[Fanfiction] Faith of Love

FX_TEASER_04

Title : Faith of Love

Cast : Krystal (f(x)) as Jung Soojung│Kai (EXO-K) as Kim Jongin

Genre : Romance│Slight!Angst│Sad│Hurt/Comfort│little bit Friendship

Length : Oneshot

Rating : PG-13

Notes : Sorry for ugly poster, im just crop and give text ^^v

©Jung. Sangneul. Present©

::::::

Faith of Love

Sore ini cerah ketika lelaki itu melangkah pelan menuju ruang tari di sekolahnya. Ia sudah berputar-putar mengelilingi sekolahnya ini demi menemukan sosok yang dicarinya, namun tidak ada. Ruangan terakhir yang seingatnya memang lupa ia kunjungi tadi hanya ruang tari, dan peluang Soojung—gadis yang dicarinya berada di sana lebih dari sembilan puluh sembilan persen. Betapa bodohnya ia melewati ruangan itu di listnya tadi.

Ia mendorong pintu ruang tari dan, benar. Soojung terlihat masih meliuk-liukkan tubuhnya diiringi musik yang berdentum keras di sana. Lelaki itu tersenyum dan masuk lebih dalam setelah menutup pintu. Terdengar sedikit berderit sehingga Soojung segera berhenti dan mematikan musiknya.

“Tidak pulang, Soojungie?” tanya lelaki itu, mendekat dan mengusap pelan keringat di dahi gadis itu. Soojung tersenyum melihatnya dan mencubit pipi lelaki yang merupakan kekasihnya itu.

“Kau tahu aku harus berusaha keras demi lomba dance itu, Jongin-ah.” katanya.

“Tapi kau bisa kelelahan.” sahut Jongin, menaikkan alis.

Soojung menghadap kaca di depannya dan merapikan seragamnya. Melirik jam dan sudah setengah jam sejak jam pulang sekolah yang asli. Baca lebih lanjut

[Angst] (Un)Ending Of Regret

Title : (Un)Ending of Regret

Author : maknae_99

Cast :

–          Baekhyun (EXO-K)

–          Krystal (f(x))

–          Victoria (f(x))

–          Sulli(f(x))

Genre : Romance, Angst, Sad

Rating : PG-13

A/N : Author comeback!!! Ini ff baekstal. Author minta RCL-nya reader sekalian. Oke? jangan cuma baca aja. Ninggalin jejak gitu kek.Entah gimana komennya reader, yang penting komen. Atau like juga gak papa. Simpel banget kan, tuh? Yudah deh, happy reading! Masalah komen itu kembali ke reader sendiri. Terserah mau komen atau nggak. Ok, annyeong!

***

Sudah hampir 5 tahun. Ia pergi tanpa memberiku kabar atau apapun. Salam perpisahan saja tidak ada. Aku sangat menyesal. Hari terakhir bertemu, aku bertengkar sangat hebat dengannya. Hanya karena masalah sepele, sebenarnya. Tapi entah karena emosiku atau emosinya yang sedang tidak terkendali, masalah sepele itu menjadi sangat besar. Dan meluber kemana-mana.

Baca lebih lanjut

[Drabble] Just Memories

Title : Just Memories…

Cast: Taeyeon (SNSD)

Support Cast : Leeteuk (Super Junior)

Genre: Sad

Rating: Siapa saja boleh baca ^^

Length: Drabble

Author: Jung Sang Ri

Annyeong All ^^

Untuk Fanfict kali ini aku mau bersad-sad ria (Apa maksudnya??). Ya, sebenarnya FanFict ini adalah sebagai tanda maafku karena FF If-ku belum selesai dan akhirnya aku memutuskan untuk memberhentikan FF itu (Mianhae-_-). Sudah dulu ya, hanya ini saja yang mungkin bisa aku bilang. Don’t bash and don’t plagiat. Happy Reading ^^

-_-

Baca lebih lanjut

[Fanfiction] TEARS

Title : Tears

Cast : Park Hyori (OC)│Oh Sehun (EXO-K)

Genre : Romance│Hurt

Length : Ficlet

Rating : T

©sweetynis99(JungSangNeul)©

&&&

TEARS

[Inspired by SNSD]

 

Hyori mengusap embun yang menempel di jendela sisa hujan semalam. Tangannya terasa dingin. Setelah embun itu resmi terhapus, pandangannya kontan tertuju ke pemandangan di luar sana yang  jadi tampak lebih jelas dari sebelumnya. Lara hatinya kembali terkuak. Ia masih mengingat kejadian seminggu yang lalu.

Rumah itu, yang kini ia lihat dengan sorot mata intensnya telah mengingatkannya pada seseorang. Rumah itu milik seorang lelaki. Lelaki bernama lengkap Oh Sehun yang dari awal SMA sudah dekat dengannya. Sesaat bibirnya mengumbar senyum tipis. Semata-mata hanya karena ia ingat sesuatu yang bersangkutan dengan lelaki itu. Sesuatu yang agak lucu tentunya.

“Ah, ayolah… Aku mau makan udang di restoran seafood itu,”

Saat siang itu ia sempat memohon-mohon pada lelaki itu dengan ekspresi wajah terkasihan yang ia punya.  Sementara lelaki itu hanya menggeleng kecil.

“Aniya. Aku sedang tidak mood makan.”  tolaknya halus. Hyori mengerucutkan bibirnya kala itu. Moodnya yang buruk hanya bisa diobati dengan makan udang. Tapi Sehun tak ingin menemaninya. Itu sama saja semakin memperburuk moodnya.

“Yasudah. Aku pulang sendiri, kau tak perlu mengantarku.” Ia melangkah sendiri keluar  sekolahnya dengan kesal.

“Ya! Kajja, kita ke restoran itu. Makanlah udang sepuasmu,” Sehun menarik tangan Hyori, membuatnya kala itu tersenyum menang. Ia berhasil menaklukkan hati lelaki itu!

Hyori tertawa kecil mengingatnya. Ternyata alasan Sehun tidak ingin makan udang waktu itu hanyalah karena lelaki itu sedang tidak memiliki uang saku yang cukup untuk membayar billnya nanti. Huh. Hyori masih tersenyum ketika mengingat kenangan yang lain.

“Nilaimu, kenapa bisa begini? Kau tidak belajar?” omel Hyori sewaktu melihat nilai merah tertera di lembar ulangan Sehun.

“Iya, waktu itu aku ketiduran sampai pagi. Aku lelah setelah ekstra,” jawab Sehun kala itu dengan wajah tak bersahabatnya.

“Hah, kau ini! Sudahlah, aku marah. Perbaiki dulu nilaimu, baru aku mau dekat denganmu lagi.” Saat itu, Hyori pergi begitu saja. Dan baru kembali saat nilai Sehun tertulis dengan tinta hitam lagi, tepat seminggu setelahnya.

Hyori menghembuskan nafasnya. Kini menepis senyumannya sendiri.

Andai saja di dunia hanya ada peristiwa yang menyenangkan. Tentu tidak akan ada kenangan menyedihkan.  Tapi takdir mencatat lain. Sore itu, dimana seharusnya mereka pergi bersama lagi ke kedai Kim-ahjumma. Kedai favorit mereka untuk makan mi ramen. Seharusnya mereka kembali berdiskusi—meski akhirnya selalu berujung pada debat tentang sesuatu yang tidak penting. Seharusnya mereka saling berbagi cerita tentang kampus  baru masing-masing. Seharusnya—tak akan pernah selesai jika membicarakan perumpamaan.

Yang jelas, sore itu semua rencana tak ada yang terlaksana. Hyori sempat menunggu berjam-jam hingga dua mangkuk mi ramen yang ia pesan ia habiskan sendiri—beserta dengan minumannya. Ia akhirnya pulang dengan kekesalan yang memuncak. Ia pikir, Sehun pasti lupa. Sehun pasti sedang menemui orang lain yang juga memiliki janji dengannya. Dan melupakan janji dengan dirinya. Pasti. Tak ada alasan lain.

Tapi semua perkiraannya salah. Ternyata Sehun berada di rumah sakit. Sedang menjalani operasi pencangkokan ginjal.

Pencangkokan ginjal? Ya tuhan, Hyori bahkan tidak tahu menahu mengenai penyakit apa yang diderita lelaki itu. Yang ia tahu, selama ini Sehun terlihat sangat sehat. Bagaimana mungkin ginjalnya divonis dokter telah rusak parah sehingga harus diganti? Ah, teman macam apa dirinya yang tidak mengetahui penyakit teman—bahkan sahabatnya sendiri?

“Sehun… operasi?”

Hanya pernyataan setengah tak percaya yang  terlontar dari mulutnya saat itu. Ia mendengarnya dari kakak Sehun, tepat saat ia menelepon lelaki itu. Semula hanya ingin mengomeli Sehun yang lupa pada janji mereka, tapi ia malah dibuat terkejut sendiri. Ia hanya bisa memegangi meja—menguatkan tumpuan kakinya yang goyah, sebelum berlari menuju rumah sakit tempat lelaki itu ditangani yang ia tahu dari kakak Sehun juga.

Hyori kembali menyentuh jendela itu. Dulu kalau dingin seperti ini, tangan Sehun yang hangat akan ada untuknya. Bagaimanapun akan membuatnya senyaman mungkin. Terlalu nyaman hingga gadis itu menganggapnya lebih dari sekedar  teman. Perasaannya sudah berubah sejak berbulan-bulan yang lalu. Dan ia baru menyadari, itu namanya cinta? Tapi… semua terlanjur terlambat. Benar-benar terlambat.

Hari itu, Dokter keluar dari ruangan operasi dengan wajah tak menentu.

“Maafkan saya, operasinya… gagal. Saudara Sehun tidak dapat diselamatkan.” Hyori sontak membelalakkan matanya waktu itu. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin dokter spesialis sehebat itu tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik?

“Dokter ini bagaimana? Anda malpraktek, ya? Selamatkan Sehun, Dok! Dia masih bisa selamat, kan?” seru Hyori tak jelas, menggoyangkan tubuh sang dokter. Ia hampir gila ketika logikanya tak mampu menerima jawaban dari akal sehatnya sendiri. Dunia seakan terbalik.

Dan yang dapat ia lakukan saat itu hanyalah menangis. Menangis tanpa ada ujung pangkalnya. Ia kembali mengingat semua kenangan indah bersama Sehun. Semuanya tidak dapat terulang lagi. Semuanya hilang ditelan waktu. Jika saja ia tahu kalau mereka tak bisa bersama lebih lama lagi, ia pasti akan memperlakukan Sehun lebih baik dari yang dulu. Ia tidak akan merengek minta ini-itu saat Sehun sedang tidak mood atau kantongnya sedang mengempis. Ia tidak mungkin mengomel hanya karena nilai Sehun buruk. Justru dengan sabar, ia akan membantu Sehun agar bisa memperbaiki nilainya di lain waktu. Tapi, sekali lagi, realita mengatakan sebaliknya.

“Sehun-ah, bangun! Bilang kalau ini hanyalah mimpi! Ya, kan? Hanya mimpiku, kan?” Isakan kecil bercampur seruannya menggema ketika ia melihat dengan gamblang bahwa wajah sahabatnya itu telah memucat.

“Kau jahat! Ke-kenapa… meninggalkanku sendirian? Aku… aku… “ Ucapan patah-patahnya waktu itu benar-banar memilukan hati. Salah. Sampai sekarangpun tak ada celah kosong di hati Hyori. Tetap penuh dengan memori bersama lelaki itu.

Hyori bergerak menuju meja nakas kamarnya yang terletak tak jauh dari jendela itu. Mengambil sebuah foto. Foto ketika ia dan lelaki yang kini telah tiada itu bermain di Sky Resort. Dengan melihat senyuman Sehun di foto itu, membuatnya kembali merenung. Benarkah sekarang Sehun sudah disisi Tuhan? Benarkah waktu itu operasinya gagal? Bahkan Hyori masih berada di ambang keraguan atas statement itu. Padahal sudah seminggu berlalu semenjak sore penuh duka itu. Tapi…. hei. Mereka masih sempat bertemu di kampus tanpa sengaja sebelum sore itu.

“Maafkan kesalahanku selama ini, ya, Hyori-ah,”

Ah! Benar. Waktu itu Sehun sempat meminta maaf padanya. Bodohnya dia yang malah tidak peka dan menganggap itu hanyalah lelucon. Seharusnya itu waktu terakhirnya. Untuk menyatakan perasaannya yang telah lama ia pendam. Ia menyukai Sehun. Bukan dalam konteks pertemanan atau mungkin persahabatan. Tapi lebih dari itu. Tapi, semuanya benar-benar telah berakhir.

Tes! Tanpa terasa, air mata Hyori menetes begitu saja. Ia tau, andaikan Sehun masih ada sekarang, lelaki itu akan menertawainya yang begitu mudah menangis. Tapi bukankah kenyataan telah berkata sebaliknya? Sehun sudah tiada.  Biarkan airmata itu menetes membasahi pipinya. Tak ada lagi yang akan membuatnya kesal dengan menertawainya. Tak ada lagi yang mau menghapus jejak kristal bening itu dengan jemarinya.

Jadi, biarkan saja. Lelaki itu akan menetap dalam hatinya. Karena semakin Hyori ingin melupakannya, bayangannya akan semakin menguar muncul ke permukaan. Membuat sakit hatinya sendiri adalah pilihan terbaik. Ia tak yakin waktu bisa menghapuskan segalanya. Sungguh tak yakin, mengingat sebanyak apa kenangan diantara mereka yang tak mampu ia hapus satu per satu dari memorinya.

Hyori membuka jendela kamarnya. Membiarkan angin dingin menyapa kulitnya. Menerbangkan helaian anak rambutnya.

“Sehun-ah, saranghaeyo,” gumamnya pelan.

Desir angin menjadi jawabnya. Ia memejamkan matanya. Menganggap desiran angin itu adalah jawaban Sehun dari surga untuk pernyataan gamblangnya tadi. Cukup sekali, tapi sarat makna. Dia mencintai Sehun. Tak peduli seburuk apapun konsekuensinya untuk hatinya yang terasa semakin perih. Ataupun perasaan lelaki itu yang sesungguhnya. Ia hanya ingin tetap bertahan mencintai lelaki itu. Apapun yang terjadi. Bukankah cinta juga tak harus memiliki?

Hyori tersenyum dengan mata yang terpejam. Ia sudah mendapatkan jawabnya sekarang.

Fict End.

Hm, akhirnya selesai juga. Ini dikarang dalam waktu satu jam. XD

Jadi maaf kalau hasilnya kurang memuaskan. Tapi tetep, comment is allow ^^