[Ficlet] Promise

282717_291658820933046_860506370_n

A fanfiction by Jung Sangneul

// PROMISE //

Starring : Oh Sehun (EXO-K) and You

Genre : Romance, fluff, fluff, and fluff till the end! || Length : (maybe) Ficlet || Rating : PG-13

Summary : Kau berjanji untuk selalu kembali, maka kau akan menepatinya.

 

Aku menyukaimu.

Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin karena wajahmu tampak menarik ketika lewat di hadapanku. Atau karena kau terlihat manis ketika menyedot minumanmu layaknya anjing yang kehausan. Atau karena aromamu terlalu menusuk dan mampu membuatku duduk di dekat bangkumu saat sore hari. Dan banyak kemungkinan alasan lainnya. Kau hadir di mataku setiap hari, tapi setiap kautanya mengapa aku menyukaimu, aku akan menjawab enteng,

“Entahlah. Mungkin sudah takdirnya aku menyukaimu.” Baca lebih lanjut

[Fanfiction] Sincerity

sincerity

Title : Sincerity

Cast : Luhan (EXO-M)│Sehun (EXO-K)

Genre : Friendship ‘till the end!

Length : Ficlet (>1000w)

Rate : Teenage

©Jung. Sangneul. Present©

###

Sincerity

 

Jalanan tengah kota terasa becek ketika terinjak oleh kaki. Hujan semalam mengguyur tiada henti, sisakan embun pagi yang dingin terasa di kulit. Masih sekitar pukul enam pagi ketika lelaki itu menjejakkan langkahnya ke sebuah kedai yang terletak tak jauh dari tempatnya keluar tadi—lobby sebuah gedung bertingkat. Ia memeluk tubuhnya yang mendingin tersergap udara pagi. Sejurus kemudian mulutnya bekerja memesan satu menu favorit yang menjadi andalan kedai itu.

“Bubble tea satu cup, ahjussi,” Paman yang melayani di sana tersenyum sumringah melihat kedatangannya.

“Halo, Sehun-ah. Sepagi ini sudah minum bubble tea, hm?” tanyanya sambil melirik jam di dinding kedainya yang masih sepi. Mungkin orang lain masih melanjutkan tidurnya yang tenang, mengubur diri di balik selimut.

Sehun balas tersenyum ramah.

“Iya, aku sedang bosan. Ah, gomapta ahjussi. Aku duluan ya.” Sehun menerima se-cup bubble teanya dan masih mengucap salam ketika sudah menyedotnya seseruput.

“Ne, Sehun. Semoga harimu menyenangkan!” seru si paman dari balik konternya, melanjutkan membereskan beberapa peralatan.

Sehun berjalan berbalik, menatap jajaran pertokoan yang berderet di sekitar kedai kecil yang hangat itu. Masih menyedot bubble tea Baca lebih lanjut

[Fanfiction] Winter Love

Winter Love

Cast: Oh Sehun (EXO-K) and Lee Hyora (OC)

Genre: Romance, Happy

Rating: Siapa saja boleh^^

Length: One Shoot

Author: Jung Sang Ri

Annyeong All^^

Untuk kali ini aku dapat ide setelah baca FF-nya EXO. Nah, mumpung dapat ide aku langsung ketik deh. Sudah deh, nggak ada lagi. Jangan lupa komentar ya..  Don’t bash and don’t plagiat. Happy reading 🙂

Baca lebih lanjut

[Fanfiction] TEARS

Title : Tears

Cast : Park Hyori (OC)│Oh Sehun (EXO-K)

Genre : Romance│Hurt

Length : Ficlet

Rating : T

©sweetynis99(JungSangNeul)©

&&&

TEARS

[Inspired by SNSD]

 

Hyori mengusap embun yang menempel di jendela sisa hujan semalam. Tangannya terasa dingin. Setelah embun itu resmi terhapus, pandangannya kontan tertuju ke pemandangan di luar sana yang  jadi tampak lebih jelas dari sebelumnya. Lara hatinya kembali terkuak. Ia masih mengingat kejadian seminggu yang lalu.

Rumah itu, yang kini ia lihat dengan sorot mata intensnya telah mengingatkannya pada seseorang. Rumah itu milik seorang lelaki. Lelaki bernama lengkap Oh Sehun yang dari awal SMA sudah dekat dengannya. Sesaat bibirnya mengumbar senyum tipis. Semata-mata hanya karena ia ingat sesuatu yang bersangkutan dengan lelaki itu. Sesuatu yang agak lucu tentunya.

“Ah, ayolah… Aku mau makan udang di restoran seafood itu,”

Saat siang itu ia sempat memohon-mohon pada lelaki itu dengan ekspresi wajah terkasihan yang ia punya.  Sementara lelaki itu hanya menggeleng kecil.

“Aniya. Aku sedang tidak mood makan.”  tolaknya halus. Hyori mengerucutkan bibirnya kala itu. Moodnya yang buruk hanya bisa diobati dengan makan udang. Tapi Sehun tak ingin menemaninya. Itu sama saja semakin memperburuk moodnya.

“Yasudah. Aku pulang sendiri, kau tak perlu mengantarku.” Ia melangkah sendiri keluar  sekolahnya dengan kesal.

“Ya! Kajja, kita ke restoran itu. Makanlah udang sepuasmu,” Sehun menarik tangan Hyori, membuatnya kala itu tersenyum menang. Ia berhasil menaklukkan hati lelaki itu!

Hyori tertawa kecil mengingatnya. Ternyata alasan Sehun tidak ingin makan udang waktu itu hanyalah karena lelaki itu sedang tidak memiliki uang saku yang cukup untuk membayar billnya nanti. Huh. Hyori masih tersenyum ketika mengingat kenangan yang lain.

“Nilaimu, kenapa bisa begini? Kau tidak belajar?” omel Hyori sewaktu melihat nilai merah tertera di lembar ulangan Sehun.

“Iya, waktu itu aku ketiduran sampai pagi. Aku lelah setelah ekstra,” jawab Sehun kala itu dengan wajah tak bersahabatnya.

“Hah, kau ini! Sudahlah, aku marah. Perbaiki dulu nilaimu, baru aku mau dekat denganmu lagi.” Saat itu, Hyori pergi begitu saja. Dan baru kembali saat nilai Sehun tertulis dengan tinta hitam lagi, tepat seminggu setelahnya.

Hyori menghembuskan nafasnya. Kini menepis senyumannya sendiri.

Andai saja di dunia hanya ada peristiwa yang menyenangkan. Tentu tidak akan ada kenangan menyedihkan.  Tapi takdir mencatat lain. Sore itu, dimana seharusnya mereka pergi bersama lagi ke kedai Kim-ahjumma. Kedai favorit mereka untuk makan mi ramen. Seharusnya mereka kembali berdiskusi—meski akhirnya selalu berujung pada debat tentang sesuatu yang tidak penting. Seharusnya mereka saling berbagi cerita tentang kampus  baru masing-masing. Seharusnya—tak akan pernah selesai jika membicarakan perumpamaan.

Yang jelas, sore itu semua rencana tak ada yang terlaksana. Hyori sempat menunggu berjam-jam hingga dua mangkuk mi ramen yang ia pesan ia habiskan sendiri—beserta dengan minumannya. Ia akhirnya pulang dengan kekesalan yang memuncak. Ia pikir, Sehun pasti lupa. Sehun pasti sedang menemui orang lain yang juga memiliki janji dengannya. Dan melupakan janji dengan dirinya. Pasti. Tak ada alasan lain.

Tapi semua perkiraannya salah. Ternyata Sehun berada di rumah sakit. Sedang menjalani operasi pencangkokan ginjal.

Pencangkokan ginjal? Ya tuhan, Hyori bahkan tidak tahu menahu mengenai penyakit apa yang diderita lelaki itu. Yang ia tahu, selama ini Sehun terlihat sangat sehat. Bagaimana mungkin ginjalnya divonis dokter telah rusak parah sehingga harus diganti? Ah, teman macam apa dirinya yang tidak mengetahui penyakit teman—bahkan sahabatnya sendiri?

“Sehun… operasi?”

Hanya pernyataan setengah tak percaya yang  terlontar dari mulutnya saat itu. Ia mendengarnya dari kakak Sehun, tepat saat ia menelepon lelaki itu. Semula hanya ingin mengomeli Sehun yang lupa pada janji mereka, tapi ia malah dibuat terkejut sendiri. Ia hanya bisa memegangi meja—menguatkan tumpuan kakinya yang goyah, sebelum berlari menuju rumah sakit tempat lelaki itu ditangani yang ia tahu dari kakak Sehun juga.

Hyori kembali menyentuh jendela itu. Dulu kalau dingin seperti ini, tangan Sehun yang hangat akan ada untuknya. Bagaimanapun akan membuatnya senyaman mungkin. Terlalu nyaman hingga gadis itu menganggapnya lebih dari sekedar  teman. Perasaannya sudah berubah sejak berbulan-bulan yang lalu. Dan ia baru menyadari, itu namanya cinta? Tapi… semua terlanjur terlambat. Benar-benar terlambat.

Hari itu, Dokter keluar dari ruangan operasi dengan wajah tak menentu.

“Maafkan saya, operasinya… gagal. Saudara Sehun tidak dapat diselamatkan.” Hyori sontak membelalakkan matanya waktu itu. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin dokter spesialis sehebat itu tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik?

“Dokter ini bagaimana? Anda malpraktek, ya? Selamatkan Sehun, Dok! Dia masih bisa selamat, kan?” seru Hyori tak jelas, menggoyangkan tubuh sang dokter. Ia hampir gila ketika logikanya tak mampu menerima jawaban dari akal sehatnya sendiri. Dunia seakan terbalik.

Dan yang dapat ia lakukan saat itu hanyalah menangis. Menangis tanpa ada ujung pangkalnya. Ia kembali mengingat semua kenangan indah bersama Sehun. Semuanya tidak dapat terulang lagi. Semuanya hilang ditelan waktu. Jika saja ia tahu kalau mereka tak bisa bersama lebih lama lagi, ia pasti akan memperlakukan Sehun lebih baik dari yang dulu. Ia tidak akan merengek minta ini-itu saat Sehun sedang tidak mood atau kantongnya sedang mengempis. Ia tidak mungkin mengomel hanya karena nilai Sehun buruk. Justru dengan sabar, ia akan membantu Sehun agar bisa memperbaiki nilainya di lain waktu. Tapi, sekali lagi, realita mengatakan sebaliknya.

“Sehun-ah, bangun! Bilang kalau ini hanyalah mimpi! Ya, kan? Hanya mimpiku, kan?” Isakan kecil bercampur seruannya menggema ketika ia melihat dengan gamblang bahwa wajah sahabatnya itu telah memucat.

“Kau jahat! Ke-kenapa… meninggalkanku sendirian? Aku… aku… “ Ucapan patah-patahnya waktu itu benar-banar memilukan hati. Salah. Sampai sekarangpun tak ada celah kosong di hati Hyori. Tetap penuh dengan memori bersama lelaki itu.

Hyori bergerak menuju meja nakas kamarnya yang terletak tak jauh dari jendela itu. Mengambil sebuah foto. Foto ketika ia dan lelaki yang kini telah tiada itu bermain di Sky Resort. Dengan melihat senyuman Sehun di foto itu, membuatnya kembali merenung. Benarkah sekarang Sehun sudah disisi Tuhan? Benarkah waktu itu operasinya gagal? Bahkan Hyori masih berada di ambang keraguan atas statement itu. Padahal sudah seminggu berlalu semenjak sore penuh duka itu. Tapi…. hei. Mereka masih sempat bertemu di kampus tanpa sengaja sebelum sore itu.

“Maafkan kesalahanku selama ini, ya, Hyori-ah,”

Ah! Benar. Waktu itu Sehun sempat meminta maaf padanya. Bodohnya dia yang malah tidak peka dan menganggap itu hanyalah lelucon. Seharusnya itu waktu terakhirnya. Untuk menyatakan perasaannya yang telah lama ia pendam. Ia menyukai Sehun. Bukan dalam konteks pertemanan atau mungkin persahabatan. Tapi lebih dari itu. Tapi, semuanya benar-benar telah berakhir.

Tes! Tanpa terasa, air mata Hyori menetes begitu saja. Ia tau, andaikan Sehun masih ada sekarang, lelaki itu akan menertawainya yang begitu mudah menangis. Tapi bukankah kenyataan telah berkata sebaliknya? Sehun sudah tiada.  Biarkan airmata itu menetes membasahi pipinya. Tak ada lagi yang akan membuatnya kesal dengan menertawainya. Tak ada lagi yang mau menghapus jejak kristal bening itu dengan jemarinya.

Jadi, biarkan saja. Lelaki itu akan menetap dalam hatinya. Karena semakin Hyori ingin melupakannya, bayangannya akan semakin menguar muncul ke permukaan. Membuat sakit hatinya sendiri adalah pilihan terbaik. Ia tak yakin waktu bisa menghapuskan segalanya. Sungguh tak yakin, mengingat sebanyak apa kenangan diantara mereka yang tak mampu ia hapus satu per satu dari memorinya.

Hyori membuka jendela kamarnya. Membiarkan angin dingin menyapa kulitnya. Menerbangkan helaian anak rambutnya.

“Sehun-ah, saranghaeyo,” gumamnya pelan.

Desir angin menjadi jawabnya. Ia memejamkan matanya. Menganggap desiran angin itu adalah jawaban Sehun dari surga untuk pernyataan gamblangnya tadi. Cukup sekali, tapi sarat makna. Dia mencintai Sehun. Tak peduli seburuk apapun konsekuensinya untuk hatinya yang terasa semakin perih. Ataupun perasaan lelaki itu yang sesungguhnya. Ia hanya ingin tetap bertahan mencintai lelaki itu. Apapun yang terjadi. Bukankah cinta juga tak harus memiliki?

Hyori tersenyum dengan mata yang terpejam. Ia sudah mendapatkan jawabnya sekarang.

Fict End.

Hm, akhirnya selesai juga. Ini dikarang dalam waktu satu jam. XD

Jadi maaf kalau hasilnya kurang memuaskan. Tapi tetep, comment is allow ^^