[Ficlet] Promise

282717_291658820933046_860506370_n

A fanfiction by Jung Sangneul

// PROMISE //

Starring : Oh Sehun (EXO-K) and You

Genre : Romance, fluff, fluff, and fluff till the end! || Length : (maybe) Ficlet || Rating : PG-13

Summary : Kau berjanji untuk selalu kembali, maka kau akan menepatinya.

 

Aku menyukaimu.

Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena wajahmu tampak menarik ketika lewat di hadapanku. Atau karena kau terlihat manis ketika menyedot minumanmu layaknya anjing yang kehausan. Atau karena aromamu terlalu menusuk dan mampu membuatku duduk di dekat bangkumu saat sore hari. Dan banyak kemungkinan alasan lainnya. Kau hadir di mataku setiap hari, tapi setiap kautanya mengapa aku menyukaimu, aku akan menjawab enteng,

“Entahlah. Mungkin sudah takdirnya aku menyukaimu.”

Aku tidak pernah mengingat lagi bagaimana dulu kita bertemu, karena yang terpenting bagiku adalah hari ini. Hari ini dan bagaimana besok akan berjalan sesuai rencana kita. Kita yang berjalan seirama dan menikmati es krim bersama. Kita yang tertidur di pelajaran Fisika dan mengerjakan hukuman menulis di papan bersama. Kita yang juga sudah biasa duduk di taman dan menatap langit senja, di mana di situ interaksi batin akan terjadi secara tak kasat mata.

Hingga suatu hari kau membangkitkan lagi ingatan itu. Ingatan di mana aku bertemu pertama kalinya dengan sosokmu.

 

“Kautahu cita-citaku?” tanyamu senja itu, di mana matamu menyipit melihat siluet mentari yang hendak kembali ke peraduan.

Aku duduk di sebelahmu dan dengan skeptis menoleh. Ada apa hingga kau menanyakan pendapatku perihal cita-cita. Sedangkan biasanya kau hanya menanyakan apakah aku suka ini, apakah aku suka itu, ataukah aku tidak suka.

“Cita-cita? Apa? Ilmuwan?” Aku seolah bermain tebak-tebakan bahkan aku tidak melihat clue selama kita bersama. Yang kuingat ini adalah hari ke tujuh  bulan Desember, di mana ujian sudah dekat di depan mata, dan sudah terhitung setahun kita bersama. Yang kuingat, harusnya kau menanyakan perihal pelajaran yang belum kaukuasai—apalagi Fisika yang sering kautinggal tidur sendiri, mengubur diri bersama mimpi.

 

“Bukan, sayang,” Kau mendekat dan aroma parfum yang kusukai menyentuh ujung hidungku. Memberikan kelembutan dan ketenangan lebih seperti biasa.

“Kalau aku mau jadi ilmuwan, aku tidak akan meninggalkan mata pelajaran Fisika,” lanjutmu kemudian, merangkul bahuku, sementara matamu tetap menatap siluet senja hari yang indah.

Aku manggut-manggut, menoleh dan jarak di antara kami tidak lebih dari satu sentimeter, membuatku menahan nafas untuk sepersekian detik.

“Lalu… apa?” Aku mendesah kecil, mengapa tidak bisa kuenyahkan debaran dada ini ketika menatapmu dalam jarak sedekat ini? Sebegitukah aku mencintaimu?

“Aku, ingin menjadi…” Aku menatap tag nama seragammu sejenak ketika kau menggantung kalimatmu, seperti awan di atas sana yang menggantung sejuta asa. Di sana tertulis, Oh Sehun. Itu namamu, dan aku tersenyum kecil ketika melihatnya.

“…artis.”

 

Rahangku hampir jatuh ke bawah karena aku terlalu lama membiarkannya terbuka, dan pada akhirnya aku ingat. Pertemuan pertama kita berawal dari sebuah pentas drama. Ketika kau meminjam baju ke butik milik Ibuku, dan dengan bodohnya aku salah menyerahkan baju. Tepat saat itu, seolah aku dan kau yang sedang membuat drama, karena aku berlari mengejarmu demi menyerahkan pakaian yang benar.

Ya, kau menyukai akting, bermain suatu peran.

 

“Artis?” Aku tersenyum melihat tag namamu kembali. Membayangkan jika tiga tahun ke depan kau bukan lagi Oh Sehun yang mengucap terima kasih dengan penuh rasa malu seperti dulu. Kau bukan lagi Oh Sehun yang mengadu padaku setiap kali terbelit masalah dalam pelajaran atau pengumpulan tugas yang terlambat. Tapi kau adalah Oh Sehun yang menjadi insppirasi milyaran orang lain serta memiliki berjuta fans di dunia.

 

Hari ini aku mengepalkan tanganku untukmu, menyerukan suaraku untuk seorang Oh Sehun. Tidak menyadari bagaimana konsekuensi yang harus kutanggung esok hari.

“Kau pasti bisa!” Dan aku suka ketika kau tersenyum, memelukku dengan seribu kehangatanmu yang aku yakin tak kudapat dari orang lain. Kau harus berjuang, Oh Sehun. Aku percaya, Oh Sehun-ku pasti bisa.

***

            Itu dulu, pandangan seorang anak SMA umur 17 tahun. Ketika akhirnya kita meluluskan studi di sekolah menengah atas, aku tahu ada yang akan terjadi. Paras tampanmu masih sama, suaramu itu juga masih sama, pun dengan aromamu yang tak pernah bisa hilang dari indra penciumanku. Tapi aku tahu hari ini ada yang salah.

Ketika kau datang dengan sebuket bunga mawar di tangan, senyuman yang lebih bersinar, dan sebuah kepingan CD, aku tahu ada yang akan terjadi.

Tapi kau layaknya morfin yang bisa menyihirku hingga lupa diri dan terhanyut akan semuanya. Tawamu menguar saat kita menonton film yang kau bawa, dan aku suka. Kupikir itu masih seindah ketika pertama aku mengenalmu. Hangat pelukmu kembali mendominasi ketika kita selesai melihat film itu, dan kurasa itu juga masih sama. Hingga kau yang bersuara terlebih dahulu,

“Sayang, kau akan keberatan jika aku mengambil keputusan?” Tepat di daun telingaku kau berbisik, dan aku bisa merasakan desah nafasmu menyentuh permukaan leherku. Membuatku terpaku beberapa jenak, sebelum aku mendapatkan kesadaranku kembali dan tersenyum kecil,

“Jika memang itu yang terbaik untukmu, mana mungkin aku keberatan, hm?” Entah kenapa ujung hatiku terasa ngilu ketika mengatakan itu. Apa ini sebuah firasat atau apa, yang kutahu, menit selanjutnya kau mencium pipiku dan berkata,

“Aku harus menjalani trainee untuk menjadi artis. Sekitar 2 tahun kata agency,” Kau mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajumu, dan kudapati bahwa itu adalah kartumu. Kartu trainee bertuliskan namamu. Aku tidak tahu apa yang bergemuruh dalam dadaku, entah sesak atau mungkin lara.

Tapi bagaimanapun, ini adalah kebahagiaanmu, maka aku menekan kuat-kuat keegoisanku dan tersenyum perih,

“Kau harus berjuang untuk keputusanmu, Tuan Oh.” Aku tertawa setelahnya, membiarkan kau memelukku lagi, mengucap terima kasih, sementara aku terlarut pada perasaan yang berkecamuk.

“Aku janji akan kembali. Percaya padaku.”

 

 

Maka sore itu aku mengantarmu dengan segenap doa restu ke peron stasiun untuk menuju Seoul, kota yang katanya besar dan tak tertandingi.

“Kau janji tidak akan melupakanku?” Ada nada posesif di dalamnya, tapi kau tidak masalah dan segera memelukku. Aku ingin waktu berjalan melambat dan menahan kepergianmu yang tidak sebentar ini.

“Iya, aku janji, sayang,” Kecupanmu terasa menenangkan meski aku meneteskan airmata setelahnya.

Kau harus kembali, Oh Sehun.

***

            Oh Sehun berjanji akan menjadi sukses, maka aku tidak ingin menghalangi jalannya. Aku memutus semua kontakku dengannya, tidak ingin sekalipun mengganggu waktunya. Aku tahu berulang kali ia mengirim email serta surat berdatangan, tapi aku hanya tersenyum di depan kabar yang ia berikan. Bahwa ia sehat, bahwa ia berlatih dengan baik, dan semua menerimanya dengan ramah.

Bulan-bulan awal aku hanya berbicara pada surat, membalas pertanyaannya. Bahwa aku sudah makan, aku sehat, dan aku masih sangat mencintainya. Yang terpenting, aku selalu merindukannya di sela kesibukanku kuliah di universitas kota ini.

Tiga bulan awal, suratmu memenuhi laci meja belajarku.

 

Lima bulan selanjutnya, pasokannya menurun menjadi hanya setengah meja.

 

Tiga bulan selanjutnya kau hanya mengirimkan sekali dalam sebulan.

 

 

Dan aku mulai merindukanmu

 

 

 

Karena pada akhirnya  hanya akulah yang menunggu suratmu, emailmu, atau apapun yang mengindikasikan tentang kabarmu.

Hanya aku yang bertanya setiap malam, apa kau baik-baik saja. Apa latihan di sana berat? Apakah kau makan dengan teratur? Ataukah kau terlalu memforsir diri? Dan yang teramat penting, masihkah kau ingat aku dan masihkah kau merindukanku? Apa kau masih sempat mencintaiku di sela jadwal padatmu? Aku tahu ini adalah konsekuensi yang harus kutanggung, tapi aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini.

 

Hingga hanya aku yang terdiam dalam sepi. Mengharap janjimu dulu masih berlaku, serta menyesali mengapa aku harus memutus kontak denganmu dulu.

Tapi kau pasti akan kembali, aku masih yakin.

***

            Tapi…

Bolehkah jika aku memudarkan harapan? Memperpendek keyakinan? Menyempitkan asa?

Ini hari di mana musim kembali berganti, di mana dua tahun yang lalu kau masih memeluk dan mengecup keningku.

Di mana aku masih dekat dengan seorang Oh Sehun, masih melontarkan kalimat cinta untuknya. Tapi berulang kali aku menengok antrian peron, kau tidak ada. Apakah kau tidak pulang dahulu utuk menjenguk kota kelahiranmu? Tempat di mana kita dipersatukan dengan cinta. Kau tidak merindukan aku?

Aku hampir mati bosan berdiri dengan buku bacaan di tangan. Kantuk melanda ketika sudah kereta terakhir yang tiba dan kau belum juga terlihat. Kupikir kau datang terlambat karena masih ada hal yang perlu kau urus. Tapi ketika aku baru saja hendak melangkah jauh keluar, tangan itu menahanku.

 

 

Dia Oh Sehun, dan itu bukan main-main.

“Se-Sehun?”

 

 

Percayakah kau bahwa rasanya ada kupu-kupu beterbangan di perutku ketika kau kembali memelukku? Mengertikah kau bahwa tangis haru menyeruak begitu saja saat aroma parfummu yang masih sama masuk menembus hidungku? Semua mendeskripsikan bahwa aku masih sangat mencintaimu.

 

 

“Aku kembali, sesuai janjiku.”

***

            Aku punya phobia.

Seketika aku terserang phobia, ketakutan berlebih bahwa kau akan meninggalkanku lagi.

Mungkin itu terdengar cheesy, tapi bagi orang yang menunggu sekian lama tanpa kabar sepertiku, tidak bolehkah? Salahkah jika kini aku takut untuk kembali melepaskan Sehun, kehilangannya? Bisakah aku menahannya untuk tidak melanjutkan cita-citanya sejak SMA dan tinggal diam saja di sisiku?

 

 

“Kau… bisakah tidak pergi lagi?” tanyaku di suatu senja, di mana siluet kembali tutupi wajahmu, membuat rambut cokelatmu terlihat berkilau di mataku.

Gesturmu masih sama, bahkan ketika mengusap kepalaku, aku bisa merasakannya.

“Kau takut, hm?” Tanganmu kembali melingkari bahuku, dan aku bersumpah merindukan semua ini. Apa kau akan melepaskannya lagi?

 

“Tidak. Hanya saja…”

 

 

“Ssshhh, dengar. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Tapi untuk membuatmu bangga, dan…” Kau menarik tanganku, menyentuh pangkal jari manisku.

“Untuk menyematkan benda di sini. Kau harus tahu,”

 

 

Lupakan semuanya. Aku tidak mau mendengarmu hari ini, Oh Sehun. Aku hanya ingin melepas rindu ini dan biarkan aku melayang. Melayang bersama dekapanmu dan melebur bersama suaramu yang tenangkan hariku.

 

 

Lupakan bahwa ternyata esok harinya aku akan kembali menjejakkan kaki di peron itu. Menunggu keretamu datang, berharap ada delay seperti ketika naik pesawat, atau mungkin kereta habis dan dialihkan besok pagi. Apapun yang membuatmu menunda keberangkatanmu. Setengah hatiku tidak rela, tapi ketika mngingat kukuhnya suaramu saat menyatakan padaku ingin menjadi artis, hatiku menampik.

Ini keinginanmu, dan aku tak ingin menjadi durinya. Bukankah seharusnya aku mendukung?

 

“Kau harus jaga kesehatan,” ujar Sehun masih dengan menggenggam tanganku. Bibirmu membentuk lengkung senyuman, seiring dengan dengung kereta yang bergesekan dengan rel pijakannya, datang merusak segalanya.

“Kau juga jaga kesehatanmu. Dan, berikan yang terbaik untuk orangtuamu,” bisikku di telingamu. Kau mengangguk patuh sembari tanganmu memberi ketenangan pada lembut rambutku.

“Tunggu aku. Aku pasti kembali.”

***

            Kupikir janji dan penantian yang sama akan menggores hatiku lebih dalam lagi. Haruskah aku lupakan saja seorang Oh Sehun, atau aku tetap menunggu layaknya orang bodoh?

Sayangnya aku memilih opsi yang kedua ketika melihat drama miniserinya yang pertama tayang di televisi. Aku berdoa dalam hati, supaya semua berjalan lancar.

 

 

Tapi…

Sepertinya keputusanku lagi-lagi kurang tepat.

 

Sehun pergi lebih lama lagi. Hingga aku lelah, menunggu dengan melihat fotonya. Atau bahkan aku yang lebih dulu mengirim email untuknya, bertanya, masihkah berlaku janjinya untukku? Atau hanyalah sebuah formalitas semata?

 

 

 

Setahun berlalu. Aku lelah. Hingga aku berjalan di tengah sisa salju natal kemarin, di mana sebagian hatiku ikut membeku. Tawa riangmu masih terpaku dalam bilik hatiku, tapi aku lelah menunggu tanpa kepastianmu.

Kau tidak memberiku kesempatan untuk melupakanmu karena wajahmu hadir di layar kaca yang kulihat setiap hari. Meski tak lagi merasakan hangat pelukmu, tapi aku masih hafal aromamu itu.

Berapa lama lagi, Oh Sehun?

Berapa lama lagi kau mau membuatku menunggu?

Berapa lama kau menahanku dengan satu janji?

Kurang berapa lama lagi?

Apa nasibku akan berakhir dengan kata maaf, atau kau tidak bisa lagi melanjutkan semua ini… Aku kehilangan asa ketika akhirnya teronggok pasrah di atas ayunan bersalju.

Haruskah aku menghapusmu?

 

 

“Untuk apa kau duduk di situ?”

Aku tertegun beberapa detik. Suara itu…

Hey, ini dingin, sayang,”

 

Sebuah tangan menyentuhku, menarikku perlahan untuk berdiri, membuatku seketika mengangkat dagu.

 

 

“Se-Sehun?” Responku masih sama seperti pertemuan kita dulu.

Dan kau hanya tersenyum kemudian mengangguk.

“Sudah kubilang, aku pasti kembali. Hanya menunggu sebentar saja, sayang,” Aku mengumpat dalam hati ketika mendapati senyummu masihlah sama. Dan detik berikutnya, ketika kau mengeluarkan sesuatu dari sakumu…

Kupikir ucapanmu hari itu hanya untuk menyenangkanku.

Kupikir aku hanya bermimpi hari itu.

Kupikir ini hanya halusinasiku.

Tapi ini nyata, dan sekarang kau pun bisa kusentuh secara nyata.

 

“Sesuai janjiku, maukah…”

 

Airmataku hampir menetes, namun benar bahwa itu cincin. Cincin yang siap kau sematkan ke jari manisku, sesuai katamu dahulu.

 

“…kau menikah denganku?” lanjutnya kemudian.

 

 

 

Aku ingin menanggapi semuanya dengan rileks, tapi kepalaku terangguk berkali-kali. Hingga Oh Sehun tertawa dan tangis bahagia menguar ketika ia memelukku. Pelukan ini nyata, dan dia selalu kembali dan tepati janjinya.

 

“Sudah kubilang, aku pasti datang untuk menepati janji.”

 

 

Aku tersenyum di punggungnya, merangkul erat-erat bahunya.

Jika memang penantian adalah jalan satu-satunya, seharusnya aku sabar menunggu. Karena Oh Sehun selalu kembali dan menepati semua janji manisnya.

 

.

.

Kata-kata itu bukan hanya janji manis

Kau mengucapkannya dengan kukuh dan selalu menyimpannya dalam memorimu

Kau mengatakannya dengan segumpal keyakinan

Dan melaksanakannya dengan penuh kepercayaan

.

.

Bisakah aku berkata,

.

.

Aku tak bisa berhenti mencintaimu?

-kkeut-

Heuuu fic ini kudedikasikan buat @maknae_ssi yang request langsung. Daaan dia bilang panas banget baca ini(selain karena surabaya emang panas)  wkwk. Okelah kalau udah baca, mind to review? Or mention my twit on @NiswaHikmahA :) )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s