[Fanfiction] Goodbye Summer

// Goodbye Summer //

‘The “friend” label is a label that i got to hate’

(Goodbye Summer-f(Amber-Luna-Krystal) ft. D.O)

Starring : Do Kyungsoo (EXO-K) and Kim Sunyoung(OC)

Romance, Friendship, Angst, SadFicletPGBased on Goodbye Summer

*Presented by Jung Sangneul*2013*

—–

            Aku masih ingat bahwa namaku  Kim Sunyoung. Umurku enam belas ketika bertemu dirimu. Lelaki berumur sebaya dengan  tinggi sedikit di atasku dan bola mata yang terbuka lebar seolah satu dunia mampu masuk dalam jangkau pandanganmu. Aku juga tidak pernah lupa senyuman manismu, sekalipun kau tidak memiliki lesung pipi seperti teman kita, Yixing. Tapi aku tetap menyukai senyuman itu. Senyuman yang membuatku selalu ikut tersenyum.

Aku ingat semuanya, termasuk pertemuan pertama kita.

“Hai, namaku Kyungsoo. Do Kyungsoo.”

Begitu kau memperkenalkan dirimu.  Aku tahu kau tidak memperkenalkan di kelas, di perpustakaan, atau mungkin di restoran yang lebih layak sebagai awal pertemuan kita. Kau menyatakannya saat kita dihukum. Berjongkok di depan kelas. Tapi aku tidak pernah melupakannya. Bagaimana kau tersenyum padaku dan mengulurkan tanganmu.

Bagaimana ketika aku menerima uluran tanganmu dan itu merubahku banyak, banyak sekali.

“Namaku Kim Sunyoung.”

Kita tidak pernah tahu jika nantinya kita akan terus bertemu dan bertemu lagi. Kemudian setelah lama hanya bertukar sapa dan senyuman, kita bisa tertawa bersama. Aku ingat, selalu ingat ketika kita dihukum bersama karena terlalu banyak tertawa di kelas. Ketika kita tidak menganggap itu sebagai hukuman, justru kita akan keluar kelas kemudian tertawa lagi.

Semua terasa indah ketika kau berada di dekatku dan kita menjalani hukuman bersama. Kau menunjukkan sesuatu yang lucu dan aku tertawa. Tertawa bersamamu adalah kebahagiaan untukku, maka meski itu tidak terlalu lucu, aku tetap ingin menunjukkan senyumanku padamu.

Aku tidak tahu bahwa semua senyumanku selama ini sembilan puluh persen hanya tertuju untukmu, dan karenamu.

            Seharusnya memang aku menyadarinya sejak lama. Seharusnya aku tahu mengapa aku merasa senang ketika berada di dekatmu, ketika kau menggenggam tanganku, dan ketika kau menghiburku dalam tangisku. Seharusnya sejak lama aku peka dengan rasa ini. Ketika mulai lama kita dekat dan kau membagikan semuanya padaku.

Dan bagaimana kau telah menjadi bagian dari hidupku.

“Selamat ulang tahun, Sunyoung. I love you.” Itu katamu ketika sweet seventeen-ku, namun aku tidak pernah peka kalau itu bukan hanya sebatas ucapan formalitas layaknya teman lelakiku yang lain.

“Hati-hati, Sunyoung, jangan pulang larut.” Kau mengatakan itu layaknya Ibuku, dengan tatapan sedikit khawatir. Seharusnya juga aku peka saat itu, bahwa itu bukan sekedar perhatian dari seorang sahabat, tapi lebih.

“Makanlah yang banyak supaya cepat sembuh. Sepi tidak ada kau di sekolah.” Itu katamu saat aku terkena tifus. Kau lebih lama berada di sebelah ranjangku daripada rumahmu sendiri. Itu juga salahku, seharusnya aku menyadarinya. Kalau kau menyuruhku makan bukan hanya untuk kesembuhanku, tapi juga karena kau merindukanku yang dulu. Kau rindu bagaimana aku berangkat sekolah dan bercanda denganmu. Kau merindukanku.

Tapi aku bukanlah gadis sepeka itu. Hingga aku selalu membantah semuanya. Debaran jantungku saat bersamamu. Senyumku yang tak pernah luntur ketika dengar suaramu. Tawaku yang pecah hanya karena ucapanmu. Dan tak pernah bosannya aku menghirup wangi parfummu hingga hafal. Semuanya. Semua yang tak pernah kusadari selama ini.

Bahwa kau adalah bagian dari setengah jiwaku, hidupku.

Bahwa kau adalah aku, dan aku adalah kau.

—-

            Aku terlalu lambat, sehingga mungkin hanya aku yang patut disalahkan.

Ketika papan pengumuman telah menempel nilai kelulusan. Dan aku ingat bahwa kau tertawa memelukku saat itu. Tapi tawamu palsu. Karena ada satu kesedihan yang terselip di sana. Bahwa kau menyesali semua keterlambatan ini. Aku melihatmu meneteskan airmata ketika kita minum jus di kantin. Aku menyadari rasa sakitmu tapi aku bodoh.

Aku bodoh karena membuatmu menunggu sekian lama. Aku tahu semua tanda yang kauberikan tapi atas nama persahabatan, aku tidak ingin merusak segalanya. Aku tidak mau melunturkan semua hanya karena cintaku. Aku benci menyembunyikan semuanya. Tapi atas nama persahabatan aku menahan semuanya.

Aku berkelit dengan segala alibi dalam hatiku. Menyayat hatiku sendiri ketika kusadari waktu untukmu menyentuh tanganku, menggenggamnya lembut tak lama lagi. Ketika kusadari waktu untuk berada di dekatmu sudah hampir habis dan aku tidak bisa mengubah apa-apa. Aku mengingkari semuanya meski segaris luka tercipta di bening matamu.

Aku melihat semuanya malam itu. Foto kita yang berjajar rapi selama hampir tiga tahun bersama. Aku mengingat semuanya, dan bodohnya aku menangis. Aku pasti akan merindukan semuanya, dan foto ini hanya saksi bisu. Seperti aku yang bisu ketika berada di hadapanmu. Aku yang tak mau ungkapkan semuanya. Tak pernah aku ingin menyalahkanmu yang juga tak berani mengungkapkannya, karena semua mungkin juga sebabku yang terlalu acuh atas perhatianmu. Perasaan berbeda yang terselip di balik semua itu.

Aku yang menolakmu secara tak langsung.

Aku yang mengabaikanmu.

Dan hanya aku yang salah; aku yang bodoh.

—-

            Ketika musim panas merekah, dalam hati kuucap salam maaf untukmu. Aku tak mampu lagi tertawa, hanya sisa senyum itu yang kupersembahkan untukmu, berharap kau akan mengingatku untuk waktu yang lama. Meski kutahu itu hanya sebatas delusiku. Seharusnya aku yang peka, aku yang memintamu untuk tetap di sini dan mengatakan bahwa aku punya perasaan yang sama padamu.

Bahwa, aku mencintaimu.

Maafkan aku yang tidak mampu menguak semuanya dan meninggalkannya dalam memori kita. Kita, yang akan berpisah sebelum memulai sebuah hubungan. Kita, yang akan terbatasi oleh ruang dan waktu setelah ini.

Aku benci ini. Melihatmu, seorang Do Kyungsoo bernyanyi di hadapanku di festival musim panas terakhir, itu menyakitkan. Kilauan di laut musim panas itu menggores luka dalam relung hatiku.

Aku tahu matamu menyorot ke arahku saat bernyanyi, tapi lagi-lagi aku mengatasnamakan persahabatan kita. Aku membuang muka dan berpura-pura sibuk dengan hal lain. Padahal hanya aku seorang yang terhanyut dalam tangis.

“Untuk Kim Sunyoung, aku menyayangimu sebagai sahabat.”

Itu ucapanmu dalam microfon, dan aku hanya tersenyum kecil. Hanya aku yang bisa menguaknya, tapi aku egois. Maafkan semuanya, Kyungsoo. Maafkan aku yang terlalu ceroboh.

Waktu tak akan pernah bisa diputar ulang. Aku tahu kau adalah bagian dari hidupku, tapi aku juga tahu kau akan lupakan aku setelah ini.

“Selamat tinggal.”

Kata itu menyakitkan ketika terucap di bibirmu, tapi tak ada balasan lain dariku selain ‘selamat tinggal juga’. Matahari menghias di langit ketika kau memelukku.

Aku tahu, hanya pelukan perpisahan dari seorang teman.

“Maafkan aku.” Itu kataku.

“Aku mencintaimu.” Dan itu katamu.

Kalimat berbeda yang terlontar dari bibir kita berdua. Tapi semua tidak dapat berubah. Aku hanya diam membisu, dan jelaslah bahwa hanya akan ada perpisahan di antara kita.

Aku merelakanmu, ketika punggungmu menjauh dan tak dapat kusentuh lagi.

 

Maafkan aku, untuk kata ‘selamat tinggal’ menyakitkan ini

THE END

Huah, ngarangnya ekstra cepet tauk, jadi ya mohon komentarnya. Last, i love D.O and Luna’s voice at Goodbye Summer!!! ^^v DONT FORGET TO RCL

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s