[Fanfiction] A Letter Between Us

 

a-letter-between-us

// A Letter Between Us //

A fanfiction by Jung Sangneul

Starring : Baekhyun (EXO-K) and You

Genre : Romance, Fluff, School-Life││Length : Ficlet││Rating : PG

 

Dia Byun Baekhyun. Begitu aku mengenalnya.

Aku tidak pernah berpikir bisa mengenalnya ketika awal kali memasuki high school-ku ini, di mana takdir membawaku mengenal sosoknya. Baekhyun, dia adalah lelaki bertubuh mungil dan bersenyum mematikan—yah itu menurut penilaian sejumlah gadis yang selalu menggosip di kantin sekolah. Bahkan Ibu kantin juga ikut menggosip. Baekhyun, dia tampan, lumayan pintar meski pelajaran Bahasa Inggris bukanlah andalannya. Baekhyun pernah menyukai tiga gadis di masa SMP namun tak satupun dari mereka ia beri pernyataan cinta.

Ia suka makan es krim stroberi di musim panas yang terik, dan makan sup jamur hangat ketika udara dingin. Ia punya seorang noona yang wajahnya cukup mirip dengannya, dan aku tahu ia sayang pada noonanya itu.

Mungkin ini aneh karena aku terlihat begitu mengetahui segala seluk-beluk Byun Baekhyun. Padahal sebenarnya aku juga tidak terlihat akrab dengannya. Teman-temanku tidak ada yang tahu kalau sebenarnya aku dan dia amat sangat dekat. Mereka mengira kami hanya sebatas teman sekelas. Tapi, di luar itu, aku lebih mengenal Byun Baekhyun dibanding mereka.

Well, yang tahu ini hanya aku, dan Baekhyun.

***

            Musim semi itu, hari pertama aku memasuki high school. Di mana masa orientasi yang kejam telah berlangsung di hari-hari sebelumnya, dan aku bisa memasuki kelas pertamaku dengan tenang, yah meski aku belum memiliki teman selama masa orientasi.

Aku melihat kelas yang sudah didominasi warna-warna yang senada dengan bajuku. Mereka bergerombol membentuk sub-sub grup yang tidak kuketahui. Hingga aku menemukan celah yang kosong. Bangku di belakang sendiri, kolom kedua dari kanan.

 

Kupikir aku bukan orang yang mudah bergaul karena aku terlalu pendiam, tapi ternyata tanpa aku perlu memulai pertemanan, sudah lebih dahulu ada gulungan kertas melayang turun ke mejaku, membuatku mengalihkan pandangan dari guru yang sedang menjelaskan. Aku mengernyit heran, namun di menit berikutnya aku menemukan tulisan lumayan rapi di dalamnya.

Hai. Namamu siapa?

Singkat. Menyisakan  banyak baris di bawahnya, memintaku untuk menarik bolpoin dan membalasnya, setelah sebelumnya melihat sekeliling dan menemukan pengirimnya. Ia lelaki yang tersenyum ke arahku.

Aku menyebutkan namaku di sana dan membubuhkan satu tanya lain.

Namamu siapa? Kenapa berkenalan dengan cara ini? Kan kuno.

Melempar kertas itu dan tiba tepat di mejanya. Lelaki yang duduk berbeda dua bangku denganku itu dengan gesit membuka kertasnya yang sudah kusut karena diremas, kemudian menarik bolpoin.

Kembali terlempar ke arahku.

Halo, kenalkan namaku Byun Baekhyun. Ini menarik karena kau mau berkenalan denganku menggunakan ini. Padahal gadis lain menolak. Terima kasih, aku hanya menyukai cara kuno ini. Bukankah ini menarik?

Aku tersenyum melihat jawabannya yang cukup panjang, menyisakan setengah badan kertas itu untuk kutulisi.

Ya, kau menarik Byun Baekhyun. Mari kita berteman.

Aku menyempatkan tersenyum ke arahnya ketika kertas itu mendarat lagi di mejanya. Teman di sebelah kami hanya geleng-geleng kepala.

***

            Itu awal perkenalanku dengan Byun Baekhyun. Memang awalnya hanya sebuah pesan singkat yang ia tulis. Tapi lama-kelamaan kami jadi sering bertukar pesan kertas itu, entah membicarakan apa. Frekuensi akan semakin bertambah ketika guru yang mengajar membosankan. Dan biasanya memang ia yang memulai.

Hey, guru itu membosankan sekali. Menurutmu bagaimana?

            Iya, pantas muridnya menguap semua. Lihat Junho, dia sudah ke sepuluh kali menguap.

            Hahahahaha XD Kau lucu sekali. Eumm, sudah mengerjakan PR Bahasa?

            Eh, belum. Aku lupa, hehe. Kau sendiri?

            Belum juga. Aku tidak mengerti maksudnya.

            Panas ya, enaknya minum es.

            Makan es krim stroberi, dong. Aku suka sekali.

            Kau suka? Ayo beli pulang sekolah.

            Tidak. Nanti aku ada les, maaf ya.

 

Semuanya menjadi bahan perbincangan. Mulai dari guru, pelajaran, lagu apa yang paling update, grup apa yang menang di acara musik ini dan itu, juga apa makanan atau minuman yang paling kausukai. Sebenarnya ada yang aneh dengan pertemanan ini meski semua terlihat biasa saja. Jika Byun Baekhyun bisa bicara, mengapa ia mesti mengirim pesan? Aku jarang melihatnya di luar lingkup kelas, jadi kita tidak pernah bisa bertatap muka dan berbicara secara langsung. Aku tidak pernah melihatnya mengacungkan tangan dan menjawab pertanyaan guru, jadi aku tak tahu bagaimana suaranya.

Namun semua berlalu tanpa satu pun jawaban. Aku selalu menjawab semua pesannya, apapun yang ia katakan, sekalipun kadang itu tidak penting. Sekalipun aku tidak mendengar suaranya, tapi aku tahu senyumannya manis dan dia tampan.

Dia jarang bergaul, tapi masih bisa kulihat seorang lelaki tinggi merangkulnya. Berarti dia masih punya teman, kan?

Aku juga heran mengapa aku bersabar menerima semua pesannya tanpa pernah berbicara empat mata dengannya. Dia teman yang baik, itu pasti. Namun tak satu kalipun terbesit di pikiranku untuk bertanya, mengapa dia lakukan itu. Aku hanya berteman dengannya, tapi teman macam apa yang tak pernah bertatap muka?

***

            Baekhyun adalah sebuah bayangan semu untukku. Dia terlihat, dia berekspresi, dia menuliskan banyak pengalaman dalam kertas yang ia lemparkan, tapi tak satu kalipun aku pernah mengobrol dengannya. Semua berlangsung lama, hingga semester dua hampir usai. Entah aku yang kurang peka atau apa, Baekhyun bisa menghilang dengan cepat saat bel istirahat dan tiba-tiba sudah tidak bisa kutemukan di berbagai sudut sekolahan.

Aku diam selama ini, tapi bukan berarti aku tidak punya rasa penasaran.

Hari itu, musim dingin datang menjemput. Sudah hampir akhir bulan dan natal juga akan segera datang memang. Aku melangkah keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi, ingin menuju kamar mandi karena aku sudah menahan buang air kecil. Pelajaran Miss Elle, guru Bahasa Inggris itu bisa membuat ngompol karena beliau melarang keluar kelas, izin ke manapun itu. Guru gila. Pantas Baekhyun tidak suka dengan pelajarannya.

Baekhyun? Yah, seperti biasa ia kembali menghilang dari jangkauanku, entah ke mana. Padahal aku sudah berencana membuntutinya. Dia sudah seperti tikus yang pandai berkelit, namun aku bersumpah tidak membencinya, layaknya aku membenci tikus.

Semua pikiranku terhenti ketika terdengar suara yang aneh ketika aku sampai di dekat toilet wanita, itu jelas dari ruang musik yang tidak mungkin buka hari ini. Pelajaran musik hanya ada di hari Sabtu, itu pun bergilir antara semua kelas.

Aku mengerutkan kening sebelum dengan nekat merapat ke pintunya.

 

“Kau harus mengatakannya, Baekhyun. Ayolah, come on,” Terdengar suara lumayan berat dari sini. Aku semakin mendekat, berusaha memasang pendengaran setajam mungkin. Tapi tidak ada sahutan juga dari Baekhyun. Masa orang yang di dalam bicara sendiri?

“Tidak apa, Baek. Tapi janji akan mengatakannya, oke?”

Aku semakin bingung. Ketika terdengar langkah mendekat, aku segera lari ke kamar mandi. Apa yang salah? Jangan-jangan yang di dalam fans Baekhyun yang gila? Ugh, tapi setahuku Byun Baekhyun tidak punya fans. Dia kan tidak terlalu pandai bergaul. Kuhilangkan segala pikiran aneh dalam diriku kemudian melenggang masuk salah satu toilet. Mungkin memang itu orang gila.

***

            “Ya anak-anak, hari ini terakhir kali kita bertemu sebelum liburan musim dingin sekaligus akhir tahun untuk kalian. Hasil ujian telah keluar, dan syukurlah kelas ini mendapat rating nilai rata-rata yang cukup tinggi.”

Kim-songsaengnim berujar dengan seulas senyum bangga, dan murid-murid balas bertepuk tangan dan berseru-seru. Sebagian murid laki-laki bersiul menambahi.

Aku terdiam mengetukkan kuku ke meja. Bukan perihal ujian lagi yang kupikirkan, tapi waktuku akan menipis. Aku sangat penasaran dengan semua alasan Baekhyun tidak ingin bicara padaku. Mengapa hanya lewat secarik kertas itu? Kelas sebelas nanti, kemungkinan aku dan dia tidak bisa sekelas karena adanya pengacakan. Aku harus tahu, secepatnya.

Aku merobek kertas dari buku selagi yang lain riuh bertanya pada Kim-songsaengnim.

Baek, aku mau menanyakan sesuatu, boleh?

Kulemparkan kertas tersebut dan tepat mendarat di pangkuannya. Ia menoleh padaku dan tersenyum manis.

Boleh, mau tanya apa? Tapi jangan tanyakan kenapa aku tidak suka Bahasa Inggris.

Aku tertawa kecil, kemudian menggoreskan tinta di bawahnya.

Bicaralah, Baek. Kau orang yang menyenangkan.

Kulempar lagi kertas itu.

Hah? Aku tahu aku menyenangkan J Oh ya, kau mau tanya apa, sih?

Aku terdiam melihatnya. Menghembuskan nafas dan bersiap menuangkan pokok pikiranku.

Itu tadi sudah pertanyaanku.

            Kenapa aku tidak bisa bertatap muka dan berdialog denganmu? Kenapa kau selalu menghilang ketika kelas selesai? Apa aku hanya bisa berbicara dalam kertas saja denganmu? Seburuk itukah aku sebagai lawan bicara?

Aku menyerahkannya melewati teman sebelah, tidak lagi melemparnya. Ia mengernyit bingung awalnya, tapi akhirnya membukanya juga.

***

            Sore ini sangat dingin ketika aku keluar dari area sekolah dan berjalan menuju halte bus. Tidak ada jemputan hari ini, Ibuku sibuk dan Ayahku sedang di luar kota. Aku memang tidak membawa mantel atau jaket sekalipun, jadi pasrah saja jika kedinginan.

Perlahan otakku justru memutar ulang kata-kata dalam kertas itu. Kertas-kertas surat yang dilemparkan Byun Baekhyun.

Hah? Kau suka marshmallow? Itu terlalu lembut dan meleleh di mulut.

            Oh, aku juga suka buah jeruk di musim panas. Bisa mengobati panas dalam.

            Ah, Miss Elle memang selalu menyebalkan. Mana mungkin aku bisa dapat nilai A?

            Aku punya Noona. Kau?

            Sup jamur? Oh aku suka sekali.

            Aku tidak suka flu. Menyebalkan.

            Yes, i know.

            Hey aku juga bisa Bahasa Inggris. Nih buktinya >> i hate you

 

Tanpa kusadari senyum terbentuk di bibirku. Baekhyun itu baik dan lucu, tapi mengapa jawabannya tadi tidak dapat melegakan perasaanku? Mengapa ia menggantung banyak sekali pertanyaan dalam benakku? Apa aku mesti bertanya pada temannya yang selalu merangkulnya saat pulang sekolah itu? Kalau tidak salah namanya Oh Sehun.

Aku mengelus lenganku yang membeku ketika ada sesuatu yang menarik tanganku. Menghentikan segala pikiran aneh yang merayapi otakku sedari tadi.

“Eum?” Sebelum sempat bertanya, aku terpaku dengan apa yang ada di hadapanku. Dia, seseorang yang amat kukenal. Dia, Byun Baekhyun yang semu dalam pandanganku. Tapi kali ini, sore ini, aku bisa bertatap muka dengannya dalam jarak dekat. Sedikit lagi. Bicaralah, Baekhyun.

“Ada apa, Baekhyun?” tanyaku.

“…”

Tidak, aku tidak mendapatkan jawaban apapun dari bibirnya, namun ia mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu dengan pennya.

Maaf aku membuatmu penasaran.

Tanpa sadar aku telah meremas kertas itu dan membuangnya ke tanah.

“Kenapa susah sekali untuk bicara, Baekhyun?! Aku lelah harus berinteraksi dengan kertas-kertas itu! Aku mau kau bicara ketika kita bertatap muka.” Nada suaraku melemah. Kurasa tidak pantas membentak-bentaknya di awal pertemuan tatap muka kami.

Aku melangkah berat untuk berbalik badan tapi tangannya kembali menahanku. Aku hendak menghempaskannya tapi ia lebih dulu menarikku kuat-kuat, hampir aku terpelanting jika tak sadar ia sedang mengajakku berlari. Berlari lebih cepat menuju halte bus, kemudian segera duduk di sana.

“Apa lagi, sih? Kau tidak mau berkata ada apa? Bi-ca-ra!” seruku sebal.

Dia kembali mengeluarkan memo dan menulis.

Aku akan jelaskan semuanya. Aku tidak akan bisa berbicara dengan jelas padamu. Jadi aku menggunakan ini. Mungkin ada yang tahu, tapi kau termasuk golongan yang tidak tahu. Aku….

            Akhir kata membuatku tersentak dan membulatkan mata.

            Bisu.

 

Detik berikutnya terasa seperti adegan slow-motion ketika aku membekap mulut tak percaya sambil menatap mata Baekhyun yang tak terlihat bohong. Ia tidak sedih melihatku, ia tersenyum lebar sekali. Sanggup membuat dadaku berguncang dan sangat merasa bersalah padanya. Bagaimana bisa aku memaksa seseorang yang tak bisa berbicara untuk bicara?

Mengapa aku merasa menjadi orang jahat sekarang?

Aku tidak tahu harus bagaimana sehingga spontan aku memeluknya.

“Maaf. Aku… aku… aku tidak bermaksud. Aku tidak tahu, sungguh.” Aku bersumpah merutuki diriku sendiri. Kenapa aku terlalu jauh memintanya? Bukankah tanpa percakapan pun aku dapat mengenal Baekhyun dengan baik? Mengapa aku seolah memaksanya?

Baekhyun mengangguk dalam pelukanku dan ia melepasnya kemudian. Kembali merobek notesnya dan menulis.

Tidak apa-apa. Oh ya, aku juga punya hal yang ingin kuutarakan.

            Aku mengernyit membacanya, mengabaikan tatapan orang yang simpang-siur di hadapan kami. Kuputuskan meraih bolpoinnya dan tersenyum sebelum menulis.

Apa?

Baekhyun menjawabnya dengan satu senyuman yang membuat matanya membentuk lengkung sempurna. Nyaris seperti bulan sabit.

Maaf jika ini lancang. Tapi aku harus mengatakannya, kata Sehun. Aku benar-benar minta maaf, tapi…

Kata-kata akhir kembali membuat adegan slow motion, dan sanggup membuatku menahan nafas demi berpikir. Aku menoleh ke arahnya dan ia bersiap menulis lagi, namun aku menahannya.

 

Aku mencintaimu.

 

            Otakku berputar amat lamban. Namun aku tahu apa yang sebenarnya membuatku jadi memaksa Baekhyun untuk bicara padaku. Kutarik pennya dengan senyuman.

Kenapa? Aku kan tidak bisa memahamimu. Bahkan aku memaksamu bicara. Aku benar-benar tidak pantas untukmu, Baekhyun.

Dia menggeleng cepat. Kembali mengeluarkan memo.

Tidak. Aku mencintaimu sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tidak peduli, itu juga karena aku tidak jujur padamu, kan? Harusnya aku yang minta maaf, membuatmu penasaran.

Aku tersenyum melihat kata-katanya yang tak senyaman biasanya. Mungkin dia grogi juga menyatakan cinta, sekalipun dengan cara ini.

Lalu, kau mau aku jadi pacarmu, begitu?

Dia membulatkan mata, tapi kemudian menulis lagi, Ya kalau kau mau.

Aku tertawa melihat ekspresi canggungnya, kemudian mengangguk, mengiyakan semuanya.

Aku juga mencintaimu, bagaimana?

Dan selanjutnya, aku tahu Baekhyun selalu bisa menjadi dirinya sendiri. Dirinya yang mampu menyamankanku, membuatku bahagia setiap hari dengan senyumannya, dan aku menyukainya. Sangat.

***

            Dua tahun berlalu.

Musim dingin kembali datang ketika aku masih berada di kelas(pasca perpisahan) dan membuka kotak yang sengaja kubawa. Isinya kertas. Semua kertas surat di mana aku dan Baekhyun menuliskan berbagai hal di dalamnya. Aku hanya tersenyum menatap tulisan rapi kami berdua. Mungkin sebab tulisan Baekhyun yang notabene laki-laki tampak rapi karena ia lebih sering menulis.

Aku membuka salah satu kertas dan tersenyum lagi.

Makan es krim yuk, sepulang sekolah.

            Tidak mau. Sakit tenggorokan.

            Ah apa hubungannya? Toh juga kau tidak bisa kehilangan suara kan?

            Iya sih.

            Lagipula kalau kau kehilangan suara seperti sekarang, aku bisa.

            Bisa apa?

            Bisa menggantikan suaramu, Sayang.

 

Dan kurasakan sebuah tangan terulur menutup mataku. Aku tersenyum mengenal wangi siapa yang menguar di balik itu.

“Ayo makan es krim.”

“Ayo! Lepaskan tanganmu!” seruku berdecak. Baekhyun di belakangku hanya terkekeh.

“Aku rasa stroberi.” katanya.

“Iya aku tahu. Aku rasa…. rasa Baekhyun! Hahaha…”

 

Tuhan selalu adil. Dia mengembalikan suara Baekhyun dengan caranya sendiri. Dan aku suka suara itu. Suara yang menenangkan kegelisahanku dan mencintaiku dengan bunyinya.

 

 

THE END

Yak!!! Setelah pernah bikin orang tuli, sekarang bisu. Kurang yang buta aja nih/plak/ Sebenarnya ide awal nggak gini, cuma terinspirasi dari buntalan kertas yang gak sengaja dilempar anak-anak pas di kelas ke aku. Isinya juga bukan gitu, tapi tiba-tiba aku dapet ide aja.

Hehehe ini Byun Baekhyunku yang unyu-unyu loh. Dan kalian tahu suara itu asetnya. Aku jahat deh tak ambil. Tapi kan akhirnya tak kembaliin lagi*apabangetsih*

Udah deh, jangan banyak omong. Ini spesial kubuat karena lagi kena penyakit suka Baekhyun, jadi mohon dikomentari ya! And dont be plagiator or SIDERS! ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s