”

 

Yeoja itu hanya bisa memeluk kakinya sambil menggigit bibir bawahnya. Berharap sakitnya kali ini bisa terbayar habis untuk hari ini saja. Tetapi waktu cepat berlalu, sampai waktu berganti kembali menjadi waktu awal, semua tetap saja, semua tetap rasanya sakit dan tak ada perubahan baginya sampai saat ini.

Mungkin ini sangat keterlaluan baginya, karena dari kemarin ia tak bisa tidur. 24 jam ia habiskan hanya untuk melamun dan meneteskan air mata. Ia membiarkan air matanya mengalir, walau ia tau kalau semua itu tak akan mengubah keputusan namja yang hampir 3 tahun ia cintai itu.

“Dasom, kita harus berpisah..”

“Memang berat untukmu melupakanku..”

“Tetapi kau harus melupakanku..”

“Kau harus melupakanku..”

Namja itu meninggalkannya, memaksanya untuk melupakan dan menghapus nama namja itu dari hatinya. Mungkin untuk mengatakannya bisa, tetapi untuk melakukannya sangatlah sulit, tidak seperti menghapus tulisan di papan tulis.

“Aku tidak bisa, Myungsoo-Oppa.”

Sebuah penolakan tegas yang dikatakan Dasom, walau penolakan itu ia katakan di belakang namja yang bermarga Kim. Mungkin yang mendengar suaranya saat ini adalah benda mati, atau binatang kecil yang dekat denganya. Dan mungkin kini angin sedang tertawa lepas karena melihat seorang manusia yang kini menangis dan berharap angin mengantarkan suara itu menuju telinga namja yang bernama Myungsoo. Mungkin saja.

Matahari sudah muncul kembali, suara burung meramaikan suasana hari ini. Sekumpulan manusia keluar dan menjalankan aktivitasnya masing-masing. Dengan raut wajah yang kusut dan mata yang bengkak karena menangis, Dasom melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Hari ini tak ada kegiatan karena hari ini adalah hari libur. Dan mungkin Dasom akan menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan walau ia tak tau akan berjalan-jalan ke mana.

Namja itu hanya bisa menghembuskan nafasnya berkali-kali, biasanya kamera yang ia bawa akan terpenuhi oleh foto seorang yeoja yang selalu merengek untuk difoto. Tetapi kini tak ada lagi yang merengek kepadanya, semua itu hilang.

“Kenapa kita putus?”

“Apakah kau tak mencintaiku lagi?”

“Kenapa?”

“Coba katakan, Myungsoo-Oppa!”

Namja yang bernama Myungsoo hanya bisa menatap foto seorang yeoja di kameranya. Setiap hari ia membawa memori yang penuh, dan setiap hari juga ia akan menatap foto yeoja yang ia cintai itu. Sudah hampir 5 memori habis karena foto yeoja itu, dan mungkin untuk seterusnya 1 memori cukup untuk satu bulan atau lebih.

“Oppa! Aku mau difoto di sini..”

“Ayolah Oppa.. aku mau difoto..”

“Oppa.. ayo! aku mau difoto!”

“Kenapa tidak difoto-foto juga? Memorinya habis lagi, ya? Baiklah, ayo kita membeli memorinya lagi!”

“Pentingnya, setiap hari aku mau difoto!”

“Kalau tidak, aku akan marah!”

“Kau tau, aku mau difoto seperti ini agar kau tak lupa denganku.”

“Aku mencintaimu..”

“Selalu..”

Semua kata-kata itu sudah menghilang, dan mungkin akan menjadi kenang-kenangan di dalam hatinya. Walau yeoja itu terlihat cerewet, tetapi ia menyukainya. Andai saja ia tak mengalami satu penderitaan, mungkin ia tak akan memutuskan yeoja itu. Tak akan.

“Maaf, mungkin kali ini anda harus bersabar.”

“Karena untuk mendapatkan pendonor jantung itu tidak mudah.”

“Mungkin untuk satu bulan ke depan, anda harus menerima perawatan dari rumah sakit.”

“Atau mungkin anda bisa setiap hari check-up ke rumah sakit, itu salah satu tindakan awal untuk menanggapi penyakit anda.”

“Semua pasti ada jalan keluarnya, anda harus bersabar. Anda harus yakin bahwa anda bisa sembuh.”

Hanya karena satu penyakit, semua bisa hancur. Dan hanya karena satu alasan, semua bisa menghilang begitu saja. Ia tak ingin yeoja itu menangis ketika yeoja itu mengetahui bahwa ia sakit, apalagi jika yeoja itu terus menunggunya pada saat nantinya ia akan diopname di rumah sakit.

“Andai kau tau bahwa diriku sakit, apakah kau akan tetap mencintaiku?”

Langkah demi langkah sudah ia lalui, menghirup udara sejuk kota Seoul memang menyenangkan, tetapi ketika ada sesuatu yang ia pikirkan, maka semua itu akan terasa biasa-biasa saja.

“Maukah kau menjadi yeojachinguku?”

“Aku mencintaimu..”

“Dan aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi..”

“Aku mencintaimu..”

Dasom hanya bisa tersenyum tipis saat ia berhenti di salah satu kursi taman, tempat itu adalah tempat ketika Myungsoo menyatakan perasaan kepadanya. Ia masih ingat pada saat itu ia masih diam-diam tak jelas karena ia masih terlihat kaku di depan Myungsoo. Apalagi pada saat itu ia baru kenal dengan Myungsoo beberapa bulan sebelumnya, belum bisa dibilang akrab, tapi cukup kenal saja.

“Terima kasih, aku berjanji, aku tak akan menyakitimu.”

“Dan aku.. tak akan pernah meninggalkanmu..”

Senyuman itu memudar ketika kata-kata itu terlintas dan teringat olehnya, janji itu ternyata tak bisa ditepati oleh Myungsoo, dan alhasil ia pasti kecewa.

“Sebenarnya, apa alasannya kau memutuskan hubungan ini?” tanya Dasom lirih. Berulang kali pertanyaan itu terlintas dan tetap saja menetap di otaknya, sampai detik ini pun tak ada yang bisa mengalahkan pertanyaan itu. Ia heran, tetapi ia penasaran dengan alasan yang membuat Myungsoo memutuskan hubungan ini.

“Oppa, ingat tidak hari ini hari apa?”

“Hari ini? Hari ini hari minggu, bukan?”

“Bukan itu maksudku, Oppa. Bisa kau ingat kembali?”

“Apa? Hari ini adalah hari libur?”

“Bukan itu, Oppa.. bukan. Kenapa kau lupa?”

“Memangnya hari ini hari apa?”

“Huft.. kenapa kau bisa melupakannya? Hari ini adalah hari Anniversary kita yang pertama. Kenapa Oppa bisa lupa?”

“Jinjja? Wah.. aku benar-benar tak sadar kalau kita sudah bersama selama satu tahun.”

“Sama, aku juga tidak sadar bahwa kita sudah setahun bersama.”

“Oppa..”

“Ne?”

“Aku mencintaimu..”

“Ne, aku juga mencintaimu, Dasom.”

Sepertinya janji untuk mencintai Dasom tidak ia tepati, ia hanya bisa mencintai Dasom sementara, dan itu tak akan selamanya.

“Maafkan aku, Dasom. Aku memang namja babo, membiarkan kau menangis tanpa ada yang bisa menenangkanmu. Maafkan aku..”

Tak terasa, sudah hampir 3 jam ia berdiri di tempat yang sama, tak lelah ia terus memandang kursi taman itu, dan dengan bodohnya ia meneteskan air mata kembali. Ia sadar, bahwa tempat ia berpijak kali ini bukanlah tempat khusus, melainkan tempat umum. Dan setiap orang bisa melihat apa yang ia lakukan, sungguh bodoh, tapi ia memang ingin tetap di sini. Mengenang masa di mana ia memulai hidup bersama namja yang bernama Myungsoo.

Ia tak akan berhenti menangis, ia juga tak akan berpindah posisi untuk ke tempat lain. Memandang kursi taman itu dan memperhatikan tulisan yang terpahat di pohon tua dekat kursi taman itu.

“Myungsoo dan Dasom.”

Ia kembali tersenyum, mengingat kapan nama itu terpahat dan siapa yang berani melukai pohon itu. Walau ia tau kalau pohon itu terluka, tapi buatnya, ia tak akan terluka saat melihat pahatan itu.

Memang tak lelah untuk seorang Dasom menangis, tetapi mungkin semua manusia tak tau kalau ia lelah untuk merasakan hatinya yang sakit. Walau ia baru merasakannya kemarin, tapi baginya ia sudah merasakan beberapa bulan bahkan tahun yang lalu. Bukankah itu termasuk lama?

Perlahan Dasom merasa lelah, ia langsung memutuskan untuk duduk di kursi taman itu. Mungkin sekilas ia berfikir untuk apa menangisi kenangan ini? Tetapi kadang fikiran itu malah berbalik menjadi: kapan aku tak menangisi kenangan ini?

“Aku benar-benar tak bisa melupakanmu, Oppa. Jujur, aku memang masih mencintaimu. Tetapi kenapa setiap aku mendengar kata-kata itu, aku selalu sakit hati? Seolah-olah aku mengingatmu, Oppa..” kata Dasom pelan. Memang tak ada yang menjawab, dan mungkin hanya ia sendiri yang bisa menjawabnya. Walau jawaban itu tak akan mencapai kata ‘puas’.

Dasom kembali bangkit berdiri, sudah lelah ia harus terus di tempat ini. Semakin lama ia di sini, membuatnya semakin teringat oleh kenangan indah itu. Walau ia sadar kalau ia memang tak bisa melupakan kenangan indah itu. Hanya waktu yang bisa membantunya, walau ia tak tau apakah waktu bisa membantunya untuk cepat mendapatkan kata ‘move on’.

“Selamat tinggal kenangan, selamat tinggal cintaku yang sudah pergi. Semoga.. sakit hati ini adalah yang pertama dan terakhir.”

Myungsoo menutup kameranya, lalu ia biarkan kamera itu menutup dan menghilangkan seorang yeoja yang ia cintai. Sudah cukup baginya untuk terus melakukan hal ini, sudah cukup baginya untuk mengingat yeoja itu. Kini saatnya untuk mementingkan dirinya dulu, mungkin ada harapan, walau ia tak tau apakah harapan itu akan menyelamatkan dirinya atau tidak.

Myungsoo mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, sudah lama ia berdiri di tempat yang ramai seperti ini. Suasana di taman kota kini sangat ramai, biasanya jika seperti ini Dasom akan memintanya untuk jalan-jalan ke tempat lain, tapi kini tak ada yang memintanya, jadi dirinya sendirilah yang kini memintanya.

“Selamat tinggal kenangan, mungkin kenangan di sini cukup banyak karena di sinilah aku mulai bersamanya. Tetapi sampai kapanpun, aku tak akan cukup untuk mencintainya. Walau mencintainya dapat sekaligus melukainya. Maafkan aku..”

Dasom berjalan pelan sambil menatap ke arah depan dengan fokus. Mungkin tak sefokus saat sedang belajar, tetapi seperti ia yang dulu, ia berjalan menghadap ke depan, bukan ke belakang. Layaknya seorang manusia, hidup harus ke depan tanpa harus melihat ke belakang lagi.

Dan dari lawan arah, seorang namja berjalan sedikit menundukkan kepala. Namja itu masih saja memikirkan yeoja yang ia cintai, sampai-sampai ia tak sengaja menabrak seorang yeoja dari lawan arah.

“Maafkan aku..” hanya kata-kata itu yang ia ucapkan, sedangkan yeoja itu hanya diam lalu melanjutkan langkahnya. Sampai beberapa langkah kemudian, mereka berdua berhenti di waktu yang sama.

Yeoja itu kembali meneteskan air mata, ia baru sadar bahwa namja yang menabraknya itu adalah..

“Myungsoo-Oppa..”

END

Yeee!!! END!

Aslinya FF ini mau drabble, tetapi karena ada sedikit masalah, jadi aku ganti one shoot. Maaf kalau nggak srek, soalnya sedikit badmood, jadi sedikit aneh. Sudah deh kalau begitu, KOMENTAR YA!

Maaf kalau misalnya FF-nya gantung.. aku nggak tau, tapi kalau menurut kalian gantung, ya… baiklah..

Rencananya mau ada sequel.. gimana? Aku minta pendapat!

Annyeong!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s