[Fanfiction] Different Language

Title :  Different Language

Author : maknae_99

Cast : Zhang Yixing/ Lay (EXO-M) and You

Genre : Romance, Friendship

Length : Ficlet

Rating : General

 

***

 

Alarm sialan. Kenapa kau tidak berbunyi sesuai jam yang sudah kutentukan semalam? Di rumah tidak ada eomma, jadi tidak ada yang membangunkanku. Aku hanya bisa bergantung pada jam weker dan alarm yang kupasang di ponsel. Karena alarm tidak bunyi sama sekali, aku jadi terlambat bangun. Akhirnya aku mandi dengan kecepatan penuh. Tidak sempat sarapan. Seragam yang kukenakan tidak begitu rapi seperti biasanya. Sedikit acak-acakan karena kupakai cepat-cepat. Intinya, semua yang kulakukan pagi ini dilakukan sangat cepat. Tidak ada yang lambat. Aku akan sangat menyesal jika hari ini aku terlambat.

Aku sampai di depan sekolah tepat 5 menit sebelum bel berbunyi. Oh, beruntung lah aku. Jam pertama adalah pelajaran Park sonsaengnim. Dimarahi olehnya sama saja mendapat mimpi buruk di pagi hari yang cerah seperti ini.

BRUK!

Ugh, terlalu cepat berlari hingga menabrak seorang siswa. Dasar ceroboh!

“Mianhae!” ucapku cepat. Sedikit mendongak ke arahnya. Mungkinkah ia murid baru? Kupikir wajahnya baru kali ini kulihat.

“N-ne.” katanya sedikit tergagap. Aksennya sangat beda dengan orang Korea kebanyakan. Ia tersenyum, menampilkan lesung pipinya. Lalu membungkuk sedikit. Hei, harusnya aku yang membungkuk! Bukannya kau.

Segera aku berlari lagi. Bayangan Park sonsaengnim sudah terlihat sedikit di ujung koridor saat aku membalikkan wajah ke arah belakang. Sedangkan lelaki yang tadi kutabrak, malah berjalan ke arah ruang guru. Tidak berjalan ke arah kelas-kelas yang berjajar rapi. Mungkin ia benar-benar anak baru? Aku tidak tahu. Tapi entah kenapa aku sangat penasaran ia akan masuk kelas mana. Jika dilihat dari wajahnya, ia sepertinya seumuran denganku. Tapi siapa yang tahu? Wajah bisa saja menipu umur.

“Hei, nyaris terlambat lagi? Huh?” Suara Victoria menyapa telingaku begitu aku masuk ke dalam kelas.

Aku hanya bisa mengangguk singkat. Memang itu kenyataannya kan? Sampai di gerbang sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi.

“Kudengar akan ada murid baru, lho.” Victoria duduk di tempatnya. Ia duduk di depan bangku-ku bersama Sunyoung. Aku duduk sendiri. Jumlah murid di kelas kami memang ganjil. Jadi pasti ada siswa yang duduk sendirian. Dan itu aku.

“Benarkah?” Kuletakkan tasku di sandaran kursi.

“Iya. Katanya dia orang—” ucapan Sunyoung terputus saat Park sonsaengnim masuk ke dalam kelas dan suara beratnya mengisi seluruh sudut kelas. Disampingnya ada lelaki yang tadi kutabrak di koridor.

“Ini teman baru kalian. Namanya Yixing, Zhang Yixing. Dia berasal dari Cina. Kemampuan berbahasa koreanya masih belum begitu bagus. Aksen Cina-nya juga kadang masih terbawa. Jadi mohon kalian maklumi dia,” Oh, jadi dia orang Cina. Pantas saja tadi aksennya beda. “Victoria, sonsaengnim mohon kau sering ajak Yixing berlatih.” Yixing agak membungkuk sedikit. Memperlihatkan senyumannya yang membuat lesung pipinya terbentuk.

Victoria hanya mengangguk singkat. Victoria memang orang Cina. Jadi wajar jika Park sonsaengnim menyuruhnya mengajak.. Yixing, berlatih bahasa Korea bersama. Yixing pasti paham apa yang Victoria bicarakan. Misal, ‘Wo ai Ni’ dalam bahasa Cina sama dengan ‘Saranghae’ dalam bahasa Korea. Victoria pasti bisa mengajarnya dengan baik.

Park sonsaengnim menyuruhnya untuk segera duduk. Pandangan Yixing menyapu seluruh kelas kemudian berhenti di tempat dudukku. Lalu ia segera duduk di sampingku.

“Kumohon bantuannya.” Yixing membungkuk sekilas setelah ia duduk.

Aku hanya bisa tersenyum singkat. Kalau aku bicara banyak pun  belum tentu ia akan mengerti apa yang kubicarakan, kan?

 

“Yixing, kau tahu bagaimana cara menyelesaikan soal ini?” tanyaku sambil menunjuk soal yang kumaksud. Park sonsaengnim mengajar pelajaran matematika. Kuakui aku agak terbelakang jika urusan pelajaran yang satu ini. Jadi jangan heran jika aku sangat senang mendapat teman sebangku yang ternyata pandai matematika. Ya, Yixing.

Yixing mengangkat sebelah tangannya. Seperti menyuruh orang menunggu. Lalu menuliskan sesuatu di kertas yang kebetulan ada di sampingnya. Setelah selesai, ia memberikan kertas itu padaku. Cara menyelesaikan soal ini ada di kertas ini ternyata.

“Terima kasih.” ucapku seraya tersenyum. Yixing hanya mengangguk singkat.

 

***

 

“Benarkah?!” Victoria berteriak heboh saat Yixing selesai membisikinya sesuatu. Aku tidak tahu. Jelas, mereka daritadi bicara dengan bahasa Cina. Mana mungkin aku bisa mengerti?

“Mereka bicara apa sih?” tanya Sunyoung. Hei, kau kira aku bisa bahasa Cina?

“Tidak. Yang kutahu dalam bahasa Cina hanya ‘Wo ai Ni’ dan ‘Xie xie’ saja. Mereka bicara sangat cepat.”

“Yah, kupikir kau tahu. Setahuku kau pernah menjalani kursus bahasa Cina.”

“Jangan bercanda. Aku baru mengikuti kursus selama 3 hari dan kepalaku rasanya mau pecah kau tahu.”

Setelah itu kami hanya bisa melihati mereka berdua berbicara dengan bahasa asing. Yah, Cina adalah bahasa yang asing bagiku. Pengucapannya harus tepat. Jika salah sedikit saja artinya bisa berbeda. Meskipun sepertinya semua bahasa seperti itu jika pengucapannya salah. Tapi menurutku bahasa Cina punya aksen dan bahasa yang rumit. Sangat rumit. Aku tidak akan pernah mempelajari bahasa aneh itu lagi.

“Hei, Sunyoung! Sini. Kuberi tahu sesuatu.” Victoria memberi aba-aba pada Sunyoung agar mendekat padanya.

“Benarkah?!” pekik Sunyoung. Ekspresinya hampir sama seperti Victoria saat ia selesai dibisiki oleh Yixing. Aish, sebenarnya ada apa sih? Kenapa mereka kelihatan sangat kaget?

Mereka lalu saling berbisik. Yixing yang mungkin tidak tahu apa yang mereka bicarakan hanya diam sambil memainkan sepatunya. Lalu ia kembali ke sebelahku, duduk di tempatnya. Tak lama kemudian Sunyoung dan Victoria keluar dari kelas. Meninggalkanku berdua dengan Yixing di kelas ini. Daritadi memang hanya kami berempat yang menghuni kelas ini. Jadi jika mereka berdua pergi, hanya tersisa aku dan Yixing disini. Ugh, mereka pasti punya rencana tersembunyi.

Yixing tiba-tiba mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lebih tepatnya buku kosong karena saat aku meliriknya, buku itu masih bersih. Lalu menuliskan beberapa kalimat disana. Kemudian ia memberikannya padaku.

Bisakah kita berbicara dengan buku dan bolpoin ini? Qian sangat menyebalkan meninggalkan kita berdua disini sendirian.

Ah, untunglah ia menulisnya dengan hangul. Jika menggunakan huruf Cina aku bisa gila membacanya. Mungkin aku hanya bisa mengamatinya dengan wajah bengong.

“Jika kau bisa menulis hangul dengan benar seperti ini, kenapa tidak langsung berbicara saja?” Hangul yang ia tulis benar semua. Sangat mustahil jika ia tidak bisa membacanya kan?

Ia menulis lagi.

Aku kadang salah menyebutkan hurufnya. Daripada salah dan membuat malu, lebih baik kutulis seperti ini saja.

“Oh, baiklah. Lalu, apa yang akan kita bicarakan?” Alasan yang menurutku tidak masuk akal. Jika Yixing mengerti tulisannya dengan benar, seharusnya ia bisa menyebutkannya dengan benar. Tapi mengingat Yixing dari Cina, mungkin saja itu terjadi.

Kau cantik.

Ya Tuhan, rasanya aku akan melayang sebentar lagi. Yixing yang baru saja mengenalku dan ia bilang aku cantik? Teman-temanku yang lain, yang sudah mengenalku selama satu setengah tahun ini tidak pernah ada yang bilang aku ini cantik. Yah, kalian bisa bilang aku berlebihan. Tapi, itu sungguhan. Aku tidak bohong!

Saranghae

Kubelalakkan mataku lebar. Dia bilang—ralat, tulis apa barusan? Saranghae? Saranghae?! Yixing baru saja bilang ia mencintaiku? Demi Tuhan, Yixing! Kita baru saja mengenal beberapa hari. Bahkan belum genap seminggu. Dan kau sudah bilang apa?

“Aku tahu ini susah untukmu.” Tunggu. Yixing bicara bahasa Korea dan ia lancar mengucapkannya? Aksennya juga sudah berubah. Victoria memang hebat.

“Ini bukan faktor karena Victoria yang mengajarku. Aku sudah fasih berbicara bahasa Korea sejak sebelum pindah kesini.” Seakan bisa membaca pikiranku, Yixing menjawab kebingungan yang melandaku.

“Jadi bagaimana? Kau mau menjadi kekasihku?”

“A-aku..”

“Tidak apa-apa. Aku tahu ini susah untukmu. Aku akan menunggu jawabanmu. Sampai kau siap.” Yixing mengeluarkan senyuman manisnya. Membuat lesung pipinya terbentuk. Makin mempermanis tampilannya.

Yixing manis. Senyumannya membuktikan itu.

Yixing baik. Ia mau memberi tahuku cara menyelesaikan soal matematikan yang sangat susah bagiku.

Yixing perhatian. Ia mau menemaniku pulang hingga sampai rumah kemarin.

Dan aku tahu, sifat Yixing yang lain akan keluar dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Aku baru saja mengenal Yixing, bahkan belum genap seminggu. Jadi sangat wajar jika aku baru mengetahui sedikit sifatnya.

“Kau tahu, meskipun agak menyebalkan karena membohongiku, kau itu sebenarnya sangat baik. Tapi kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa menjawab pernyataanmu itu sekarang. Aku janji akan menjawabnya suatu saat nanti. Dan aku tidak akan mengecewakanmu. Tunggu saja, Yixing. Kuharap kau mau menungguku.”

 

END

Ciyaaat! Ini fic apaan aku gak tahu yang jelas kalian yang udah baca kudu komen. Oke?

Dan maaf kalo judul ama isinya gak nyambung. Entah kenapa beberapa hari ini aku gak bisa bikin judul yang sip oke gitu. Yang penting fic-nya ending dengan selamat #apadeh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s