[Ficlet] My Dream isn’t My Story Life

Title : My dream isn’t My story life..

Cast: Jessica (SNSD) dan Donghae (Super Junior)

Genre: Sad, Romance, Happy (Mungkin).

Rating: Siapa saja boleh baca ^-^

Lenght: Ficlet

Author: Jung Sang Ri

NB: All Jessica P.O.V

Annyeong All ^-^

Untuk Fanfict kali ini aku terinspirasi dari lagu SNSD yaitu Time Machine. Entah kenapa setelah melihat artinya, ada beberapa potongan ide (Mungkin) yang keluar dari otakku. Tetapi, dalam FF ini aku tidak menempelkan semua arti lagu kedalam cerita FF-ku. Jadi, jangan kira semua alur FF disini semuanya akan berpihak dengan lagu Time Machine. Emm, yasudah deh cuma itu saja. Don’t bash and don’t plagiat. Happy Reading ^-^

^-^

Baca lebih lanjut

Iklan

100 Plane With Love – special Sungmin birthday

Title : 100 Plane With Love

Cast : – Lee Sungmin

– Kim Taeyeon

– Lee Donghae

Genre : romance, angst, sad, little bit family, alternate universe

Rating : PG-13

Length : Oneshoot

Author : sweetynis99 (JungSangNeul)

Note : Ini special kado buat Sungmin di ulang tahunnya. Saengil chukha hamnida nae Sungminnie…^^ Jangan lupa dikomentari, dan jangan diplagiat ya, karena author susah payah membuatnya. Mohon pengertiannya. Happy Reading, guys… ^^v

***************************************************************************

Cinta bisa membuatmu kuat, optimis, dan semakin percaya pada keajaiban. _Sungmin

Seperti hari-hari kemarin-kemarinnya, hidupnya selalu ia habiskan di tempat itu. Tempat yang penuh dengan bau obat, tempat yang penuh dengan perawat yang berlalu-lalang. Selalu tidur di tempat yang sama setiap harinya.

Terkadang ia pikir, mati mungkin bisa lebih baik daripada menjalani kehidupan menyiksa sekaligus memuakkan seperti ini. Ia hidup dengan ketergantungan obat-obatan. Tanpa obat-obatan itu, wajahnya akan memucat dan sesak nafas menderanya.

“Annyeong, hyung!”  Suara seseorang terdengar menggema, melenyapkan kesunyian yang hanya dilengkapi bunyi detak jam di ruangan itu. Laki-laki itu, yang dikenal bernama Sungmin, tetap diam. Tak bergerak dari posisinya, menyambut orang itupun tidak.

“Hyung, tebak aku bawa apa?” sahut orang tadi, tersenyum menunjukkan lekukan bibir indahnya. Sementara Sungmin tetap dengan raut wajahnya yang datar, tidak berniat bergeser sesentipun dari tempatnya. Matanya mengerjap sekali. Orang tadi, yang bernama Dong Hae—adik dari Sungmin—menghembuskan nafasnya. Ia hafal betul bagaimana tabiat Kakaknya itu semenjak beberapa bulan yang lalu.

“Aku bawa brownies kesukaan hyung! Dulu, kita sering sekali balapan makan brownies waktu kecil. Kau ingat? Mulutmu suka belepotan dulu. Hahaha….” Tawa Dong Hae menggema. Tapi tetap tak ada sedikitpun respon dari Sungmin. Dia tetap diam, mirip patung. Dong Hae dengan sigap meletakkan sepotong brownies di atas piring yang terletak di meja nakas kamar rawat.

“Ini untuk hyung. Makanlah.” Dong Hae menyerahkannya pada Sungmin.

“Dulu itu dulu, dan tidak akan pernah sama dengan sekarang. Sudahlah, hidupku tak akan seperti dulu lagi semenjak hari itu.” sahut Sungmin, tatapannya dingin.

***

Ia datang lagi. Gadis manis yang selalu mengurai rambutnya dan membawa berlusin-lusin kertas lipat setiap kali mengunjungi taman rumah sakit itu. Baginya, taman itu bagaikan surga yang tak pernah ia dapatkan ketika mendekam di dalam kamar. Ia rela tersakiti seumur hidup, jika setiap pagi masih bisa datang ke taman itu.

Ia menduduki salah satu bangku. Menarik nafas dalam-dalam, membiarkan oksigen ber-transplantasi dengan karbon dioksida dalam alveolusnya, lalu menghembuskannya patah-patah. Tersenyum menyambut pagi ini. Pagi yang masih sama seperti yang sebelum-sebelumnya.

Dimulainya lagi aktivitasnya. Melipat kertas-kertas menjadi berbentuk pesawat. Ia masih percaya mitos lama yang mengatakan, menerbangkan pesawat dari kertas itu sama dengan menerbangkan kesedihan. Saat 100 pesawat telah terbang, maka kesedihan itu telah sempurna hilang.

“Sayang, ini sarapanmu. Ketinggalan.” Seorang perempuan paruh baya menyapanya. Menyerahkan nampan yang berisi sepiring roti, seplastik kecil obat lengkap dengan air putihnya. Gadis itu tersenyum.

“Ah, terima kasih, Bunda.” Gadis berfull-name Kim Taeyeon  itu mengambil nampan yang disodorkan biarawati tersebut.

“Iya, sama-sama. Semoga Tuhan cepat menghapus kesedihanmu.”

“Aku tak pernah sedih, Bunda. Tuhan kan selalu ada disisiku.” Taeyeon tersenyum. Wanita yang dipanggilnya ‘Bunda’ itu mengelus kepalanya. Bangga dengan optimisme gadis berkulit seputih susu itu.

***

“Tapi kejadian itu sudah lama, hyung. Kenapa kau masih juga mengingatnya?” sahut Dong Hae.

“Tidak mungkin bisa lupa, Dong Hae. Karena kau tidak pernah merasakannya, makanya kau tidak tau! Saat Dokter memvonis hidupmu tinggal beberapa bulan lagi. Cinta yang hilang dari hidupmu, dan orang tua yang kandas entah kemana. Kau tak paham!” seru Sungmin.

Donghae menghela nafas panjang. Ia mengerti apa yang terjadi 5 bulan yang lalu. Kecelakaan pesawat yang dialami Sungmin dengan kedua orang tuanya dan Eun Young, tunangannya. Saat itu, mereka dari Amerika sepulang meminang Eun Young dan sekaligus memboyongnya ke Korea untuk melangsungkan pernikahan. Ketika itulah, pesawat yang mereka tumpangi jatuh dan terbakar.

Saat itu, hanya Sungmin dan Eun Young yang ditemukan. Sungmin selamat, meskipun akhirnya Dokter memvonisnya kelainan jantung dan hanya dapat bertahan beberapa bulan lagi. Sementara Eun Young dipastikan meninggal. Dan orangtuanya tidak ditemukan jasadnya.

***

Taeyeon menggigit rotinya, mengunyahnya sambil bersenandung kecil. Pesawat dari kertas yang ia buat telah jadi 15 buah.

“Huft..” Suara hempasan tubuh diselingi desahan nafas membuat Taeyeon menoleh. Sudah ada seorang laki-laki duduk disampingnya dengan wajah hampanya.

“Hai.” Sapa Taeyeon. Laki-laki yang ternyata adalah Sungmin itu hanya menatap beku.  Taeyeon membagi rotinya menjadi 2 bagian.

“Mau?”tawar Taeyeon, menyerahkan setengah potongannya. Sungmin terdiam sejenak, kemudian memutuskan menerimanya karena merasa perutnya telah berbunyi, pertanda minta diisi. Taeyeon tersenyum menatapnya.

“Namamu siapa?” tanya Taeyeon, mencoba menatap wajah Sungmin. Sungmin balas menatapnya, menelusuri lekuk wajah Taeyeon, hingga berhenti pada satu bagian. Matanya. Mata itu, ada seseorang yang juga memilikinya. Mata elang yang akan berkilat saat marah dan tersenyum saat merasa bahagia.

“Namamu siapa?” tanya Sungmin, membuat Taeyeon tak sanggup menahan tawanya. Benar, mata itu benar-benar milik seseorang yang ia kenal.

“Namaku Taeyeon. Kim Tae Yeon. Tadi kau belum menjawab pertanyaanku.” jawabnya setelah meredakan tawanya. Kemudian melahap gigitan roti terakhirnya.

“Kau mirip sekali dengan Eun Young. Terutama matamu,” ujar Sungmin, membuat Taeyeon semakin tak mengerti.

“Eun Young? Siapa itu?”

“Calon istriku. Tapi, dia sudah meninggal.”

“Ah, maaf, aku tidak bermaksud—”

“Tidak apa-apa. Kau tidak salah. Eun Young itu hidupku, makanya setelah Eun Young tiada, aku tidak pernah menemukan sinar hidup lagi. Hidupku gelap.” Taeyeon mengulum senyum.

“Pasti Eun Young itu sangat berharga untukmu. Dia benar-benar beruntung memiliki kekasih sepertimu.” Sungmin menoleh lagi, menatap Taeyeon, hingga berhenti pada satu sudut. Pesawat dari kertas.

CRASH!

Seolah terputar lagi kilasan kenangan menyakitkan yang telah terkubur lama nian. Menguak lagi luka batin yang telah lama terpendam dalam diam.

“Kau yang membuatnya?” tanya Sungmin ragu.

“Iya, aku percaya mitos kalau menerbangkan satu pesawat juga bisa menerbangkan satu kesedihan. Cobalah.” Taeyeon menyerahkan satu pesawat kertasnya pada Sungmin. Sungmin menerimanya. Entahlah. Seolah ada magnet yang membuat Sungmin tak dapat menolaknya. Padahal pesawat itu menyimpan cerita. Cerita kelam kecelakaan yang menjadi saksi bisu menghilangnya segala kebahagiaan dalam hidupnya. Menjadikan ia seorang pesimis.

Sungmin menghela nafas panjang bak melepaskan semua beban mentalnya. Kemudian dengan kuat melempar jauh pesawat kertas itu. Membumbung tinggi di udara, melayang tertiup angin, kemudian terjatuh di kolam ujung taman. Taeyeon tersenyum.

“Air akan menghanyutkan lukamu perlahan. Percayalah.” ujarnya. Kemudian membereskan sisa pesawatnya dan meletakkannya diatas nampan yang kini hanya tersisa piring, gelas, dan plastik obatnya.

“Aku harus kembali. Mungkin besok bisa bertemu lagi.” kata Taeyeon sembari bangkit dari duduknya. Sungmin menahan tangannya. Tersenyum. Senyum pertamanya sejak tragedi itu, 5 bulan yang lalu. Senyum pertamanya yang khusus ia persembahkan pada Taeyeon.

“Namaku Sungmin. Lee Sung Min.” Taeyeon mengangguk kecil, seraya berlalu.

“Hyung! Kau disini rupanya. Ayo, sudah waktunya kau check up!” Dong Hae datang beberapa menit kemudian. Sungmin hanya menurut ketika tangannya  ditarik paksa oleh adiknya itu. Tidak mengkal seperti yang sudah-sudah. Kini dihatinya telah terukir sebuah nama. “Taeyeon,”

***

Pertemuan itu tidak berhenti sampai situ. Di hari-hari berikutnya mereka terus bertemu di pagi hari. Pagi itu, Sungmin kembali ke tempat duduk yang masih sama dengan kemarin-kemarinnya. Kalau dipikir-pikir, kenapa tak ia lakukan hal yang sama sejak dulu? Bukankah suasana disini lebih indah daripada kamar pengap yang tiap harinya tak pernah absen dari bau obat itu? Disini ia bisa menghirup udara dengan lebih bebas, mendengarkan kicau burung, dan mencium wangi bunga-bunga yang bermekaran.

“Hai.” sapa suara itu, hangat. Dilihatnya Taeyeon telah duduk disampingnya.

“Aku tadi masak roti bakar. Kau mau?” tawar Taeyeon.

“Terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, kau itu sakit apa, sih?” tanya Sungmin sambil menerima roti dari Taeyeon.

“Tifus,” jawab Taeyeon kemudian menggigit roti bagiannya.

“Ah, begitu. Enak, ya. Aku sudah sebulan disini. Bosaaaaan sekali,” sahut Sungmin.

“Sebulan? Kau sakit apa? Dai November kemarin?”

“Kelainan jantung. Sejak 5 bulan yang lalu, sejak aku dan Eun Young kecelakaan waktu itu. Tapi, aku baru dirawat inap sebulan ini.” Taeyeon hanya manggut-manggut mendengarnya. Mungkin itu sebabnya lelaki ini begitu dingin saat pertama kali mereka bertemu?

“Ah iya, kau mau membantuku membuat pesawat kertas tidak? Targetnya 100, tapi masih kurang setengahnya.” pinta Taeyeon.

“Buat apa sih, itu? Itu kan hanya mitos.” Taeyeon tersenyum paham, mungkin sudah banyak yang bertanya padanya perihal ini.

“Tapi, mitos itu bisa jadi keajaiban. Anak kecil di lantai atas itu sudah 2 bulan koma karena kelainan hatinya yang akut. Aku hanya ingin membantu mewujudkan keajaiban itu untuknya,”

Sungmin tersenyum mendengarnya. Kemudian dengan sigap mengambil kertas lipat dan mulai membentuknya menjadi pesawat.

***

24 Desember 2012.

Malam natal. Dua insan itu sedang duduk di taman yang penuh rerumputan. Mereka bahkan tidak takut akan bahaya badai salju yang mengancam, mengingat udara di sekitarnya telah mencapai minus 7 derajat celcius.

“Ayo Sungmin, buat lebih banyak lagi. Kurang 40 nih,” keluh Taeyeon sambil masih melipat kertasnya.

“Capek, ah. Nanti saja lagi.” Sungmin merebahkan badannya di rerumputan. Menghitung bintang yang berkedip di atas sana. Kemudian dengan jenaka menarik tangan Taeyeon hingga tubuh mungilnya ikut rebah di sebelahnya. Taeyeon berdecak kesal.

“Lihat, bintangnya bersinar. Seperti matamu kalau sedang tersenyum. Cantik sekali,” ungkap Sungmin. Taeyeon menoleh, melihat wajah Sungmin dari samping.

“Bintangnya itu lucu. Kecil-kecil tapi banyak. Sungmin?” Sungmin hanya menggerung mendengar namanya dipanggil.

Kau itu jelek tau,” Taeyeon berbisik di telinganya. Sungmin memelototinya.

“Yasudah, biarkan saja. Biar jelek, tapi kau suka kan? Ngaku saja!!”

Udara bahkan tak lagi terasa dingin. Menghangat karena percakapan dua insan itu.

***

“Ulang tahunmu itu kapan?” tanya Taeyeon di suatu pagi, sambil mengunyah rotinya.

“Untuk apa kau tau?” sahut Sungmin.

“Karena aku ingin memberikan kado nanti,”

“Ulang tahunku itu tepat saat lembaran baru kehidupan ini dibuka. Diperingati seluruh dunia. New year,” ucap Sungmin, matanya tampak berbinar.

“Waw! New year? Pasti kau bahagia sekali.”

Dulu yang penting ada Eun Young aku bahagia. Kalau sekarang, mungkin yang penting ada kau dan mata indahmu,” ucap Sungmin dalam hati. Menatap berarti Taeyeon.

***

31 Desember 2012.

“Lho? Kadonya kemana ya? Kok hilang?” gumam Taeyeon panik. Ia sudah bersusah payah mengajak Sungmin datang ke taman, menunggu hingga tepat pukul 24.00. Tapi saat merogoh kantongnya, kadonya raib entah kemana.

“Kau mencari apa?” tanya Sungmin. Alisnya bertaut heran.

“Itu, tadi ak-aku sudah mempersiapkan kado untukmu. Tapi… se-sepertinya hilang, atau mungkin jatuh. Aku tidak tau. Maaf ya,” Taeyeon tampak menyesali kecerobohannya.

Sungmin tersenyum lalu mendekat dan mengusap kepala Taeyeon.

“Kau ini! Kenapa harus repot-repot beli kado? Cukup kau menyanyi untukku, aku sudah senang.” Taeyeon menggigit bibirnya. Menyanyi?

“Ayo menyanyi untukku.” pinta Sungmin.

Taeyeon menarik nafasnya panjang.

“Saengil chukha hamnida. Saengil chukha hamnida. Saranghaneun Lee Sung Min….”

“Saengil chukha hamnida…” lanjutnya.

Sungmin langsung memeluknya. Baginya ini adalah malam terindah dalam hidupnya sepanjang ia merayakan ulang tahun bersama orang lain di tahun-tahun sebelumnya.

“Taeyeon-ah, kalau aku mengatakan aku mencintaimu bagaimana?” tanya Sungmin lirih. Taeyeon memposisikan dagunya diatas bahu Sungmin, mencari kehangatan disana.

“Aku…. Aku…” Taeyeon melepas pelukannya. Tersenyum, kemudian berucap,

“ Nado saranghae Lee Sung Min,” Kemudian ia mengeluarkan sisa selembar kertas lipatnya.

“Ini pesawat kertas terakhir. Ke seratus.” ujarnya kemudian. Ia melipat-lipatnya menjadi pesawat. Lalu Sungmin mengambilnya.

“Untuk tahun pertamaku yang tanpa kesedihan lagi,” Sungmin dengan rela hati kuat-kuat menerbangkannya. Pesawat itu hilang terbawa angin. Sungmin maupun Taeyeon sama-sama tersenyum.

Taeyeon menyandarkan kepalanya di bahu Sungmin, menutup matanya. Sungmin mengusap kepala yeojanya dengan lembut, kemudian ikut menutup matanya. Saat itulah, Tuhan telah ikhlas mengambil mereka untuk dipersatukan di alam selanjutnya, sesuai kehendak Tuhan. Sebenarnya, penyakit Taeyeon bukanlah tifus, tapi  tumor otak yang telah diidapnya sejak setahun yang lalu. Tetapi mereka berdua pergi bukan karena latar belakang penyakit, tapi karena Tuhan telah memanggil mereka.

Dong Hae yang ternyata melihat dari belakang, ikut tersenyum. Tetap tersenyum saat tubuh keduanya ambruk, kehilangan nyawa.

Tuhan, terima kasih mengirimkannya untuk sisa hidup Sungmin-hyung. Hyung, berbahagialah untuk tahun pertama sekaligus tahun terakhir bersamanya.” ucapnya dalam hati.

Paginya. Terlihat anak kecil berumur 5 tahunan keluar di balkon lantai atas yang dulu ditunjuk oleh Taeyeon. Anak kecil penderita kelainan hati yang telah divonis sembuh oleh Dokter sejak detik pertama membuka mata.

Cinta itu tidak menyakiti, tetapi menyembuhkan dengan dasar ketulusan. _Taeyeon

***

A/N : Ini sebenarnya terinspirasi dari dua fanfiction di internet. Hanya saja ide pokoknya tidak didasarkan sepenuhnya pada fanfiction itu. Tapi saya hanya terinspirasi dengan ide brilliant kedua author itu, bukan plagiat. ^^ Arra?

Cycle of Love

Cycle of Love

Cast : Im So Ra (OC), Donghae (Super Junior), Ryeowook (Super Junior)

Genre : frienship, gaje, little bit romance, fluff

Rate : General

Length : Oneshoot

Author : Blue Musketeer (LeeDongJin)

Jeng jeng! Author kembali dengan nama baru (LeeDongJin). Untuk kali ini aku mau post ff keduaku sekaligus oneshoot pertamaku. Buat yang nunggu KyuNa sabar dulu ya. Mian kalo nggak ada poster. Aku nggak jago ngedit foto. Dan mian juga untuk typo. Enjoy all! ^_^

NO BASHING! NO PLAGIAT!!

*********************************************************************************

Mianhae

UntitledAuthor : Kim Hyuna

Cast : – Sunny SNSD

– All SNSD Member
– All SJ Member
– All SHINee Member
– All f(x) Member

Other Cast : – Sooman

– All Big Bang Member

– Yang Yun Suk

Gennre : Comedy, GJ, Friendship, Little bit Romance

Lenght : Oneshoot

*************************************************************************

Baca lebih lanjut